Oleh: Jumardi Putra
Bermula dari Bandara Sultan Thaha, Jambi. Rencana keberangkatan saya
menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang semula dijadwalkan, Senin, 5
Oktober 2026, pukul 14.45 WIB, terpaksa ditunda hingga lewat pukul 20.00 WIB.
Langit Tanah Pilih Pusako Betuah—Kota Jambi--malam itu memang pekat, tertutup
kabut asap—dampak dari kebakaran hutan dan lahan di tengah kemarau panjang yang
terjadi di beberapa daerah di wilayah Provinsi Jambi. Jarum jam menunjukkan
pukul 20.46 WIB ketika pesawat akhirnya lepas landas. Di dalam kabin pesawat
Garuda Indonesia, waktu terasa berjalan lambat. Niat awal ingin menonton
pertandingan final Piala FIFA ASEAN Cup 2026 antara tim nasional Indonesia melawan Thailand di
televisi, gagal lantaran masih berada di udara, melintasi langit Sumatera.
Namun, takdir rupanya juga mempertemukan saya dengan pemandangan lainnya
yang sarat makna. Sekira pukul 22.40 WIB, tatkala melangkah keluar dari lobi
penjemputan Bandara Soekarno-Hatta, beberapa pekerja bandara, petugas
kebersihan, dan buruh bagasi tampak berdiri terpaku. Mereka menonton
detik-detik akhir perjuangan Timnas melalui layar gawai di genggaman
masing-masing. Sejawat di sebelah saya berbisik bahwa skor pertandingan sempat
berimbang 2:2 hingga peluit akhir dan babak tambahan waktu usai.
Puncaknya terjadi seketika siaran ulang detik-detik penentu memancarkan
bola yang bersarang di jaring gawang lawan di babak pinalti. Meledaklah sebuah
kegembiraan kecil dan apa adanya. Tubuh-tubuh yang letih sontak melompat,
senyum merekah lebar tanpa beban, dan sorak-sorai tertahan tumpah ruah dari
lubuk hati mereka. Di hadapan layar gawai kecil itu, sejenak mereka melepaskan
lelah dari rutinitas harian yang berat, larut bersama dalam satu perayaan
kemenangan.
"Indonesia menang woiiiiii!" teriak salah seorang dari
mereka, yang langsung disambut tawa riang dan pelukan hangat oleh sejawatnya
yang lain.
Saya pun turut merasakan kelegaan yang sama setelah mengetahui dari mereka bahwa pencapaian ini sekaligus mengakhiri penantian panjang Timnas senior Indonesia yang sebelumnya enam kali menjadi runner-up di turnamen level Asia Tenggara sejak 1996, serta memutus puasa gelar tingkat senior selama 35 tahun sejak terakhir kali juara SEA Games 1991.
Di sinilah, menurut hemat saya, sepak bola menemukan arti tersendiri. Dalam perspektif kultural, apa yang terjadi di bandara malam itu memperlihatkan bagaimana si kulit bundar menjadi simbol solidaritas horizontal (horizontal solidarity). Di tengah tekanan hidup perkotaan, himpitan ekonomi, serta kepenatan rutinitas kelas pekerja, kemenangan Timnas seolah menjadi saluran pelepas penat (katarsis) yang paling mujarab.
Saya meyakini bahwa mereka tidak memerlukan teori pembangunan yang rumit
atau analisis taktik yang mendalam. Kehidupan sudah terlalu berat bagi mereka. Kendati
demikian, lambang Garuda di dada—entah sadar atau tidak, faktanya masih menjadi
representasi dari harga diri. Ketika timnas Indonesia menang, mereka seperti merasa
diakui dan dilibatkan sebagai bagian dari sebuah bangsa yang (katanya besar)—meski
setelah peluit akhir berbunyi, mereka harus kembali menatap realitas hidup
sehari-hari yang getir.
Namun, merenungkan sepak bola Indonesia dewasa ini selalu membawa kita
pada sebuah paradoks. Di satu sisi, rakyat di akar
rumput—mereka yang diuji oleh kabut asap dan bencana hidrometeorologi di
berbagai daerah di tanah air, atau mereka yang lelah mengais rezeki di bandara
dan jalanan kota (untuk menyebut contoh)—adalah pihak yang tekun merawat
nasionalisme kultural ini.
Di sisi lain, tata kelola olahraga di negeri ini kerap diwarnai oleh
komersialisasi dan kepentingan jangka pendek kelompok tertentu. Olahraga sering
kali direduksi menjadi sekadar panggung pencitraan atau komoditas praktis.
Alih-alih berfokus pada pembinaan usia dini yang adil, berjenjang, dan berbasis
meritokrasi, para pemangku kebijakan terkadang masih terjebak dalam pragmatisme
instan. Sulit menyangkal ada jarak yang terbentang lebar: antara ketulusan
rakyat yang merayakan kemenangan—baik yang menonton langsung di Gelora Bung Karno (GBK) maupun lewat
gawai di sudut-sudut bandara—dengan cara kaum elit mengelola industri sepak
bola itu sendiri.
Autokritik ini hadir bukan untuk meruntuhkan kegembiraan, melainkan agar
kita tetap berpijak pada realitas. Kemenangan-kemenangan di lapangan hijau
semestinya menjadi titik balik: mengembalikan sepak bola ke pangkuan
rakyat yang mencintainya, serta menjauhkannya dari cengkeraman
transaksional politik dan hal-hal yang membuat sebagian atlit olahraga cepat
jatuh—sebelum benar-benar tumbuh hingga ke leval tertinggi sebagai wujud dari profesionalisme olahraga-- oleh karena racun popularitas berbalut ekonomi.
Sebab, selama warga pecinta bola kaki di akar rumput masih sanggup merajut asa di tengah segala
keterbatasan, masa depan sepak bola Indonesia tidak pernah benar-benar gelap.
Ia hanya sedang menanti tata kelola yang bersih, berpihak, dan membumi.
Dan itu semua meniscayakan kehadiran para pengurus atau pengelolan yang berintegritas,
kompeten, serta bersungguh-sungguh memperbaiki kualitas sepak bola tanah air. Semoga.
*Jakarta, 6 Oktober 2026. Sumber foto: mercinews.com

0 Komentar