Dunia yang Asing Patricia Piccinini



Oleh: Jumardi Putra

Langkah kaki saya mantab memasuki Museum MACAN di Jakarta Barat, terdorong oleh rasa penasaran untuk menyaksikan pameran perupa asal Australia, Patricia Piccinini. Pameran bertajuk CARE yang dikurasi oleh Tobias Berger ini berlangsung sejak 23 Mei hingga 6 Oktober 2024. Ini kali pertama bagi saya mengunjungi museum macan pada tanggal 3 September 2024, yang dikenal sukses membuat pelbagai pameran besar berkurasi.

Begitu melewati ambang pintu, setelah sebelumnya membayar tiket masuk, atmosfer imersif langsung menyergap indra. Pameran kali ini boleh dikata bukan sekadar galeri biasa, melainkan sebuah lanskap imajinatif yang menampung lebih dari 40 patung berukuran hidup, tiga instalasi video masif, hingga taman bunga surealis Celestial Field.

Sebelum melangkah lebih jauh menyusuri jalinan karya di dalamnya, saya tertegun mencoba memahami pemikiran di balik figur-figur yang membingungkan sekaligus memikat ini. Saya hanya seorang penikmat karya seni, bukan ahli senirupa, tidak terkecuali patung.

Seniman kelahiran Sierra Leone tahun 1965 ini dikenal luas atas kemampuannya membuat makhluk khayali (chimera) bergaya hiperealistis. Ia berhasil memadukan material sintetis seperti silikon, serat kaca, dan plastik ABS dengan unsur organik nyata—termasuk rambut manusia dan hewan taksidermi. Perpaduan ini melahirkan wujud hibrida yang tampak begitu hidup. Sangat detail. Melalui karyanya dalam pameran kali ini, Patricia mengikis garis tegas antara yang alami dan artifisial, mengajak kita merenungkan isu bioteknologi, ekologi, serta bagaimana manusia merespons hal-hal asing di sekitarnya dengan rasa kepedulian dan welas asih.

Penulis di depan karya patung Patricia

Tak pelak, sepanjang menikmati beberapa karya patung di sini, saya seperti sedang melakukan petualangan emosional yang intens. Di bagian awal saya disambut sesuatu yang asing lewat The Bond, sebuah patung yang memperlihatkan gurat kasih sayang seorang ibu saat menggendong anak transgenik berwajah unik. Menyusup lebih dalam, perhatian saya tertambat pada Kindred (2018), di mana seekor induk orang utan tampak telaten merawat bayi-bayinya yang uniknya memiliki raut wajah menyerupai manusia. Karya ini seolah meruntuhkan sekat emosional dan jarak evolusi antara manusia dan primata.

Tak kalah menarik, melalui instalasi The Couple (2018), Patricia menghadirkan pasangan makhluk hibrida yang bermukim di sebuah gubuk atau rumah kampung khas Indonesia. Penjelajahan saya berikutnya bermuara di ruang terakhir, di mana saya disambut oleh instalasi Celestial Field (2021)—hamparan ribuan bunga indah yang menghadirkan pemandangan surealis yang menenangkan sekaligus memukau mata.

Menikmati pameran CARE meninggalkan kesan mendalam yang terus terbawa hingga saya melangkah keluar museum. Karya-karya hiperealistis Patricia Piccinini berhasil menjahit isu-isu besar dunia—mulai dari ekologi hingga bioteknologi—dengan denyut kehidupan masyarakat Indonesia, membuktikan bahwa empati dan rasa peduli adalah bahasa universal yang mampu melampaui batasan spesies maupun wujud fisik.

*Jakarta, sumber foto Patricia di Musuem Macan.

*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) Malam di Jakarta Tidak Pernah Benar-benar Gelap

2) Taluo Barendo di Jalan Sabang

3) Di Jantung Malam Jalan Sabang

4) Satu Setengah Jam di Kobam Menteng

5) Di Puncak Menara Syahbandar Sunda Kelapa

6) Sepulang dari Museum Bank Indonesia

7) Apa Ada Ingin di Jakarta, Seperti dilepas Desa Melati

8) 3,5 Jam di Daniel S. Lev Law Library

9) Satu Jam di Ruang Ketiga Jalma

10) Tak Perlu Ke Puncak Mahameru Menemui Gie

11) Sepulang dari Museum Kebangkitan Nasional

12) Pallubasa Serigala

13) Ngadem di Goethe Institut

14) Suatu Siang di Erasmus Huis

15) Merajut Asa di Ruang Belajar Prof H.A.R. Tilaar

16) Ngadem di Freedom Institute Library

17) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi 

Posting Komentar

0 Komentar