Oleh: Jumardi Putra
Kebijakan publik tidak cukup dinilai dari seberapa cepat instruksi eksekutif diketok atau seberapa rapi data before-after disajikan dalam laporan resmi. Hambatan struktural, distorsi birokrasi tingkat bawah, dan dinamika pasar yang kompleks menuntut agar efektivitas sebuah "solusi" harus terus diuji secara berkala melalui kontrol sosial yang independen.
Di jagad literasi tanah air, buku berjudul Presiden Solusi: Problem Solving Ala Prabowo Subianto sempat ramai dipercakapkan di awal kehadirannya. Respons publik patut diapresiasi, baik berupa kritik tajam maupun tanggapan positif atas karya trio penulis yang lekat dengan lingkaran kekuasaan saat ini: Muhammad Qodari, Dirgayuza Setiawan, dan Agung Gumilar Saputra
Buku yang pertama
kali saya terima berkat pemberian seorang sejawat bernama Ilham ini merangkum
108 langkah penyelesaian masalah (problem solving) dari rezim Kabinet
Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden
Gibran Rakabuming Raka pada fase awal konsolidasi kekuasaan (18 bulan pertama).
Di tengah kejenuhan
publik terhadap panggung politik yang kerap dipenuhi retorika, janji manis, dan
perdebatan slogan, buku yang diberi kata pengantar oleh Denny JA (Pendiri LSI/konsultan politik, sekarang menjabat Komisaris di salah satu BUMN) ini diklaim membawa penyegaran: sebuah narasi tentang
negara yang hadir langsung menyelesaikan persoalan keseharian rakyat. Walakin,
galibnya sebuah produk literatur kebijakan publik, buku ini tentu mengandung
dua sisi mata uang yang perlu dibedah secara kritis.
Pragmatis dan Visual
Secara sosiologis
dan teoretis, buku ini merefleksikan pendekatan yang dalam studi kebijakan
publik dikenal sebagai Pragmatic Decision-Making. Pemerintah tampak
ingin menghindari jebakan birokrasi yang lamban—untuk tidak menyebut
bertele-tele—serta perdebatan teoretis yang menjemukan. Melalui 108 kebijakan
lintas sektor—mulai dari distribusi pupuk, kelangkaan LPG, hingga pembenahan
akses pendidikan dasar—pemerintah berupaya menonjolkan orientasi hasil cepat (quick
wins).
Buku ini didesain untuk membumikan isu-isu struktural yang rumit menjadi persoalan konkret yang kasatmata. Dengan pendekatan visual dan komparasi before-after (sebelum dan sesudah kebijakan), pembaca disuguhi klaim bahwa efektivitas pemerintahan harus diukur dari seberapa cepat keran air pertanian mengalir atau seberapa murah harga pangan di tingkat akar rumput. Ini adalah strategi komunikasi politik berbasis bukti visual yang efektif untuk merawat performance legitimacy di hadapan publik luas.
Kendati demikian, membaca Presiden Solusi menuntut kacamata kritis. Sebagai karya yang ditulis oleh orang-orang di ring satu kekuasaan, buku ini tidak bisa dilepaskan dari risiko affirmative bias. Narasi yang dibangun secara alami cenderung menonjolkan capaian maksimal, sementara celah kegagalan, resistensi birokrasi, atau kebijakan yang menemui jalan buntu tersisih dari panggung halaman.
Lebih dari itu, ujian terberat dari sebuah solusi jangka pendek adalah daya tahannya di masa depan (long-term sustainability). Kalangan pengamat kebijakan publik kerap mengingatkan bahwa intervensi kilat kerap kali bersifat reaktif atau sekadar tambal sulam (patchwork). Muncul pertanyaan mendasar: apakah 108 solusi tersebut bertransformasi menjadi sistem yang ajek secara struktural, ataukah ia sekadar instrumen meredam riak sosial jangka pendek yang rentan goyah di hadapan krisis fiskal global?
Bagi kalangan
akademisi maupun pemerhati kebijakan publik, optimisme di dalam buku ini tidak
boleh diterima begitu saja. Klaim atas 108 solusi tersebut tetap membutuhkan
audit, pengawasan, serta evaluasi independen. Sebab, sebaik-baiknya buku
kebijakan bukanlah yang menceritakan betapa indahnya sebuah eksekusi, melainkan
yang sanggup bertahan diuji oleh waktu, kritik, dan kenyataan praksis di
lapangan.
Kesenjangan di Lapangan
Dalam diskursus
kebijakan publik, klaim keberhasilan atas program aksi cepat (quick wins)
sering kali berbenturan dengan realitas empiris. Pelbagai temuan investigasi
media dan catatan kelompok masyarakat sipil menunjukkan adanya jurang (implementation
gap) antara narasi sukses di atas kertas dengan kondisi faktual di empat
sektor—untuk menyebut contoh krusial berikut:
Pertama, sektor
pertanian (distribusi
pupuk subsidi): Pemerintah mengklaim telah memangkas birokrasi dan menyelesaikan
kelangkaan pupuk secara instan. Namun, di berbagai daerah sentra, petani masih
mengeluhkan kendala kartu tani, antrean panjang, kuota yang tidak sebanding
dengan luas lahan, hingga disparitas Harga Eceran Tertinggi (HET) di tingkat
kios pengecer.
