Oleh: Jumardi Putra
Mengajar adalah memindahkan pengetahuan, tetapi menjadi guru berarti menghidupkan teladan yang terus menuntun langkah muridnya di sepanjang jalan hidup.
Dua minggu yang lalu, lini masa
grup WhatsApp alumni Pesantren
Tebuireng angkatan 2001–2004 riuh oleh doa-doa yang dipanjatkan. Kabar
berhembus bahwa beliau—Ustadz Nadjib Muhammad, guru yang pernah menempa
hari-hari remaja kami—tengah berjuang melawan sakit di sebuah rumah sakit di
Kota Jombang. Sebagai santri, kami mengirim doa sekaligus menaruh harapan akan
adanya keajaiban kesembuhan bagi beliau.
Namun, garis tangan Yang Maha
Kuasa menetapkan takdir yang lain. Pagi ini, Sabtu, 3 Oktober 2026 atau 21 Rabi'ul Akhir 1448 H, melalui bilik perpesanan WhatsApp serupa, berita kepulangan pria kelahiran Bangkalan, 26 September 1962, yang menghembuskan napas terakhirnya
menyisakan keheningan dan duka yang teramat dalam bagi saya pribadi dan tentu
saja santri lainnya.
Jarak yang begitu jauh membentang antara saya di Kota Jambi—tempat saya kini mukim dan bekerja—dan almarhum di Jombang kian menyayat rasa kehilangan ini. Jarak memisahkan raga, tetapi memori batin justru menarik saya kembali ke masa-masa ketika beliau bukan sekadar sosok yang duduk secara lansung di depan saya menerangkan matan maupun syarah pelbagai kitab (sorogan) atau rumus-rumus pelajaran formal di bangku kelas Madrasah Aliyah (SMA sederajat). Bagi saya, beliau adalah salah satu fondasi awal yang membentuk cara pandang hidup, terutama saat memilih belajar jauh dari orangtua.
Madrasah Kemandirian
Terekam kuat dalam ingatan,
beliau boleh dikata salah satu mentor yang membuka pintu gerbang kemandirian
jauh sebelum dunia luar mendidik saya tentang kerasnya realitas. Di antara
ratusan santri yang lalu-lalang di kompleks pesantren (Komplek F Al Falah, tepat di sebelah
kiri Masjid Pesantren Tebuireng), saya dipercaya penuh oleh beliau untuk menjual
dagangannya: pisang molen goreng hangat yang dijajakan di kalangan santri
selepas pulang sekolah dalam kurun waktu 2002–2004.
Amanah kecil itu terasa
begitu bermakna, seakan menyambung bekal kedisiplinan serupa yang sebelumnya
saya peroleh saat dipercaya mengelola toko dan koperasi di Pesantren Modern
Darussalam Sungai Mancur, Bungo-Jambi (1999–2001). Dari bilik-bilik pesantren
itulah, pengalaman mengurus hal-hal konkret mulai menumbuhkan mental tangguh
dalam diri saya sekaligus mengenalkan dasar-dasar manajemen.
Menjalankan amanah itu
memberikan pengalaman yang luar biasa. Di sanalah saya menimba pelajaran
berharga tentang keikhlasan, kerja keras, dan ketelatenan. Kendati dagangan
pisang molen goreng itu sering ludes, ada hari-hari di mana saya harus menelan
kenyataan pahit mengalami kerugian karena uang dari pembeli tidak terkumpul
sebagaimana mestinya. Namun, di titik-titik itulah beliau mendidik mental saya
secara perlahan—mengajarkan bahwa jatuh bangun dalam mencari rezeki adalah
bagian dari madrasah kehidupan yang sesungguhnya. Betapapun beliau sesekali
mengingatkan para santri agar berhati-hati menjaga setiap amanah konsumsi, saya
yakin keikhlasan selalu menyertai setiap langkahnya kala itu.
Sebagai seorang pendidik, karakter beliau adalah sebuah perpaduan yang langka: tidak ada kompromi terhadap kedisiplinan dan prinsip moral. Mereka yang belum mengenal beliau mungkin bakal menyimpulkan sosoknya angker—untuk menyebut tegas. Namun, ketegasan itu tidak pernah terasa menakutkan, karena selalu dibalut dengan ketulusan hati. Beliau adalah sosok yang gigih, tak pernah memperlihatkan kelelahan di hadapan para santrinya, mendedikasikan seluruh waktunya untuk memastikan kami tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak.
Kenangan bersama beliau
ternyata jauh melampaui bilik kelas dan urusan niaga pisang molen. Saya
menyimpan kisah yang takkan pernah lekang oleh waktu: ketika beliau mengajak
saya bersama dua santri lainnya, Agus dan Ilham, untuk menghabiskan liburan
Lebaran Idul Fitri di kampung halaman orangtuanya di Madura pada rentang tahun
2002–2003.
