Mengenang Maestro Tom Ibnur (1952-2026)



Oleh: Jumardi Putra

Panggung pertunjukan seni tradisi Nusantara kembali diselimuti duka. Sang maestro tari, Arison Ibnur Ibrahim—yang lebih karib disapa Tom Ibnur—telah menutup tirai perjalanannya di usia 74 tahun di Jakarta, pada Jumat, 23 Oktober 2026. Kabar duka itu pertama kali saya ketahui melalui pendar unggahan Instagram keponakannya, aktor kenamaan tanah air Vino G. Bastian.

Selain penari, Tom Ibnur dikenal seorang peneliti, pendidik, sekaligus penggerak kebudayaan. Sosok multisisi ini sebenarnya membuktikan bahwa tradisi bukanlah semata warisan untuk mengisi ruang nostalgia, melainkan untuk dibaca, ditafsirkan, dan dihidupkan kembali agar mampu berbicara kepada zaman.

Karya-karyanya telah melintasi panggung dalam dan luar negeri, memanen pelbagai anugerah tingkat nasional hingga internasional, serta menjadi suluh bagi para periset kebudayaan. Namun, catatan ini hadir bukan untuk mengulang kembali deretan kegemilangan pria kelahiran 1952 itu, melainkan untuk menjemput ingatan tentang penggalan jejak dan warisan kultural yang ia tinggalkan di tanah Melayu Jambi—sebuah riwayat yang barangkali kian samar di mata generasi muda (Gen Z) Jambi hari ini.

Memilih Jambi

Dalam pembacaan saya atas rekam jejak dan kekaryannya di berbagai media, panggung berkesenian bagi Tom Ibnur bukan sekadar tentang merangkai gerak tubuh (baca: tari) di gedung-gedung megah ibukota atau kilau lampu gemerlap mancanegara. Jika Jakarta adalah gelanggang baginya meluaskan jeringan, menguji pemikiran, dan membuktikan kapasitas sebagai seniman bertaji, maka Jambi—dalam sejarah panjang pengabdian kebudayaannya—adalah matarantai kesadaran berkebudayaan yang tak bisa diabaikan.

Kendati terlahir di pesisir Pariaman, Sumatra Barat, kecintaan Tom Ibnur pada kebudayaan Melayu Jambi meninggalkan jejak yang berarti. Ia datang bukan sebagai pengamat yang berjarak, melainkan menyelami akarnya hingga ke ceruk terdalam. Kesadaran kultural itu pula yang memanggil jiwanya untuk mengambil keputusan besar: setelah lebih dari 15 tahun mengecap kesuksesan di Jakarta—termasuk menjabat sebagai Direktur Produksi Taman Ismail Marzuki (TIM) hingga mengajar di lembaga-lembaga pendidikan bergengsi—ia memilih "pulang merantau" ke Jambi.

Tom Ibnur tampil dalam MKMJ tahun 2013

Pada tahun 2006, ia mendirikan Sanggar Langkan Budaya Taratak, berlokasi di belakang kompleks Asrama Haji di Kotabaru, Kota Jambi. Di studio di belakang rumahnya itulah, ia menghimpun anak-anak kecil untuk melangkah dan menari Zapin. Ia mendidik mereka bukan sekadar untuk mengejar panggung dan decak kagum penonton, melainkan untuk menanamkan akar identitas agar mereka paham siapa diri mereka di tengah gempuran zaman.

Saya pribadi pernah melihat langsung geliat seni di Taratak tahun 2011-an dan beberapa kesempatan setelah itu, terutama ketika diajak oleh bang Naswan Iskandar, salah seorang terdekat Tom Ibnur, yang juga ikut membidani Taratak. Di waktu bersamaan, ketika itu saya dan Naswan Iskandar sama-sama aktif di Dewan Kesenian Provinsi Jambi (Disingkat DK-Jambi). Bedanya ia menjabat sebagai Ketua Harian DK-Jambi, sedangkan saya bersama beberapa kawan lainnya fokus mengelola Buletin seni Tembilang dan menggairahkan studi jambi melalui penerbitan Jurnal Seloko. Kini, di samping mengajar di beberapa kampus, Naswan Iskandar menjabat sebagai Ketua Bidang Pengembangan SDM dan Standar Kompetensi Badan Perfilman Indonesia (BPI).

