Literasi Karhutla Jambi

 



Oleh: Jumardi Putra

Provinsi Jambi seolah terjebak dalam siklus berulang Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Setiap musim kemarau datang, langit Jambi kerap berubah menjadi abu-abu, membatasi jarak pandang, dan memaksa warga beraktivitas di tengah udara beracun. Berdasarkan data Posko Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Provinsi Jambi, total luas hutan dan lahan yang terbakar sejak 1 Januari hingga pertengahan Oktober 2026 telah mencapai 4.363,86 hektare.

Kita tahu, kabut asap ini bukan sekadar urusan cuaca panas atau musibah musiman yang datang begitu saja. Di balik asap pekat yang menyesakkan dada, ada persoalan tata kelola lahan yang timpang dan karut-marut penguasaan ruang yang sering kali mengorbankan keselamatan warga. Karena itu, cara pandang kita terhadap bencana ini harus diubah. Kita tidak bisa lagi sekadar pasrah membaca berita seputar jumlah lahan terbakar yang terus meluas, warga yang terganggu saluran pernafasan, dana darurat bencana jadi bancakan para oknum pejabat (terjadi di tubuh BNPB), dan memantau aplikasi kualitas udara di gawai (untuk menyebut contoh), melainkan harus mulai berani bersikap kritis, merawat kearifan yang diwariskan para leluhur seraya meramu dengan sains modern, serta telaten mencatat setiap penderitaan agar tidak mudah lupa begitu hujan turun.

Bukan Sekadar Menyalahkan Cuaca

Selama ini, cerita di ruang publik (termasuk di pelbagai platform media sosial) sering kali menyederhanakan masalah: seolah Karhutla murni ulah kemarau panjang atau semata-mata kesalahan para peladang kecil. Padahal, jika mau jujur melihat ke lapangan, persoalannya jauh lebih kompleks dari itu:

Pertama, rusaknya ekosistem gambut. Lahan gambut yang basah dan alami sengaja dikeringkan dengan pembuatan kanal-kanal besar untuk kepentingan komersial. Akibatnya, saat kemarau tiba, gambut berubah menjadi bahan bakar kering yang sangat mudah tersulut api dari dalam tanah (subterranean fires) dan sangat sulit dipadamkan. Di sinilah perusahaan pemilik konsesi harus dituntut pertanggungjawabannya untuk serius merestorasi lahan, bukan malah lepas tangan.

Kedua, mengawal penegakan hukum. Kita sebagai warga harus aktif menjadi pengawas (watchdog). Jangan sampai hukum penegakan karhutla hanya tajam kepada petani kecil, tetapi tumpul dan ramah kepada korporasi besar yang lahannya ikut terbakar.

Ketiga, berhenti memaklumi karhutla. Asap beracun akibat karhutla dalam jumlah luas bukan "anugerah musiman" yang harus diterima begitu saja dengan pasrah. Udara bersih dan napas yang lega adalah hak dasar kita dan anak-anak kita yang dijamin oleh undang-undang.

Di tengah gagalnya (kalau bukan lamban) mitigasi darurat karhutla oleh pemerintah pusat maupun daerah, masyarakat adat dan komunitas lokal di Jambi sebenarnya memiliki rekam jejak historis yang panjang dalam mengelola bentang alam secara berkelanjutan.

Secara turun-temurun, warga lokal terbiasa membuka lahan secara terbatas dengan perhitungan arah angin yang cermat, membuat sekat bakar alami, dan saling bergotong royong menjaga wilayahnya. Pengetahuan lokal ini—yang lahir dari akumulasi pengalaman adaptif dalam menjaga keseimbangan relasi manusia dengan alam—jika dipadukan dengan sains modern, teknologi pemantauan sederhana dan kepedulian bersama, akan membuat desa-desa kita jauh lebih siap siaga menghadapi ancaman api sejak dini, seperti yang dilakukan oleh basis Masyarakat Peduli Api (MPA). 

Pangkal masalahnya, bagaimana keberadaan masyarakat adat dan komunitas lokal  di Jambi memiliki kemampuan resiliensi di tengah ekspansi industri ekstraktif, khususnya perkebunan sawit dan konsesi pertambangan (termasuk PETI di kawasan konservasi dan hutan lindung)?

