Oleh: Jumardi Putra
Pukul 16.15 WIB, Jumat, 16 Oktober 2026, kabut asap pekat akibat
kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti langit Kota Jambi. Rasa suntuk dan
sesak setelah lebih dari dua bulan menghirup udara tercemar mendorong saya dan
istri menyambut akhir pekan dengan mencari sedikit jeda. Kami melangkah ke sebuah
Mal di Kota Jambi untuk menonton film layar lebar yang baru saja dirilis sehari
sebelumnya bertajuk Bapak Paling Jujur.
Film komedi satir politik garapan sutradara Fajar Nugros ini sejatinya
merupakan adaptasi resmi dari film Brasil berjudul O Candidato Honesto
(2014). Namun, di tangan dingin sang sutradara, cerita ini tidak dipindahkan
mentah-mentah. Ia dirajut kembali dengan menyerap kultur, dinamika sosial,
serta keresahan politik nasional kiwari yang begitu dekat dengan keseharian
kita.
Kisah dalam film berdurasi 1 jam 43 menit ini berpusat pada Jonas
Prakoso (Andovi Da Lopez), seorang calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 02
yang sangat lihai membangun pencitraan dan menjaga tutur kata di depan publik
demi menggaet simpati warga. Bersama calon wakilnya, Sambodo (Soleh Solihun),
serta manajer kampanye yang setia, Marbun (Benidictus Siregar), Jonas menyusun
strategi politik yang rapi dan terukur. Taktik tersebut berhasil mendongkrak
elektabilitas mereka dalam berbagai survei melawan calon lainnya yaitu Wawan
(David Nurbianto).
Namun, situasi berbalik 180 derajat ketika Jonas secara misterius
terkena "kutukan" dari sang Nenek (Indy Barends) tak lama sebelum
beliau tutup usia—di mana tragisnya, sosok sang Nenek ketika masih hidup sempat
dijadikan alat narasi kampanye demi meraih simpati. Kutukan tersebut membuat
Jonas sama sekali tak bisa lagi berbohong.
Seketika, isi pikiran, rahasia politik, hingga kejujuran dari lubuk hati terdalam si Jonas langsung terucap begitu saja tanpa bisa disaring di hadapan publik, media, lawan politik, maupun keluarganya sendiri. Kampanye yang semula tertata rapi berubah menjadi kekacauan massal yang absurd, kocak, dan penuh satir tajam. Kondisi rumah tangganya bersama Vanny turut terdampak.
Sebagai penikmat film, saya melihat jalinan cerita film ini berhasil
mengetengahkan dinamika politik tanah air dengan segala paradoksnya melalui
media sinema. Penampilan Andovi Da Lopez sebagai pemeran utama bersinergi
secara apik dengan jajaran talenta lainnya seperti Claresta Taufan sebagai Vanny, Benidictus Siregar sebagai Marbun, Soleh Solihun sebagai Sambodo, Nayla D. Purnama sebagai Una, Lolox sebagai Hasian, serta Abdel Achrian sebagai Pak Mul.
Kolaborasi antara aktor teater, pembuat konten, dan komika berdiri (stand-up
comedian) ini melahirkan chemistry yang solid. Humor verbal maupun
komedi fisik antarpemain mengalir tanpa kesan dipaksakan, menyulut gelombang
tawa yang riuh dari barisan kursi terdepan hingga barisan paling atas di Studio
5 XXI Jamtos.
Menariknya, di balik riuh tawa yang memenuhi studio, ada rasa getir yang
menyelinap pelan ke dalam dada. Riuh tawa itu bertumpu pada satu pengandaian
yang ironis: apa yang terjadi jika
seorang politisi tiba-tiba kehilangan kemampuannya untuk berbohong?
Di panggung politik hari ini—yang acapkali dipenuhi topeng pencitraan,
janji manis teratur rapi, praktik koruptif, cengkeraman pemodal dan partai
politik pada media, hingga bahasa bersayap para paslon—kejujuran tanpa filter
justru dianggap sebagai sebuah "bencana" yang absurd.
Penonton dibuat tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kepanikan Jonas ketika lidahnya tak lagi bisa berkompromi dengan kebohongan. Namun, saat tawa itu perlahan mereda, ada bisikan halus di dalam hati: mengapa kejujuran dalam hidup kita justru menjadi hal yang amat langka, aneh, dan menakutkan?
Secara pribadi saya mencermati Bapak Paling Jujur lihai mengolah
tempo komedi yaitu jeda antara adegan serius menuju kekacauan akibat ucapan
jujur sang tokoh utama dieksekusi dengan ritme yang presisi. Sentilan satirnya
tajam namun tidak menggurui, didukung oleh penampilan Soleh Solihun dan Lolox
yang kerap menjadi scene stealer pemancing gelak tawa.
Tentu saja, film ini bukan tanpa celah. Memasuki babak akhir, formula
penceritaannya mulai terasa umum dan mudah ditebak.
Konflik serta resolusinya cenderung mengikuti pola standar komedi arus utama,
sehingga intensitas kejutannya sedikit mengendur menjelang klimaks.
Meski demikian, cela tersebut tidak melunturkan pesan utama yang
ditinggalkannya. Di balik tawa penonton, film berdurasi sekitar 1,5 jam ini
sebenarnya sedang menyentil nurani kita tentang pentingnya integritas—bahkan
dalam perjuangan politik—serta makna kehadiran di dalam keluarga.
Dengan demikian, film ini tidak hanya berhasil memberikan hiburan yang
segar, tetapi juga ruang jeda untuk merenung sejenak bahwa di tengah riuhnya
panggung politik yang sarat kepura-puraan, kejujuran adalah rumah terbaik bagi
sesiapa saja untuk pulang. Dan itulah pesan terpenting dari sang Nenek kepada
cucunya, Jonas Prakoso.
*Kota Jambi, 17 Oktober 2026.
*Tulisan saya lainnya tentang film Indonesia:
- Ada Sesuatu di (Dalam) Avatar: Fire and Ash
- Agak Laen, Menyala Pantiku!
- Buya Hamka: Potret sang Moderat, Romantis dan Berpikiran Terbuka
- Di Balik Kisah 1 Kakak 7 Ponakan
- Memaklumi Kekonyolan Kekasihku Adalah Jalan Ninjaku
- Kalau Nanti Badai Datang, Angin Buat Kau Goyah
- Intan Perawan Kubu: Film Ternama Besutan Sutradara Kelahiran Jambi
- Ahmad Nungcil Alcaff: Aktor Film Ternama Kelahiran Jambi
- Sejarah Bioskop di Jambi
- Di Balik Layar Beranda Budaya TVRI Jambi

0 Komentar