Oleh: Jumardi Putra
Ubud selalu punya cara merawat ingatannya: aroma dupa yang
berpadu dengan wangi kertas buku, deretan galeri seni di sepanjang jalan,
dan derik jangkrik di sela-sela petak sawah yang kini kian akrab dengan
kepungan beton café dan vila. Dari Sanggingan hingga Monkey Forest, obrolan
lintas bangsa tumpah di setiap sudut trotoar. Namun, di balik keindahan yang kerap
diromantisir itu, Ubud hari ini menyimpan getir. Sebagai desa seni yang
mendunia, ia tersaruk-saruk di antara magnet pariwisata global dan desakan
zaman. Sawah-sawah produktif perlahan berganti rupa menjadi bangunan komersial,
sementara ketahanan tradisi komunal yang diikat oleh filosofi Tri Hita Karana terus diuji.
Kendati deru kendaraan dan aktivitas wisatawan kian mengubah wajah
ruang-ruang kulturalnya, denyut spiritualitas masyarakat Bali tetap bertahan
untuk merawat harmoni antara manusia, alam, dan sesama. Dari sinilah sebuah
pertanyaan muncul: sejauh mana festival berkaliber internasional mampu
berdampingan dengan denyut lokal tersebut, alih-alih berjalan terpisah dari
realitas tanah tempat ia diselenggarakan?
Sembilan tahun adalah rentang waktu yang cukup untuk melihat bagaimana
sebuah perhelatan sastra bernapas, bertransformasi, dan merespons zaman. Jika
ditarik garis lurus, mengikuti Ubud
Writers and Readers Festival (UWRF) pada 2015 dan kembali padanya pada
2024 memberikan pengalaman tersendiri tentang bagaimana kata-kata (baca:
pemikiran) dirayakan di tengah dunia yang bergerak semakin cepat.
Dua kali mengikuti penyelenggaraan ini dengan tema yang berbeda meninggalkan kesan mendalam dalam memori perjalanan saya sebagai penyuka karya sastra dan budaya secara umum. Pada 2015, saya diundang sebagai salah satu dari lima belas emerging writers se-Indonesia. Saat itu, saya mendapat kesempatan menjadi pembicara dalam satu forum yang sama dengan esais dan sastrawan Seno Gumira Ajidarma serta penulis mancanegara dari Australia, yakni Rebecca Harkins-Cross dan Michaela McGuire.
![]() |
| Penulis bersama Direktur UWRF (2023) |
Kemudian, bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali, UWRF 2015 menghadirkan dialog sastra bertajuk “Dangerous in Words”, yang menampilkan sastrawan lintas genre dari berbagai daerah. Selain saya dari Jambi, hadir pula Norman Erikson Pasaribu (Jakarta), Andina Dwifatma (Jakarta), Gunawan Tri Atmodjo (Jawa Tengah), dan Leopold Surya Indrawan (Bali/Jakarta). Masing-masing dari kami membacakan karya terkini sekaligus membincangkan pengalaman terkait topik tersebut. Pada intinya, kata memiliki dua sisi: ia bisa menghadirkan hikmah, tetapi juga dapat memicu masalah bila disalahgunakan untuk kepentingan yang negatif.
Kembali UWRF 2015—yang diselenggarakan di pusat kebudayaan Bali pada 28 Oktober hingga 1 November 2015 dengan tema "Imajinasi 17.000 Pulau" sebagai bagian dari keikutsertaan Indonesia sebagai Guest of Honour di Frankfurt Book Fair—terasa seperti membuka kembali catatan lama tentang eksplorasi identitas kebangsaan dan memori kepulauan. Pendiri dan Direktur Festival, Janet DeNeefe, kala itu mencatat bahwa festival yang menjembatani ruang geografis dan sosial ini berhasil menarik hingga 26.000 pengunjung.
Denyut festival ketika itu boleh dikata terasa menggairahkan. Titik kumpul seperti Taman Baca di Kedewatan, Indus Restaurant, dan Neka Art Museum menjadi ruang pertemuan bagi para penulis dan pembaca yang datang dari pelbagai negera. Batas antara pembicara dan penonton sering kali melebur di kedai-kedai kopi hingga ke banyak genah diskusi. Perhelatan ini diwarnai kehadiran para tokoh dari berbagai latar belakang—mulai dari pakar hukum Todung Mulya Lubis, jurnalis Andreas Harsono, sastrawan seperti Putu Oka Sukanta, Nia Dinata, Seno Gumira Ajidarma, Linda Christanty, Eka Kurniawan, Okky Madasari, Ayu Utami, dan Leila S. Chudori—serta penulis luar negeri seperti Jean Couteau (Prancis/Indonesia), Peter van Dongen (Belanda), Janet Steele (Amerika Serikat), Mohsin Hamid (Pakistan), Sofie Laguna dan Maureen Wheeler (Australia), Pooja Nansi (Singapura), Ira Trivedi dan Ashwini Devare (India), Adrian Vickers (Australia), Anchee Min (China/Amerika Serikat), Hyeonseo Lee (Korea Utara), hingga Mpho Tutu (Afrika Selatan). Suasana tersebut dihidupkan melalui festival musik, diskusi buku, bedah film, lokakarya, hingga pembacaan puisi. Kala itu, panitia sempat menghadapi tekanan dari aparat keamanan sehingga harus membatalkan sejumlah sesi diskusi atau acara yang mengangkat tema tragedi pasca-1965 di Indonesia.