Menyelamatkan Tradisi

Kepergian sang "Raja Zapin Nusantara"—begitu Tom Ibnur dijuluki berkat ketekunannya meneliti sekaligus mengembangan tarian Zapin--seketika menerbangkan ingatan saya pada medio 2012 hingga 2015. Saat berproses di Dewan Kesenian Provinsi Jambi (DK-Jambi), saya beruntung sempat berinteraksi langsung dengannya dan para budayawan Jambi sezaman. Beberapa seniman Jambi yang saya jumpai kala itu sebagian kini telah wafat. Masih segar dalam ingatan saya, perjumpaan kami bertaut pada satu keprihatinan yang sama ketika itu yakni kecemasan melihat seni tradisi Jambi yang perlahan-lahan mati kesepian.

Kecemasan itu bukanlah halusinasi. Ia berpijak pada riset yang dikerjakan sendiri oleh Tom Ibnur pada kurun 1995–1998. Kala itu, temuan lapangannya amat menghentak: hampir 40% tarian tradisional Jambi telah punah ditelan zaman, 20% dalam kondisi kritis, 20% mulai sekarat, dan hanya 20% sisanya yang masih bertahan. Kematian perlahan ini tidak hanya melanda seni tari, tetapi juga menggerogoti ranah sastra, musik, hingga teater. Wajah seni-budaya Jambi saat itu tak ubahnya bagai "kain kusut di gantungan"—terabaikan dan menanti lapuk.

Segendang sepenarian dengan amanat Musyawarah Besar DK-Jambi tahun 2011, tindakan mendesak yang harus dilakukan adalah revitalisasi. Semangat ini sejalan dengan pemikiran budayawan Yudistira AN. Massardi bahwa seni yang masih bernapas harus disuntikkan energi baru, sementara yang terancam punah harus dibongkar dan digali kembali anatominya agar melahirkan inspirasi zaman.

Bersama Tom Ibnur dan beberapa seniman Jambi lainnya, gerak penyelamatan itu dimulai dari hulu melalui pelacakan anatomi kesenian tradisional—salah satunya revitalisasi tahap I Krinok yang dikerjakan oleh budayawan Jafar Rassuh, Tom Ibnur, etnomusikolog Nyak Ina Rasuki (Dosen Institut Kesenian Jakarta), dan didukung tim lapangan DK-Jambi (termasuk Komite Musik). Mereka turun ke Desa Rantau Pandan dan Desa Senamat: keduanya di Kabupaten Bungo; Desa Pulau Panjang di Kabupaten Tebo; Desa Pulau Aro di Kabupaten Merangin, lalu dipungkasi ke Desa Tanjung di Kabupaten Muaro Jambi. Puncak dari penelitian tahap awal itu mengejawantah dalam panggung Malam Keagungan Melayu Jambi (MKMJ) pada tahun 2012 dan 2013, seraya menghadirkan ragam seni tradisi lisan Jambi lainnya.

Di atas panggung megah MKMJ—dalam kepengurusan Ketua DK-Jambi Aswan Zahari--, Krinok diangkat sebagai menu utama yang dirajut elok bersama tari, sastra, musik, hingga sentuhan audio-visual modern. Di sinilah kejeniusan Tom Ibnur bersama seniman Jambi bekerja: Krinok tidak kehilangan akar sebagai tradisi lisan, melainkan memperoleh ruang untuk bertumbuh dari bentuk tradisional menuju ekspresi kontemporer yang universal. Ia berhasil membuktikan bahwa tradisi tidak boleh dibiarkan menjadi "barang antik" yang berdebu di museum maupun sekadar dokumen lusuh hasil penelitian, melainkan cermin hidup yang relevan dengan semangat zaman (zeitgeist) sekaligus memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakatnya.

*** 

Praktis setelah tahun 2016, saya tidak pernah lagi bertemu--bertatap muka—dengan Tom Ibnur, selain hanya sesekali mendengar kabar dari kejauhan tentang aktivitas maupun kondisi kesehatannya di ibu kota.

