Semestinya Tak Perlu Terjadi Pada Aqib


Oleh: Jumardi Putra

Publik masygul. Kematian Muhammad Hasbi Al-Aqib (7 tahun), seorang murid kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, menambah daftar panjang korban yang diduga mengalami tindakan kekerasan di lingkungan sekolah. Sebagai sesama orang tua, saya benar-benar tak habis pikir, mengapa hal ini terjadi berulang? Seharusya hal ini tidak perlu terjadi pada Aqib atau anak siapapun.

Aqib—bocah laki-laki yang tengah bersemangat menikmati masa-masa awal belajarnya di sekolah—harus berpulang secara tragis setelah diduga menjadi korban pemalakan, perundungan (bullying), serta kekerasan fisik berupa pukulan dan tendangan oleh kakak kelasnya. Kepergian Aqib setelah sempat berjuang melawan sakit akibat luka yang dialaminya menyisakan kepedihan yang teramat dalam bagi keluarga yang ditinggalkan (30/9/2026).

Di tempat lain, dugaan kekerasan serupa kembali mencuat di lingkungan asrama SMA Titian Teras, sebuah sekolah unggulan di Provinsi Jambi. Peristiwa yang diduga melibatkan sejumlah siswa senior pada Minggu malam, 20 September 2026, tersebut kini telah resmi dilaporkan dan dalam proses penanganan aparat penegak hukum.

Membaca dua peristiwa di daerah berbeda ini, dada terasa sesak. Kata-kata seolah menguap, menyisakan tanya yang mengiris: betapa pahitnya realitas hari ini? Institusi pendidikan yang diandalkan orang tua untuk menitipkan masa depan anak, justru berisiko menjadi tempat berakhirnya nyawa atau runtuhnya mental seorang anak manusia.

Sebagai seorang ayah yang setiap pagi melepas anak mengenakan seragam sekolah, membaca berita tragis tentang Aqib mendatangkan rasa ngeri yang merayap di dada. Namun, kenyataan pahit yang merenggut nyawa Aqib dan apa yang terjadi di SMA Titian Teras mengubah rasa percaya itu menjadi kecemasan yang nyata. Saya yakin, rasa gentar ini turut dirasakan oleh banyak orang tua di luar sana.

Bagaimana tidak? Setiap pagi para orang tua menitipkan anak-anaknya dengan harapan mereka ditempa menjadi manusia yang cerdas dan berbudi. Tapi bayangan bahwa di balik tembok-tembok sekolah atau kamar asrama, ada senior-senior yang menebar teror, melakukan perundungan, atau kekerasan fisik yang dibiarkan atau terabaikan oleh sistem, membuat hati orang tua terasa diiris-iris.

Ambil misal, ketika seorang anak pulang sekolah dengan tangis luka, menyembunyikan rasa sakit di hadapan orang tua demi menepis cemas—atau lebih mengerikan lagi, tidak pernah kembali pulang selamanya seperti Aqib—di situlah seluruh mimpi orang tua hancur berkeping-keping. Sekolah yang seharusnya menjadi kawah candradimuka masa depan, berubah menjadi mimpi buruk yang merenggut nyawa sekaligus martabat sebagai anak manusia.

Sebagai orang tua, kita diingatkan untuk tidak lagi hanya sekadar melepas anak dengan doa tanpa pengawasan kritis. Kita perlu bersama-sama mendorong pihak sekolah untuk membuka mata lebar-lebar: Jangan ada lagi kompromi atas nama tradisi senioritas, kekerasan, dan/atau pembiaran terselubung! Perlindungan terhadap anak-anak harus menjadi atensi mutlak, mengingat kasus kekerasan antar sesama siswa terus berulang dari waktu ke waktu.

Meskipun sebagian pihak kerap menyebut kasus-kasus seperti ini bersifat kasuistis, realitasnya kekerasan berulang dengan pola yang sama masih kerap terjadi di sekolah di berbagai daerah. Ini bukan sekadar masalah kenakalan remaja, melainkan alarm darurat bagi ekosistem pendidikan kita.

Kematian Aqib dan kasus kekerasan di SMA Titian Teras adalah duka bersama yang mengetuk nurani kita untuk duduk bersama, merefleksikan diri, dan menuntut pertanggungjawaban nyata dari berbagai elemen.

Pihak Sekolah (Negeri Maupun Swasta) harus menghentikan budaya omertà (tutup mulut) dan pembiaran berkedok "pembinaan senior". Sekolah wajib membangun sistem pengawasan yang ketat, transparan, dan berakar pada perlindungan anak, bukan sekadar menjaga gengsi institusi.

Begitu juga bagi pengambil kebijakan di dunia pendidikan, mulai dari level bawah sampai ke tingkat paling tinggi, sesuai urusan dan kewenangan penyelenggaraan satuan pendidikan. Negara tidak boleh lagi bersikap reaktif hanya ketika jatuh korban jiwa. Regulasi yang tegas, evaluasi berkala terhadap iklim psikologis sekolah, serta sanksi yang memberikan efek jera adalah harga mati demi keselamatan anak-anak kita.

Segendang sepenarian, peristiwa ini adalah panggilan bagi kita semua—terutama guru dan para orangtua-- untuk menjadi mata dan telinga bagi anak-anak. Keberanian anak untuk melapor harus disambut dengan pendengaran yang utuh, empati yang tuntas, dan tindakan nyata dari pihak-pihak terkait.

Tragedi Aqib telah usai di dunia yang fana, meninggalkan kesedihan tak terperi di hati keluarganya. Kejadian ini semestinya menjadi bahan evaluasi yang mendalam bagi kita semua untuk bersama-sama berbenah, merapatkan barisan, dan menyatakan perang terhadap segala bentuk kekerasan yang terjadi di ruang-ruang belajar anak-anak kita.

Jangan biarkan sekolah menjadi tempat yang menakutkan. Mari kita pastikan bersama, tak perlu lagi ada korban seperti Aqib di kemudian hari.

*Jakarta, 7 Oktober 2026.

Sumber berita peristiwa: https://kumparan.com/kumparannews/kronologi-tewasnya-siswa-kelas-2-sd-di-pemalang-diduga-dirundung-kakak-kelas-28ITVvvuYDo/full, https://www.dpr.go.id/kegiatan-dpr/berita/Legislator-Desak-Polisi-Kawal-Kasus-Dugaan-Kekerasan-Siswa-SD-Pemalang-Secara-Transparan-69781 dan https://jambiindependent.disway.id/metronews/read/718371/siswa-sma-titian-teras-jambi-diduga-dikeroyok-senior-ortu-pilih-lapor-ke-polisi/15 


*Tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:

1) Poret Butam Pendidikan Jambi

2) Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari

3) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik

4) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita

5) Guru dan Protokol Pejabat yang Bikin Ribet

6) 
Mimbar Akademik Kampus, Sebuah Autokritik

7) Wajah Buram Kampus, Buku dan Uang Palsu

8) Ilusi Yang "Terhormat"

9) Kegenitan Intelektual

10) Kemalasan Intelektual

11) Rumah Pemikir, Inkubator Pemimpin

12) Merawat Tradisi Akademik: Oase dari Mandalo

13) Sarjana Organik

14) Karlina Supelli dan Tunabaca Generasi

16) Menemukan Kembali "Ruh" Menjadi Dosen

17) Darurat Demokrasi: Memaknai Persinggungan Cendekiawan dan Politik

18) Gundah Bersama Seorang Guru Besar

Posting Komentar

0 Komentar