Merah Padam Matahari



Oleh Jumardi Putra

 

Kita sering kali baru menghargai udara ketika ia telah berubah menjadi racun, dan baru merindukan kehangatan matahari ketika ia tak lagi seperti biasanya.

 

Langit pagi galibnya datang dengan sapuan biru muda yang tidak menyilaukan mata, berpadu dengan bias keemasan matahari yang perlahan naik memeluk bumi. Namun, sudah sebulan ini pemandangan itu lenyap di langit kota tempat saya bermastautin, direnggut oleh kabut asap yang menyesakkan. Di luar jendela, kabut asap menggantung rendah, mengubah lanskap kota menjadi kanvas monokrom yang muram. Udara terasa berat di dada, membawa aroma khas jerebu sisa pembakaran yang menusuk hidung dan mengingatkan pada kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sebelas tahun yang lalu (2015).

Jika dirasa tak penting-penting amat (selain urusan kantor dan pergi ke pasar untuk membeli keperluan dapur sehari-hari), kami sekeluarga memilih berdiam di rumah. Putra bungsu saya sebulan terakhir ini jarang keluar rumah, kendati teman-temannya mengajak bermain sepeda di sore hari. Si bungsu dan sulung lebih banyak belajar jarak jauh (daring) sebulan terakhir ini lantaran kualitas udara di Kota Jambi sedang tidak baik-baik saja. Sesekali saya memantau indeks kualitas udara di Kota Jambi dan sebaran titik-titik api (hotspot) kebakaran hutan dan lahan di wilayah Provinsi Jambi melalui gawai dan berita di televisi. Di era surplus informasi sekarang, bila kurang cermat, simpang siur konten seputar Karhutla di pelbagai kanal media sosial justru bisa menambah pusing kepala.

Meskipun kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sekarang belum separah tahun-tahun sebelumnya (2015), ia tetap saja sebuah alarm tanda bahaya yang mendatangkan mudarat jika tidak ditangani secara serius. Saya berterima kasih kepada semua pihak, terutama yang berada di garis depan bekerja memadamkan api di lahan dan hutan yang terbakar. Tugas ini jelas bukan perkara mudah karena kebakaran jamak terjadi di wilayah yang sulit dijangkau oleh pelbagai moda transportasi. Sebulan terakhir ini saya juga melihat beberapa helikopter pengangkut air lalu-lalang terbang di langit Jambi. Faktanya, kabut asap belum sepenuhnya sirna.

Kendati masih diselumiti kabut asap, sore tadi saya memutuskan keluar rumah mengendari motor menyusuri jalanan dari arah Jalan Sari Bakti, Kelurahan Beliung, menuju kawasan Tepian Tanggorajo dan Jembatan Gentala Arasy, tak jauh dari Rumah Dinas Gubernur Provinsi Jambi, lalu meluncur ke Telanaipura sebelum kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, pemandangan kota tampak muram. Pepohonan di pinggir jalan seolah kehilangan kontras hijaunya, terendam dalam kabut tipis berbau jelaga.

Puncaknya adalah ketika senja mulai merayap turun. Matahari, sang penguasa siang yang biasanya tenggelam dalam gradasi jingga dan ungu yang menenangkan, bergeser menjadi bola api merah padam. Tanpa pendar yang menyilaukan, ia tampak telanjang dan menyala garang di balik pekatnya asap. Langit di atas tepian Sungai Batanghari itu tidak lagi merona hangat seperti biasanya, melainkan tampak seolah berdarah.

Melihat matahari merah padam di tengah kepungan kabut asap itu, pikiran saya dipaksa melayang jauh melampaui batas pandang fisikal. Fenomena alam ini, menurut hemat saya, bukan sekadar tentang pergantian cuaca biasa atau dampak El Nino, melainkan metafora paling jujur tentang apa yang sedang kita lakukan terhadap rumah kita sendiri: bumi.

Saya tak perlu menulis ulang di sini perihal parahnya ekosistem hutan dan lingkungan negeri ini. Banyak laporan hasil penelitian dari pelbagai lembaga dalam dan luar negeri, maupun liputan jurnalistik seputar kondisi hutan yang rusak karena isinya terus menerus dieksploitasi dalam rentang waktu yang lama untuk aktivitas tambang batubara, perkebunan sawit monokultur, hingga Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)—untuk menyebut beberapa contoh.

