In Memoriam: M. Ali Surakhman


 

Oleh: Jumardi Putra

Langit kebudayaan Jambi kembali diliputi mendung tebal. Seorang sahabat sekaligus penjaga warisan leluhur yang tekun, Muhammad Ali Surakhman, telah melangkah pulang menghadap Sang Pencipta, Allah 'Azza wa Jalla, hari ini sekira pukul 11.00 WIB, setelah berjuang dalam sunyi melewati masa sakitnya.

Almarhum dikenal luas sebagai pegiat budaya, penulis, dan peneliti independen yang mendedikasikan hidupnya untuk mengkaji tradisi lisan, arkeologi lokal, hingga dinamika budaya Melayu Jambi. Melalui kiprahnya di berbagai ruang—termasuk NGO-For The Kerinci Culture dan Central Studies Malays Foundation—ia secara konsisten menyuarakan pentingnya merawat ingatan dan identitas daerah agar tak tergerus oleh zaman.

Kepergian pria kelahiran Sungai Penuh, 7 November 1974 ini membuat para sahabat yang mengenalnya sontak kehilangan. Ia berpulang tepat pada momentum peringatan Hari Kebudayaan Nasional, 17 Oktober 2026 (ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kebudayaan RI Nomor 162/M/2025). Sebuah kebetulan yang menyisakan keheningan mendalam sekaligus ruang retrospeksi bagi kita yang ditinggalkan.

Sebagai pamong dan penyuluh budaya rayon BPCB Jambi (kini BPK Wilayah V), almarhum tidak sekadar menjalankan fungsi administratif untuk mencatat objek-objek kebudayaan. Bagi almarhum, artefak, naskah kuno, dan tuturan lisan bukanlah benda mati yang berdebu di etalase museum. Semua itu adalah obor peradaban yang harus terus menyala, berdialog, dan menemukan relevansinya dengan masa kini dan masa depan.

Melalui tulisan dan artikelnya di beberapa portal media lokal maupun Jurnal Relik, ia menempatkan kesenian tradisi, artefak, hingga Aksara Incung—salah satu aksara kuno tertua di bumi Melayu—sebagai pijakan aktivismenya. Di berbagai forum dialog, ia berupaya membentangkan deretan garis-garis purba tersebut agar kembali dipahami, dibanggakan, dan dicintai oleh generasi muda.

Ingatan saya melayang pada peristiwa 22 Oktober 2017. Kala itu, almarhum menjadi narasumber bersama Prof. Uli Kozok—filolog dan paleograf asal Jerman—dalam dialog Beranda Budaya di TVRI Jambi yang saya pandu. Dengan mata berbinar dan nada bicaranya yang lugas, berulang kali ia menegaskan betapa mendesaknya revitalisasi Aksara Incung--segendang sepenarian dengan keanekaragaman seni tradisi Jambi--agar tidak punah ditelan zaman.

Merespons isu-isu aktual kebudayaan di Provinsi Jambi, lulusan Universitas Bung Hatta ini tak pernah segan melayangkan kritik tajam—baik kepada pemerintah daerah maupun lembaga perwakilan pusat seperti BPCB/BPK. Bagi almarhum, budaya daerah bukan sekadar program tahunan atau ajang seremonial belaka yang menghabiskan anggaran APBD/APBN. Kebudayaan adalah fondasi karakter bangsa yang membutuhkan keseriusan penuh.

Di kalangan praktisi dan pemerhati budaya, perbedaan pendapat—setajam apa pun—adalah hal lumrah. Saya pribadi tak selalu sejalan dengan pandangannya, walakin hal itu tak pernah meretakkan persahabatan apalagi menghentikan agenda maupun kerja-kerja pelestarian. Bagi almarhum, kebudayaan itu dinamis: ia berpijak pada sejarah masa lampau sebagai akar tunjang, bertumbuh dalam dinamika hari ini, dan merentang menuju cita-cita masa depan.

Kami bertiga di Beranda Budaya TVRI Jambi (2017)

Pertemuan terakhir saya dengan almarhum terjadi pada Jumat, 17 Maret 2023. Usai bertemu dan berbincang dengan Direktur Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), Janet DeNeefe, dan rekan lainnya di kantor BPK Wilayah V, saya melangkah membesuk almarhum bersama Mas Agus Widiatmoko (saat itu Kepala BPK Wilayah V Jambi), yang kini menjabat sebagai Direktur Warisan Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Di kamar rumahnya di Jl. Dara Raya No. 17, Perumnas Kota Baru, Kota Jambi, almarhum terbaring lemah di pembaringan. Ia tak lagi mampu bersuara, tetapi binar matanya menandakan ia menyadari kehadiran kami. Bahkan, jemari tangannya bergerak perlahan, seolah-olah ingin ikut nimbrung dalam percakapan sore itu. Kami diterima dengan hangat oleh istrinya yang menceritakan riwayat sakit yang diidap almarhum.

