Perjuangan seorang perempuan yang berada di panggung kekuasaan adalah tidak melupakan perempuan lainnya yang masih tertahan di dasar piramida.
Suasana kabin pesawat Garuda Indonesia siang itu terasa tenang dan
lengang, setidaknya sampai dua perempuan yang duduk mengapit saya mulai membuka
percakapan. Di kursi sebelah kiri, duduk seorang anggota legislatif perempuan yang tampil memikat dengan riasan rapi dan setelan blazer karya perancang
ternama. Sementara di kursi sebelah kanan, dekat jendela, duduk istri seorang
kepala daerah yang tak kalah anggun--berkerudung--dengan pakaian serta perhiasan
minimalis. Saya yang berada di kursi tengah baris paling depan
kelas ekonomi ini memilih tetap memangku buku, sembari sesekali menyimak
hangatnya alur obrolan mereka berdua.
Hampir satu jam penerbangan melintasi deretan awan tipis di atas Pulau
Sumatera, ruang sempit di baris pertama itu menjelma menjadi sebuah panggung
kecil yang semerbak. Keharuman parfum yang mewangi, mengalahkan aroma udara
buatan kabin. Diskusi di antara mereka riuh namun tetap terjaga dalam nada
bicara yang halus, berkisar seputar perawatan kecantikan dan tren fashion
terkini. Sang anggota legislatif memajukan sedikit badannya, antusias
membagikan pengalaman pribadinya merawat kulit di sebuah griya kecantikan di kota tempat ia mukim.
"Saya sekarang lebih cocok dengan klinik yang di ibu kota. Treatment
lasernya itu lebih halus, enggak bikin merah-merah bertahan lama. Pas sekali
buat kita yang kadang harus panas-panasan turun ke dapil, tapi tetap dituntut fresh
dan berseri kalau ada rapat paripurna," ujarnya seraya terkekeh pelan,
mengibaskan jemarinya yang terawat bersih, sembari memperlihatkan beberapa foto
fashionable di beranda Instagram
pribadinya.
Sang istri kepala daerah tersenyum hangat. Matanya berbinar menyimak
pertukaran cerita itu. Ia lalu membalasnya dengan kisah tentang rutinitas
perawatan wajah sehari-hari dan keruwetan memilih busana yang tepat kala
mendampingi suami dalam acara-acara resmi pemerintahan—termasuk agenda
pisah-sambut pejabat vertikal di daerah.
"Benar sekali, Bu. Kalau saya, perawatannya cukup yang rutin dan
simpel saja. Yang justru sering menyita pikiran itu urusan busana. Apalagi bapak
kan sering ada jadwal dadakan turun ke kecamatan sampai ke pelosok desa, jadi
saya harus pintar-pintar mix and
match kain songket lokal. Biar tetap terlihat elegan saat
mendampingi suami, tapi jangan sampai terkesan mencolok atau berlebihan di
depan warga," ucapnya pelan, mengusap lembut lipatan pashminanya.
Perbincangan mereka mengalir begitu ringan, hangat, dan penuh keakraban.
Ada ruang aman yang melingkupi dua perempuan itu saat bertukar cerita tentang
kerumitan-kerumitan kecil di balik orbit kehidupan mereka sebagai figur publik.
Sesekali, mereka melempar pertanyaan singkat dan sapaan ramah
kepada saya—sebuah gestur hangat agar saya tak merasa diabaikan, meski
selebihnya obrolan mereka berdua kembali melaju dengan akrab. Di antara orbit
kehidupan mereka yang riuh itu, saya memilih tetap mengendapkan diri. "Untunglah ada buku
ini," gumam saya dalam hati, mendekap kawan permenungan yang menemani
sepanjang perjalanan udara ini.
Di balik riuh hangat perbincangan itu, sebuah jeda mendadak
menyusup ke dalam benak saya. Pandangan saya boleh saja tertambat pada halaman
buku di pangkuan, tetapi pikiran ini melayang menembus kaca jendela pesawat.
Merawat diri dan menikmati gaya hidup tentu ranah personal yang sah bagi siapa
saja; setiap perempuan berhak merawat kecantikannya dan merayakan hasil peluh
dari kerja kerasnya.
