Uye Sayfullah: Merawat Jiwa Al-Mizan

 

Uye Sayfullah. Tahun 2006

Oleh: Jumardi Putra

Bagi anak-anak Sanggar Al-Mizan—komunitas seni religi mahasiswa di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta—kehadiran pria kelahiran Kudus ini selalu menjadi hal yang dinanti. Di tengah kepungan rapat organisasi yang kerap kali tegang dan atos (kaku), celotehnya bak oase. Ia mahir mengubah atmosfer yang mencekam menjadi happy dan enjoy.

Hingga sekarang, beberapa idiom kocak gubahannya masih menghiasi obrolan harian di Al-Mizan. Mulai dari celetukan "kembang ke wae" (biarkan saja), sampai yang paling fenomenal dan mengundang gelak tawa: "Bech!".

Itulah sepenggal ekspresi yang melekat pada diri Uye Sayfullah. Di balik pembawaannya yang banyol, mahasiswa jurusan Sosiologi Agama ini sesungguhnya adalah salah satu saksi sekaligus aktor yang ikut merajut benang-benang awal sejarah organisasi Al-Mizan sejak awal era milenium.

Uye pertama kali menapakkan kakinya di Al-Mizan pada tahun 2000, sebuah masa di mana organisasi ini masih tertatih-tatih dalam fase penataan. Di bawah kepimpinan Imron (Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadis IAIN Ushuluddin saat itu), Al-Mizan pontang-panting karena krisis kader.

"Baru dua bulan bergabung, saya langsung diangkat jadi pengurus Mizan," kenang Uye di tengah kesibukannya kini sebagai pekerja seni. Kepercayaan kilat itu didapat bukan karena ia ambisius, melainkan karena pendekatan personalnya kepada para senior terjalin dengan sangat asyik dan cair.

Saat itu, Al-Mizan hanya membawahi empat divisi yakni Tilawah, Tahfidz, Kaligrafi, dan Tafsir. Semuanya berjalan merangkak. Namun dari keterbatasan itulah, Uye bersama pengurus lainnya mulai memutar otak. Mereka menyadari, untuk membesarkan nama organisasi sekaligus memperkuat wilayah internal, Al-Mizan harus berani membidani acara-acara besar.

Buahnya manis. Pada tahun 2002, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Al-Mizan sukses menggebrak dengan menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Yogyakarta-Jawa Tengah.

Tak puas sampai di sana, Uye yang kemudian didapuk menjadi Pengurus Divisi Shalawat, ikut melahirkan rahim baru bagi kesenian di Al-Mizan. "Dulu Al-Mizan hanya berkutat di wilayah seni Al-Quran. Kami melihat shalawat juga krusial karena ia senapas dengan idealisme spiritual yang dijunjung organisasi," jelasnya. Lewat kejelian membaca peluang lomba dan undangan tampil, kader-kader Al-Mizan kala itu mengalami lompatan kualitatif yang disegani di tingkat regional, bahkan mengantongi trofi dari Wakil Presiden RI.

Uye boleh dikata tipe kader yang lebih memilih menjadi martir di balik layar. Ia jarang tampil di barisan depan, namun jemarinya sibuk merancang cetak biru organisasi dan memastikan urusan teknis lapangan berjalan tanpa cacat.

Membicarakan Al-Mizan bagi Uye tidak melulu soal rapat dan syiar seni. Ada satu ruang emosional yang tak pernah ia lupakan yaitu lahirnya LKKH (Lembaga Kajian Konspirasi Hati). Ruang non-formal ini didirikan bersama sahabat-sahabat kentalnya seperti Nanang, Misbahus Surur, dan Robert sebagai wadah "curhat" bagi para anggota yang sedang patah hati atau dirundung duka. Sayang, wadah yang sangat manusiawi ini belakangan hilang dari peredaran akibat kaderisasi yang stagnan.

Namun, konspirasi hati yang paling melelahkan justru dialami oleh Uye sendiri. Sejarah Al-Mizan mencatat kisah legendaris bagaimana Uye berjuang mendekati seorang perempuan yang menjadi primadona di sanggar tersebut.

Awalnya, pernyataan cintanya ditolak mentah-mentah. Alih-alih mundur dan meratap, pria Kudus ini justru menunjukkan etos kerja organisasi yang makin gila-gilaan disertai ketabahan hati yang luar biasa. Keteguhan itu meluluhkan sang primadona. Buah manis itu akhirnya dipetik di pelaminan: Uye sukses mempersunting Masykuroh, perempuan yang dulu menolaknya, pada 2 Juli 2006. Kini, pernikahan mereka telah dianugerahi seorang putra bernama Al-Washul Naenus Nabih. Mereka sekeluarga tinggal Garung Lor, RT II/RW II, Kaliwungu, Kudus, Jawa Tengah.

Sebagai alumni yang kini berkarier profesional sebagai Event Organizer (EO) dan tergabung dalam kelompok musik religi legendaris "Ki Ageng Ganjur" pimpinan Al-Zastrow, Uye melihat ada pergeseran nilai pada dinamika mahasiswa hari ini. Melalui wadah musik tersebut, Uye memang telah menginjakkan kakinya di seluruh pelosok Indonesia, namun hatinya tetap tertinggal di lorong-lorong sunyi Al-Mizan.

Ia mengamati, secara manajerial Al-Mizan hari ini berada pada fase yang jauh lebih ideal dan rapi dibanding zamannya dulu. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar: penurunan ikatan emosional dan tanggung jawab spiritual.

"Dulu, pengurus punya ikatan emosional yang sangat kuat karena mereka fokus. Sekarang, yang terjadi adalah "poligamisasi organisasi," kritik Uye tajam. Mahasiswa sekarang cenderung mendaftar di banyak organisasi, sehingga kerja manajerial menjadi tidak fokus dan kehilangan maksimalisasi. Organisasi akhirnya hanya menjadi rutinitas administratif yang gersang, tanpa memberi dampak perubahan transformatif bagi diri sendiri maupun komunitasnya.

Pria kelahiran 21 Januari 1979 ini berharap, adik-adik tingkatnya di Al-Mizan mengembalikan organisasi ke relnya yang semula. Baginya, Al-Mizan bukan sekadar tempat singgah untuk mencari sertifikat.

"Apapun yang kamu dapatkan dan korbankan selama di Al-Mizan, yakinkan dirimu bahwa itu adalah investasi masa depan yang tak ternilai. Saya telah merasakannya sendiri hari ini," tutupnya sembari tersenyum, bersiap kembali merampungkan draf skripsinya yang sempat tertunda oleh riuh rendahnya panggung pertunjukan.


*Yogyakarta. Ditulis pada Juli 2006.

0 Komentar