Sembilan tahun berselang, tepatnya pada 2024, saya kembali ke Ubud untuk melihat perkembangan tata kelola UWRF yang telah bertahan hingga usia ke-21. Bersama rekan-rekan founder Malay Writers and Cultural Festival (MWCF), saya berkesempatan berdiskusi langsung dengan Pendiri sekaligus Direktur UWRF Janet Mary DeNeefe, Manajer Festival Dwi Ermayanthi, Manajer Program Indonesia Gustra Adnyana, dan Laksmi Shari DeNeefe Suardana yang juga Puteri Indonesia tahun 2022, serta Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati Drs. I Ketut Suardana, beserta sejumlah figur penting lainnya. Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa menjaga keberlanjutan sebuah festival membutuhkan konsistensi dan kerja panjang yang tidak mudah.
| Penulis mengikuti UWRF 2024 |
Ketika saya menghadiri UWRF 2024 pada 23–27 Oktober 2024, perhelatan ini telah berkembang menjadi ekosistem yang jauh lebih besar. Mengusung tema "Satyam Vada Dharmam Chara: Speak the Truth, Practice Kindness", UWRF 2024 digelar di berbagai tempat dengan lebih dari 200 program serta menghadirkan sekitar 300 pembicara dari 20 negara, termasuk India, Australia, Korea Selatan, Amerika Serikat, hingga Palestina.
Salah satu momen menarik saya rasakan saat berjumpa dalam acara penyambutan dengan beberapa penulis Indonesia dan mancanegara saat pembukaan. Saya sempat berbincang dengan sastrawan Goenawan Mohamad, Janet DeNeefe, dan beberapa penulis luar negeri. Pusat kegiatan di Taman Baca dan Indus Restaurant Jalan Raya Sanggingan tertata rapi—elegan dan sederhana tanpa kehilangan nuansa khas Bali. Kurasi UWRF 2024 menyoroti sejumlah isu penting yaitu mulai dari kesetaraan gender, krisis iklim yang dibuka oleh penulis Amitav Ghosh lewat Climate Day, hingga kritik terhadap laju pembangunan di Bali.
Festival ini juga
memberikan ruang penghormatan bagi tokoh-tokoh Bali yang telah berpulang,
seperti sastrawan Cok Sawitri dan akademisi I Gusti Ngurah Bagus, serta
diramaikan oleh penulis muda seperti Pranita Dewi. Dalam kesempatan yang sama,
Janet DeNeefe sempat menyinggung rencana penyelenggaraan Malay Writers and
Cultural Festival (MWCF) di Jambi, sebagai bentuk pertukaran jejaring
sastra antarwilayah. Janet Sendiri setahun sebelumnya (2023) sempat mengunjungi
Kota Jambi sekaligus berjumpa dan berdiskusi dengan kawan-kawan MWCF dan Kepala
Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Jambi.
![]() |
| Sebagian Penulis UWRF 2015 |
Namun, di balik keberhasilan UWRF di usianya ke 21, catatan kritis tetap
diperlukan. Festival sastra sebesar UWRF tentu diharapkan tidak sekadar menjadi
agenda pariwisata skala internasional bermuatan intelektual yang berjarak dari
masyarakat sekitar. Tantangan ke depan adalah bagaimana festival ini mampu
berkontribusi nyata bagi penguatan ekosistem sastra dan kebudayaan secara lebih
luas di tanah air, menjadi ruang dialog yang terbuka, dan tetap berpijak pada
realitas sosial di akar rumput.
Terdapat pergeseran yang cukup jelas dalam cara UWRF merayakan kata (baca: karya pemikiran) selama rentang satu dekade terakhir. Pada 2015, percakapan banyak berpusat pada
pencarian identitas kebangsaan dan memori kepulauan melalui medium buku fisik
serta pembacaan konvensional. Sebaliknya, pada 2024, isu yang diangkat lebih
luas mencakup persoalan krisis global dan kemanusiaan, dengan dukungan
pemanfaatan platform digital untuk menjangkau pembaca muda. Pengalaman
mengikuti UWRF di dua kurun waktu ini menunjukkan bahwa sebuah festival sastra
berfungsi sebagai ruang perjumpaan sekaligus sarana refleksi bersama.
Di penghujung perjalanan ini, di bawah langit Ubud, catatan ini menjadi
sebuah perhentian sementara sebelum kerja-kerja kebudayaan berikutnya kembali
dilanjutkan.
*Ubud – Bali, penghujung Oktober 2024. Foto di awal tulisan adalah Pura Taman Saraswati di Ubud, Bali.



0 Komentar