Surat Untuk Pejuang Pemadam Karhutla

 


Oleh: Jumardi Putra

Lebih dari satu bulan ini, langit Tanah Pilih Pusako Betuah, Kota Jambi, tak lagi membiru. Ia telah berubah rupa menjadi abu-abu tembaga yang mengerikan akibat ribuan hektar lahan dilahap si jago merah. Tak syak, saban hari saya memantau kadar ISPU lewat aplikasi di gawai mulai dari kategori tidak sehat, lalu sangat tidak sehat hingga puncaknya berbahaya.

Nah, di hari-hari ketika sebagian besar dari kita memilih mengurung diri di rumah, menutup rapat pintu, jendela, hingga ventilasi demi terhindar dari cengkeraman ISPA, bahkan sangat dianjurkan menggunakan masker bila harus terpaksa ke luar rumah---ada sekumpulan manusia justru bertaruh nyawa. Mereka berderap melangkah ke arah sebaliknya: menerjang perut belantara hutan dan menerobos hamparan rawa gambut yang sedang membara.

Merekalah para pejuang pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla)—pasukan Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, hingga para relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) di seantero Bumi Sepucuk Jambi Lurah Sembilan, serta para pejuang kemanusiaan lainnya yang menaruh atensi dalam pelbagai wujud bantuan untuk penanganan karhutla di tanah air.

Menjelajah hutan dan lahan yang terbakar di beberapa kabupaten di wilayah Provinsi Jambi bukanlah sekadar menyemprotkan air dari jarak aman. Bayangkan mereka harus berjalan di atas lahan gambut tebal di Tanjung Jabung Barat atau Tanjung Jabung Timur—untuk menyebut contoh--tanah rawa yang tampak tenang di permukaan, tetapi menyimpan bara api bawah tanah (ground fire) yang beresiko bagi tubuh. Kulihat dari layar kaca televisi sebagian dari mereka memanggul mesin pompa dan menyeret gulungan selang panjang seberat hingga belasan kilogram, lalu menembus semak belukar tanpa jalan setapak selama berjam-jam dan bahkan berhari-hari.

Di bawah suhu panas yang membakar, mereka berdiri terkepung asap pekat. Tak pelak, sebagian dari mereka dilaporkan mengalami mata merah dan perih, tenggorokan kering terbakar, dan paru-paru dipaksa menghirup racun karbon setiap harinya. Namun, tak seorang pun dari mereka berbalik arah. Setiap tetes keringat dan helaan napas sesak yang mereka pertaruhkan adalah alasan mengapa kita masih bisa bernapas hari ini dengan segala pernak-perniknya.

Untuk setiap jengkal tanah yang berhasil diselamatkan, dan untuk setiap napas warga yang terus diperjuangkan: saya mengucapkan terima kasih. Sekali lagi, terima kasih yang setinggi-tingginya. Stay safe, doa kami menyertai setiap langkah perjuangan tuan-tuan.

Dalam pada itu, terbesit dalam pikiran saya begini, jika kita jujur merenungi di kala karhutla terjadi berulang (seperti karhutla parah tahun 2016), ada rasa malu dan pedih yang membuncah di dada.

Adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang amat getir ketika keberanian para petugas di lapangan justru dijadikan "tameng" bagi keserakahan dan kejahatan manusia lainnya. Kita tahu pasti, hutan Jambi tidak terbakar dengan sendirinya. Selain gampang disulut terutama saat musim kemarau—apatahagi elnino gozila sekarang--api itu menyala karena ada tangan-tangan jahat yang sengaja membakarnya—mereka yang memilih cara murah dan instan demi menekan modal dan menumpuk keuntungan pribadi, tanpa peduli pada kehancuran ekosistem gambut dan penderitaan jutaan nyawa.

Saya teringat bunyi seloko Melayu Jambi, berikut ini:

Alam takambang jadi guru (Makna: Alam yang terbentang luas adalah guru dan sumber ilmu yang harus dipelajari, dihormati, serta dijaga oleh manusia).

 

Teluk sakti, rantau betuah, gunung bedewo, rimbo puyang, rimbo keramat, rimbo larangan (Makna: ajaran leluhur untuk melindungi kawasan konservasi, hutan adat, atau wilayah yang dihormati agar tidak sembarangan dirusak atau ditebang.

Rimbo sunyi, tempat beruang putih, tempat ungko berebut tangis (Makna: Gambaran tentang keaslian dan keagungan hutan rimba yang harus dibiarkan lestari sebagai habitat satwa, bukan untuk dieksploitasi secara liar.

Pengerusakan hutan dan pembakaran lahan secara melawan hukum bukan lagi sekadar pelanggaran pasal di atas kertas. Ini boleh dikata sebagai kejahatan lingkungan dan kejahatan kemanusiaan yang nyata. Falsafah Melayu Jambi juga tidak mengajarkan ketamakan yang mengorbankan keselamatan bersama.

Sejurus hal itu, penegakan hukum di Bumi Sepucuk Jambi Lurah Sembilan harus berdiri tegak tanpa pandang bulu—menindak tegas para pelaku, penyandang dana, hingga dalang pembakaran sampai ke akar-akarnya.

Lewat surat terbuka ini, saya mengajak kita semua untuk bersama-sama merubah kebiasaan menganggap bencana kabut asap semata-mata sebagai takdir tahunan. Kita tidak boleh membiarkan pengorbanan para petugas pemadam karhutla dianggap sebagai hal biasa yang dimaklumi begitu saja.

Menutup surat ini, saya berharap para pejuang di garis depan mendapatkan perlengkapan keselamatan yang memadai, jaminan kesehatan, insentif yang layak bagi mereka yang berhari-hari meninggalkan sanak-keluarga, anak dan istri, serta jaminan keselamatan jiwa yang pasti.


*Kota Jambi, 12 Oktober 2026. Foto di awal tulisan bersumber dari tribunnews.com


*Tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:

1. Menguji Akuntabilitas Anggaran Darurat Karhutla

2. Kabut Asap, Inikah Kita?

3. Kabut Asap dan Ekonomi Tunabudaya

4. Kabut Asap di Tanah Pilih: Sepilihan Pantun

5. Barangkali Kita Memang Harus Berduka

6. Kabut Asap di Rumah Tuhan

7. Corona Berjalan Ke Rumah Kita Melalui Pintu Depan sebagai Monster

8. Sacred Nature: Menemukan Akar Krisis Modern

9. Batu Bara di Jambi sebagai Persoalan Kebudayaan

10. Polemik Batu Bara dan Hal-Hal yang Tak Selesai

11. Bencana Alam, Investasi dan Malapetaka yang Menghantui

12. Deforestasi dan Bencana di Jambi

13. Belajar dari Batu Kerbau

14. PETI dan Eco-pedagogy

15. Ekowisata dan Hutan Desa Lubuk Beringin

16. Menanam untuk Kesempurnaan Hidup

Posting Komentar

0 Komentar