Di ruang-ruang siaran televisi dan beranda berita media mainstream, sudah begitu banyak lembaga yang menayangkan data luas hutan dan lahan yang terbakar: ribuan hektar hangus, membentang dari konsesi perkebunan hingga merangsek ke kawasan-kawasan konservasi penting. Kian ke sini, si jago merah bahkan telah membakar kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS)--untuk menyebut salah satu contoh--sebuah kawasan konservasi lahan basah terluas di Asia Tenggara dengan perpaduan ekosistem hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan hutan mangrove.

Di tengah kepungan karhutla sekarang ini, kita patut merenung tajam, melayangkan gugatan nurani kepada para pengambil kebijakan dan para pemilik modal di sektor kehutanan serta perkebunan serta tak luput masing-masing kita sebagai individu warga: Apa arti dari deretan angka luas lahan dan status "paru-paru dunia" itu jika kita sendiri membiarkan jantung bumi mati perlahan akibat kelalaian, pembiaran, dan kerakusan korporasi?

Kepada para pembuat kebijakan, bencana berulang ini adalah ujian integritas: apakah regulasi tata kelola lingkungan dan penegakan hukum hanya menjadi macan kertas di atas meja, sementara di lapangan ekosistem hancur lebur? Dan kepada para pengusaha perkebunan serta kehutanan, keuntungan bisnis yang diraup tidak akan pernah sebanding dengan harga nyawa, kesehatan anak-anak maupun lansia yang terenggut, serta masa depan generasi yang dikorbankan di bawah kepulan asap beracun.

Bila tidak terjadi perubahan fundamental dalam cara kita memperlakukan alam, maka bukan sesuatu yang mustahil masa depan manusia dihadapkan pada sebuah situasi yang mengkhawatirkan: kita semua akan berjalan meraba-raba mencari jalan keluar di tengah kabut asap yang menyulitkan kita melangkah cepat menuju arah yang dituju. Dalam situasi ini, rakyat biasa—yang tak punya kuasa dan konsesi—selalu menjadi tumbal pertama yang paling menderita.

Lebih dari sekadar bencana ekologis, matahari merah padam yang saya saksikan dari Tepian Tanggorajo sore tadi adalah cerminan dari kemarahan alam yang terpendam. Alam telah lama menjerit dalam sunyi, namun jeritannya diredam oleh kesibukan manusia yang tak pernah usai mengejar materi.

Ketika warna-warni merona langit saban hari—simbol kedamaian, keseimbangan, dan kehidupan—digantikan oleh warna merah menyala yang menakutkan, itu adalah bahasa isyarat yang paling keras. Alam sedang memperingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Merah itu—dalam makna alternatif—bukan lagi romansa senja yang romantis, melainkan tanda bahaya, sebuah alarm kosmik bahwa bumi sedang demam tinggi akibat ulah penghuninya sendiri.

Semoga Karhutla serta kabut asap segera sirna dan digantikan oleh angin perubahan yang menyegarkan. Agar hari-hari esok, di bawah langit Kota Jambi yang kembali benderang, kita tidak lagi khawatir menghirup udara, melainkan merasakan kehangatan jingga dari bumi yang akhirnya bisa bernapas lega.


*Kota Jambi, 4 Oktober 2026. Foto di awal tulisan merupakan ilustrasi.

*Tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:

1. Politik Anggaran Darurat Karhutla

2. Kabut Asap, Inikah Kita?

3. Kabut Asap dan Ekonomi Tunabudaya

4. Kabut Asap di Tanah Pilih: Sepilihan Pantun

5. Barangkali Kita Memang Harus Berduka

6. Kabut Asap di Rumah Tuhan

7. Corona Berjalan Ke Rumah Kita Melalui Pintu Depan sebagai Monster

8. Sacred Nature: Menemukan Akar Krisis Modern

9. Batu Bara di Jambi sebagai Persoalan Kebudayaan

10. Polemik Batu Bara dan Hal-Hal yang Tak Selesai

11. Bencana Alam, Investasi dan Malapetaka yang Menghantui

12. Deforestasi dan Bencana di Jambi

13. Belajar dari Batu Kerbau

14. PETI dan Eco-pedagogy

15. Ekowisata dan Hutan Desa Lubuk Beringin

16. Menanam untuk Kesempurnaan Hidup

Posting Komentar

0 Komentar