Kedua, sektor
energi (kelangkaan LPG 3 kg):
Buku ini menyoroti langkah taktis penataan subsidi energi agar tepat sasaran.
Kenyataannya, kelangkaan gas melon 3 kg secara berkala masih kerap terjadi.
Kebijakan pengetatan di lapangan justru memicu panic buying, lonjakan
harga di warung kelontong yang melampaui HET, serta rantai birokrasi yang
menyulitkan pelaku UMKM.
Ketiga, sektor pendidikan (sekolah rakyat dan
fasilitas dasar): Percepatan penyediaan akses pendidikan lewat perbaikan
sekolah dan inisiatif "Sekolah Rakyat" didengungkan sebagai solusi
kilat. Namun, praktisi pendidikan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan
Terluar) kerap menyanggah efektivitas ini dengan menunjukkan masih banyaknya
bangunan sekolah rusak berat, minimnya rasio guru honorer yang layak, serta
ketiadaan akses internet yang merata.
Keempat, sektor
ekonomi mikro (penanganan pengangguran dan phk): Di tengah gelombang pemutusan
hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur dan tekstil, para pekerja sering kali
menghadapi kenyataan bahwa program jaring pengaman sosial atau pelatihan alih
keterampilan (reskilling) tidak serta-merta terserap oleh pasar kerja
lokal yang lesu, menyisakan persoalan pengangguran terbuka yang membutuhkan
solusi struktural jangka panjang.
Merujuk Ted
Sorensen, Asisten Khusus Presiden John F. Kennedy, pernah menulis bahwa ia
memiliki obligation to history—kewajiban kepada sejarah. Menurut
Sorensen, ketika seseorang berkesempatan menyaksikan secara langsung peristiwa
penting dalam kehidupan sebuah bangsa, ia memiliki tanggung jawab untuk
mencatatnya agar sejarah tidak diisi oleh spekulasi atau prasangka semata.
Semangat inilah yang melatarbelakangi tiga penulis buku ini menghadirkan Presiden
Solusi—sebuah catatan dari mereka yang berada di dalam ruang pengambilan
keputusan mengenai fokus dan determinasi Presiden Prabowo dalam mencari solusi
cepat atas berbagai masalah rakyat.
Namun pada
akhirnya, gap antara klaim keberhasilan dan realitas di lapangan
menegaskan bahwa sebuah kebijakan publik tidak cukup dinilai dari seberapa
cepat instruksi eksekutif diketok atau seberapa rapi data before-after
disajikan dalam laporan resmi. Hambatan struktural, distorsi birokrasi tingkat
bawah, dan dinamika pasar yang kompleks menuntut agar efektivitas sebuah
"solusi" harus terus diuji secara berkala melalui kontrol sosial yang
independen.
Sejarah yang
sesungguhnya tentu tidak ditulis di atas meja kekuasaan semata, melainkan diuji
oleh waktu dan kenyataan praksis di tengah masyarakat.
*Kota Jambi, 2 Oktober 2026.
*Tulisan-tulisan saya lainnya dapat dibaca melalui link berikut ini:
1) Menerka Arah Perubahan APBD Jambi 2026
2) Politik Anggaran Karhutla Jambi
3) Surat Terbuka Untuk Komisaris Utama Bank Jambi
5) Menyoal "Obesitas" Belanja Pegawai Daerah
6) Peta Jalan Belanja Infrastruktur Daerah Jambi
8) Dibobol Siber: Tanggungjawab Bank Jambi atau LPS?
9) Utang Belanja dan Nasib Pelayanan Publik di Tingkat Tapak
10) Turbulensi APBD Jambi 2026
11) APBD Anjlok: Meneroka Kebijakan Dana Transfer 2026
12) Reformasi Birokrasi Pemerintah Provinsi Jambi
15) Imajinasi Jambi 2045: Sebuah Autokritik
16) Transformasi Kepemimpinan Pengeloaan Keuangan Daerah Jambi
17) Asta Cita dan Beban Berat APBD Jambi 2025
18) Menavigasi Visi APBD Jambi Pasca Efisiensi
19) Quo Vadis APBD Jambi 2019-2024?
20) MCP 2024 Merosot, Al Haris Berang
22) Anomali Pembangunan Provinsi Jambi 2023
23) Beban Belanja Infrastruktur Jambi MANTAP 2024
24) Di Balik Gaduh Mendahului Perubahan APBD Jambi 2023
25) Medan Terjal Tahun Berjalan APBD Jambi 2023
26) Menyoal Proyeksi APBD Jambi 2024
27) Gonjang Ganjing Defisit APBD Jambi 2023
28) Potret Buram Daya Saing Daerah Jambi 2022
30) Setahun Jambi Mantap Al Haris-Sani: Sebuah Timbangan
31) Palu Godam Hakim Artidjo Alkostar
32) Duh Gusti, Makin Astaga Saja Negeri Ini
33) Amuk Dompeng
34) Surat Terbuka Untuk Anggota DPR RI Dapil Jambi
35) Pandemi Covid-19 di Jambi, Surat Terbuka untuk Gubernur Jambi
36) Polemik Angkutan Batu Bara di Jambi dan Hal-hal Yang Tidak Selesai
37) Batu Bara Sebagai Persoalan Kebudayaan, Sebuah Autokritik
38) Nada Sumbang di Balik Pembangunan Puteri Pinang Masak Park
0 Komentar