Namun, keberadaan mereka sebagai figur publik—bagian penting dari
pembuat kebijakan dan seorang pendamping pemimpin daerah yang memiliki pengaruh
sosial besar—secara tak langsung menghadirkan ruang kontemplasi yang
menggetarkan emosi. Ada kontras yang hadir secara begitu halus, namun menghujam
ulu hati: antara dingin dan nyamannya kabin pesawat dengan hamparan realitas
kaum perempuan kebanyakan.
Bayangan tentang kehidupan di tingkat tapak mendadak memenuhi pikiran
saya. Di bawah sana, jauh di balik gumpalan awan yang kami lintasi, ada banyak
ibu rumah tangga di akar rumput yang harus bertaruh nyawa dan memeras keringat
saban hari. Ada perempuan-perempuan pekerja harian yang memikul beban ganda:
memperjuangkan isi piring anak-anak mereka di tengah himpitan harga bahan pokok
yang terus melambung, sembari menanggung lelah fisik yang tak pernah sempat
disembuhkan di klinik manapun. Di sana, kesetaraan dan pengarusutamaan gender
bukan sekadar wacana perundang-undangan atau pilihan busana yang serasi,
melainkan perjuangan hidup-mati agar suara mereka didengar dan hak dasar mereka
dipenuhi.
Mendengarkan percakapan mereka dari jarak yang begitu rapat—hanya terhalang sandaran lengan kursi—bukanlah tentang menilai, menghakimi, apalagi mengutuk hak personal seseorang dalam menikmati hidupnya. Obrolan di atas awan ini justru hadir sebagai cermin reflektif yang jujur dan menyentuh. Ia menjadi pengingat yang sunyi bahwa perjuangan kesetaraan gender dan keterwakilan perempuan di ruang publik memiliki spektrum yang luar biasa luas dan kompleks. Kehadiran perempuan di panggung kekuasaan tentu merupakan sebuah pencapaian sejarah yang patut dirayakan dan bahkan regulasi turut menguatkannya. Namun, ia juga membawa beban harapan yang sangat besar: agar ruang empati terhadap persoalan substansial kaum perempuan di akar rumput tidak pernah terputus oleh sekat-sekat kenyamanan hidup.
Pengalaman singkat ini—penerbangan Jakarta-Jambi—menjadi ruang kecil
namun berbekas bahwa agenda pengarusutamaan gender adalah kerja kolektif dan
kemanusiaan yang tak pernah selesai. Ia tidak boleh berhenti hanya dalam arena
formal perundang-undangan, balutan simposium akademis, atau seremonial di
panggung depan kelembagaan. Ia harus hidup dalam kepekaan nurani, dalam cara
kita memandang perempuan, serta merawat empati sosial di tengah jurang realitas
kehidupan yang membentang lebar.
Ketika roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Sultan
Thaha Jambi dengan benturan halus, dan denting tanda sabuk pengaman dimatikan,
keheningan reflektif itu terpecah. Kedua perempuan di samping saya mulai
merapikan barang-barang bermerek mereka dengan sigap. Sebelum melangkah pergi,
mereka berpaling dan memberikan senyuman yang sangat ramah kepada saya. Saya
membalas senyuman itu dengan anggukan hormat.
Mereka lalu melangkah keluar kabin dengan anggun. Perjalanan singkat di
udara itu pun usai, menyisakan percikan perenungan yang mendalam di dada: bahwa
jalan panjang menuju pemenuhan hak-hak perempuan yang inklusif dan berkeadilan
senantiasa membutuhkan keterlibatan, dialog yang jujur, serta kepekaan hati
kita semua.
*Kota Jambi, 29 September 2026. Kisah ini diolah dari peristiwa (based on true story) penerbangan penulis sekitar tahun 2021 dari Jakarta ke Jambi. Foto ilustrasi di awal tulisan merupakan kreasi AI--sekadar pelengkap kisah.
*Berikut link tulisan saya lainnya seputar pengarus-utamaan gender: Menghapus Jurang Gender, Mengakselerasi Ekonomi.
.jpeg)
0 Komentar