Di lapangan kesenian Nusantara yang begitu luas, setidaknya melalui Langkan Budaya Taratak, almarhum telah melahirkan banyak riset dan dokumentasi penting perihal keanekaragaman seni tradisi yang tumbuh di wilayah Provinsi Jambi dengan segala problematikanya. Saya berharap "harta karun" kebudayaan itu terus terawat dengan baik dan dapat dimanfaatkan oleh tangan-tangan kreatif demi pelestarian seni budaya Jambi di masa depan.

Kini, Tom Ibnur telah merampungkan tarian terakhirnya. Namun, formulasi gerak tubuh yang pernah ia susun, pengetahuan yang ia produksi—menjadi suluh bagi riset kebudayaan lanjutan--, serta anak-anak yang pernah ia bimbing menjadi seniman (atau mereka yang terinspirasi dari sosok dan pemikirannya) akan terus membawa jejaknya ke masa depan. Dalam pada itu, setiap kali mengingat panggung MKMJ dan geliat seni tradisi di Jambi mutakhir, di sanalah jejak langkah Tom Ibnur selalu muncul—menolak untuk padam.

Selamat jalan, Maestro Tom Ibnur. Terima kasih atas dedikasi di lapangan kesenian selama ini.


*Kota Jambi, 24 Oktober 2026. Data dalam tulisan ini merujuk laporan kegiatan Revitalisasi Krinok Tahun 2011, Dokumentasi MKMJ Dewan Kesenian Provinsi Jambi (DK-Jambi) tahun 2013 dan 2014 serta sumber relevan lainnya.

*Berikut tulisan-tulisan saya lainnya:

1) Prematur: Catatan Atas Buku Biografi Haji Abdurrahman Sayoeti

2) Si "Bulldozer" Masjchun Sofwan (Mengenal Gubernur Jambi 1979-1989)

3) Srie Soedewi, Sosok Cemerlang di Balik Gubernur Jambi Maschun Sofwan

4) Jambi Yang Menanti Jamahan, Buah Pikiran Djamaludin Tambunan

5) Hanafie, Gubernur Jambi Terpilih (Gagal) Dilantik

6) Haji Hasan, Orang Gedang dari Empelu

7) A. Mukty Nasruddin, Penulis Sejarah Jambi Yang Dilupakan

8) Annabel Teh Gallop, Jambi dan Filologi di Zaman Gawai

9) Mengenal (Penjabat) Gubernur Jambi 1957-2024

10) Emi Nopisah, Dari Ajudan Gubernur sampai Sekretaris DPRD Provinsi Jambi

11) 65 Pemikiran Tokoh untuk 65 Tahun Provinsi Jambi

12) Jambi Tempo Dulu, Catatan Sepulang dari Pameran HUT Provinsi Jambi

13) Kisah Mayloedin ADN dan Buku-bukunya

14) Sosok dan Pemikiran Junaidi T. Noor

15) Mengenang Sakti Alam Watir

16) Selamat jalan, Bung Nurul Fahmy

17) Firman Lie dan Karya Seni di Ruang Publik

18) Kamal Firdaus: Ia Yang Masih Merisaukan Penegakan Hukum di Republik Ini

19) Langkah Sunyi Bung Firdaus

20) Djang Aisjah Muttalib, Penulis Sejarah Sarikat Abang di Jambi 1916

21) Jejak H. A. Thaib Hanafiah, Pejuang Jambi

22) Syamsul Watir dan Pers Jambi (Tanpa) Pusat Dokumentasi

23) Napak Tilas Sejarah Jambi, Warisan Usman Meng

24) Obituari Sulaiman Hasan, Datuk Bandar Paduko Betuah

25) Setelah Fakhrudin Saudagar Tak Ada Lagi

26) Jalan Seni Pelukis Fauzi Z

27) Jejak Pelukis Sumardi DS

28) Peninggalan Abdurrahaman Sayoeti Tidak Terawat dan Kisah Yanti Mustafa Menjaganya 

29) Sisi Lain Lily Sjarif, Istri Gubernur Jambi Abdurrahman Sayoeti

30) Kisah Putri Gubernur Jambi Djamaludin Tambunan Bersama Bung Karno

31) In Memoriam: M. Ali Surakhman (1974-2026)

Posting Komentar

0 Komentar