Itulah kali terakhir saya menatap wajahnya secara langsung. Maka, ketika kabar wafatnya pertama kali saya baca di grup WhatsApp hari ini—dikirim oleh Nukman, Kepala Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara yang juga sahabat karib almarhum sesama putra Sungai Penuh/Kerinci—rasa kaget dan duka mendalam seketika menyelimuti dada.

Kepergian M. Ali Surakhman di Hari Kebudayaan Nasional membawa pesan simbolis yang teramat kuat. Kehilangannya memanggil siapa saja yang peduli pada kebudayaan daerah untuk merenungkan satu hal:

Aksara boleh jadi terukir indah di atas tanduk hewan, bambu, atau media digital modern hari ini. Namun tanpa ada tangan yang merawat, membaca, dan memperkaya maknanya, warisan itu akan kembali sunyi.

Sebelum sakit merenggut fisik dan aktivismenya, Bang Ali Surakhman, begitu ia biasa disapa, telah bertungkus-lumus mengabdi di lapangan kebudayaan Jambi—terutama tanah kelahirannya, Bumi Sakti Alam Kerinci. Kini, tugas kitalah untuk melanjutkan estafet perjuangan dan pemikirannya yang masih relevan: membangun narasi segar seputar kebudayaan di ranah pendidikan, memanfaatkan platform media digital, serta memastikan nilai-nilai tradisi terus bernapas di tengah arus modernisasi.

Selamat jalan, Sahabat. Semoga almarhum husnul khotimah, diampuni segala khilafnya, dan diterima seluruh amal kebajikannya di sisi Allah SWT. Bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga senantiasa diberikan ketabahan dan kekuatan.


*Kota Jambi, 17 Oktober 2026. Foto bersumber dari facebook pribadi M. Ali Surakhman.

*Tulisan-tulisan saya lainnya seputar isu kebudayaan Jambi di link berikut ini:

(1) Menakar Urgensi Dewan Kebudayaan Melayu Jambi

(2) Ikatan Sarjana Melayu Indonesia-Jambi: Sebuah Kritik Epistemologis

(3) Rembuk Kebudayaan Jambi: Sebuah Autokritik

(4) LAM Jambi dan Polemik Plagiasi

(5) Berebut Tuah Melayu Jambi, Sebuah Autokritik

(6) Kembali Ke Candi Muaro Jambi: Dari Madilog Tan Malaka sampai Mimpi-mimpi Pulau Emas 

(7) Prematur: Catatan Atas Buku Biografi Abdurrahman Sayoeti

(8) Membaca Bangsa Pelaut: Menyibak Tabir Sejarah Muara Sabak

(9) Dari Malam Keagungan Melayu Jambi hingga Konser NDX A.K.A

(10) Anugerah Kebudayaan Indonesia 2017-2024 Tanpa Jambi, Kenapa?

(11) Pilgub Jambi 2024 dan Peta Jalan Pemajuan Kebudayaan

(12) Pilkada Jambi dan Nyanyian Sunyi Sepanjang Oktober

(13) Najwa Sihab dan Peradaban Yang Hilang di Muaro Jambi

(14) Polemik di Balik Gelar Adat Melayu Jambi

(15) Apa dan Kenapa MWCF Jambi? 

(16) Festival Literasi Jambi, Dari Militansi ke Retrospeksi

(17) Di Balik Layar Beranda Budaya TVRI Jambi

(18) Di Balik Panggung Pemilihan Bujang-Gadis Jambi

(19) Quo Vadis Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi

(20) Hulu-Hilir Batanghari: Sebagai Perspektif dan Tindakan

(21) Jambi di Persimpangan Jalan: Keragaman yang Dipertaruhkan

(22) Al Haris-Sani dan Pengarusutamaan Kebudayaan: Sebuah Autokritik

(23) Mengenal Dr. Fiona Kerlogue dan Batik Jambi

(24) Profesor Bill Watson dan Kerinci

(25) Quo Vadis Dewan Kesenian Jambi

(26) Maryam dan Anugerah Maestro Seni Tradisi

(27) Menyoal Warisan Budaya Tak Benda Prov Jambi

(28) Quo Vadis Taman Budaya Jambi

(29) Jambi TUNTAS Defisit Kebudayaan

(30) Melampaui Kekisruhan FIB Universitas Jambi

(31) Pilgub Jambi: Pariwisata Tunabudaya

(32) Kabut Asap dan Ekonomi Tunabudaya

(33) Malam Keagungan Melayu Jambi dan Hal-Hal Yang Belum Selesai

(34) Jambi EMAS Minus Kebudayaan

(35) Urgensi Konferensi Studi Jambi

(36) Revitalisasi Budaya Lokal Jambi, Sebuah Catatan

Posting Komentar

0 Komentar