Menguap Bersama Hujan

Sering kali, begitu hujan turun dan langit Jambi kembali biru, ingatan kita tentang sesaknya napas, anak-anak yang terpaksa libur sekolah, jadwal penerbangan terganggu, aktivitas ekonomi warga melambat, dan rumah-rumah yang diselimuti kabut kuning ikut menguap begitu saja. Siklus lupa inilah yang membuat bencana ini terus berulang dari tahun ke tahun.

Maka, mencatat adalah bentuk perlawanan paling sunyi terhadap lupa. Tabel berikut merangkum apa saja yang semestinya tidak boleh kita biarkan hilang dari ingatan:

Apa yang Dicatat

Wujud Dokumentasinya

Untuk Apa Catatan Ini?

Dampak Kesehatan

Catatan kasus ISPA di puskesmas, anak-anak yang batuk, hingga warga yang harus dirawat di rumah sakit.

Menjadi bukti nyata saat warga hendak menuntut keadilan (class action) sekaligus mendesak anggaran kesehatan yang memadai.

Kerugian Ekonomi & Pendidikan

Berapa hari sekolah diliburkan, warung-warung kecil yang sepi, hingga penerbangan yang batal.

Menghitung kerugian riil yang dialami warga agar pemerintah daerah tidak terus-menerus abai melakukan pencegahan.

Catatan Rasa dan Kesaksian

Buku harian warga, foto-foto langit merah pekat, atau cerita langsung dari para penyintas.

Merawat memori kolektif agar generasi berikutnya tahu betapa buruknya krisis lingkungan yang pernah kita wariskan.

Peta Titik Api & Konsesi

Mencocokkan lokasi kebakaran dengan peta izin perusahaan dan peta fungsi gambut.

Menjadi bukti sahih bagi warga, pegiat lingkungan, dan penegak hukum untuk menyeret pihak yang lalai.

Bencana Karhutla yang datang berulang menuntut kita untuk bersuara lebih lantang dan bertindak lebih nyata. Literasi kebencanaan hari ini bukan lagi soal pintar membaca angka ISPU di layar ponsel, melainkan keberanian kita untuk melihat akar ketimpangan yang selama ini dibiarkan.

Pada akhirnya, dengan memadukan kearifan lokal dan sains modern, ketelatenan mencatat sejarah bencana, serta menuntut penegakan hukum yang tak pandang bulu bagi para korporasi dan oknum perusak lingkungan, warga Jambi tak lagi harus pasrah menjadi korban musiman. Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah adalah rumah yang harus kita jaga bersama—agar anak cucu kita tak lagi mengalami kondisi serupa yang berulang terjadi.


*Kota Jambi, 20 Oktober 2026. Foto di awal tulisan bersumber dari detik.com

*Tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:

1. Menguji Akuntabilitas Anggaran Darurat Karhutla

2. Kepada Pejuang Pemadam Karhutla

3. Kabut Asap, Inikah Kita?

4. Kabut Asap dan Ekonomi Tunabudaya

5. Kabut Asap di Tanah Pilih: Sepilihan Pantun

6. Barangkali Kita Memang Harus Berduka

7. Kabut Asap di Rumah Tuhan

8. Corona Berjalan Ke Rumah Kita Melalui Pintu Depan sebagai Monster

9. Sacred Nature: Menemukan Akar Krisis Modern

10. Batu Bara di Jambi sebagai Persoalan Kebudayaan

11. Polemik Batu Bara dan Hal-Hal yang Tak Selesai

12. Bencana Alam, Investasi dan Malapetaka yang Menghantui

13. Deforestasi dan Bencana di Jambi

14. Belajar dari Batu Kerbau

15. PETI dan Eco-pedagogy

16. Amuk Dompeng

17. Ekowisata dan Hutan Desa Lubuk Beringin

18. Menanam untuk Kesempurnaan Hidup

19. Tragedi Situ Gintung

20. Membaca Reset Indonesia

21. Ada Sesuatu di (dalam) Avatar

Posting Komentar

0 Komentar