Selama di sana, kami tidak
hanya menikmati waktu libur, tetapi ikut meramaikan mushalla atau langgar di
dekat rumah orang tuanya, berinteraksi langsung dengan warga setempat, dan
sesekai menepi di bibir pantai yang belum tersentuh oleh kapitalisme
pariwisata. Berbincang dan belajar singkat tentang kultur masyarakat Madura
dengan segala keunikan, tradisi, keteguhan budaya, serta keramahannya—sebuah
wawasan sosiologis dan kultural yang takkan pernah bisa saya temukan di bangku
sekolah formal mana pun.
Lama tak Berjumpa
Waktu terus bergulir membawa arus kehidupan masing-masing setelah saya menamatkan jenjang Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi'iyah (MASS/SMA sederajat) pada tahun 2004, lalu melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Sejak itu, guliran waktu membuat kami tak pernah berjumpa lagi, hingga medio 2018—setelah belasan tahun berlalu—saya berkesempatan berkunjung kembali ke Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur.
Di sanalah takdir mempertemukan saya kembali dengan beliau, setelah sebelumnya saya mengunjungi kompleks sekolah Madrasah Aliyah, yang hanya berjarak sepelemparan batu dengan Masjid Jami' Ulul Albab dan SMP K.H. Wahid Hasyim. Sebuah perjumpaan yang begitu melegakan dan mengharukan. Saya senang sekali karena beliau masih terlihat sehat dan senyumnya tetap hangat. Kami pun berpelukan erat, dan saya diajak langsung ke rumahnya yang berlokasi di Diwek, tidak jauh dari lokasi maqbarah K.H. Asy'ari di Desa Keras.
Tidak ada perubahan drastis
darinya. Beliau hidup sederhana bersama keluarga. Kami pun berbagi cerita
tentang kesibukan masing-masing. Dari kediamannya, langkah saya berlanjut ziarah spiritual ke makam K.H. Asy'ari—ayahanda dari Hadratussyaikh
K.H. Hasyim Asy'ari, sang pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Lantaran waktu yang terbatas, dari maqbarah K.H. Asy’ari, saya melanjutkan langkah ke Masjid Ulul Albab, kampus Universitas Hasyim Asy'ari (UNHASY), dan dipungkasi dengan nostalgia ke kawasan Pabrik Gula Cukir (Tjoekir). Di tempat itu tersimpan banyak kenangan masa santri: mulai dari kisah santri yang jatuh cinta namun malu-malu, warung penuh memori milik Mbak Narti, hingga dinamika pesantren asuhan almaghfurlah K.H. Adlan Aly serta pesantren-pesantren kecil lainnya di sekitar Tebuireng dan Cukir. Rangkaian momen menyusuri tanah pusaka Tebuireng dan bersua kembali dengan Guru Najib kini berputar di kepala, menjelma sebagai kenangan termahal dalam hidup saya.
Kini, Ustadz Najib telah
benar-rebar pergi meninggalkan orang-orang yang dicintainya, termasuk para
santri yang pernah dididiknya. Aroma pisang molen di lorong kompleks pesantren,
tawa khas dan aktivitasnya di langgar Madura, langkah ziarah yang tenang di bumi sakti Tebuireng,
serta ketegasan dan ketulusan ilmunya telah menyatu menjadi denyut nadi dan
arah hidup para santrinya.
Dari beliau, saya memetik
pelajaran bahwa mendidik bukan sekadar mentransfer ilmu di atas papan tulis,
melainkan menanamkan nilai ketelatenan, merawat kepercayaan, dan menempa mental
anak didik lewat benturan realitas yang jujur.
Selamat jalan, Guru. Terima
kasih atas kepercayaan, didikan keras yang penuh kasih, dan kenangan indah yang
telah engkau ukir dalam lembaran hidup kami, para santrimu. Semoga Allah
menerima segala amal ibadah dan baktimu, mengampuni segala khilaf dan dosa,
serta menempatkanmu di surga terindah di sisi-Nya. Doa yang sama juga
kuhaturkan buat para Kiai dan guru-guru di Pesantren Tebuireng lainnya. Amin.
*Kota Jambi, 3 Oktober 2026.
*Tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:
1. Dari Empelu ke Jombang dan Yogyakarta
2. Dari Kota Surabaya ke Tebuireng Jombang
3. Gus Dur: Santri, Politisi dan Pemikir
4. Suara Teduh dari Bilik Pesantren
5. Menziarahi Khadratussyaikh K.H. Hasyim Asy'ari
6. Dawuh K.H. Abdul Hakim Mahfudz, Suatu Pagi
7. Bangkit dari Tidur Panjang: Sejarah Majalah Tebuireng 1986
8. Sepotong Kisah Mencintai Kekasih Allah
9. Khutbah "Sayur Bening" Kang Chairil
0 Komentar