Kenapa Saya Masih Menulis?

 


Oleh: Jumardi Putra

Dulu, ketika masih duduk di bangku kuliah, keinginan menulis lebih sering didorong oleh ambisi-ambisi besar—terinspirasi dari penulis hebat kaliber internasional—untuk mengubah dunia (cak iyo nian), atau ingin terlihat intelek di hadapan sesama civitas akademika—terlebih di hadapan mahasiswi (bagian ini hanya bumbu-bumbu kehidupan ala mahasiswa ditandai tiga hal utama: sajak, cinta dan buku), dan satu lagi kehendak menulis di media cetak (terutama majalah dan koran) serta mengikuti lomba penulisan kala itu, selain wadah bertukar pikiran dalam skala lebih luas, juga berharap mendapat honor dan hadiah (harap maklum, karena kantong tipis..hehe). Begitulah kira-kira.

Namun seiring berjalannya waktu, arah dan motif menulis itu bergeser. Kekuataan kata-kata hari ini, terutama di era surplus informasi, menemukan wujudnya yang problematik. Menulis bagi saya sekarang tak lagi melulu soal misi-misi bombastis seperti dahulu, melainkan usaha memungut hal-hal kecil dalam keseharian yang kerap terlewatkan. Menulis menjadi cara untuk menjaga kewarasan, merawat ingatan dari bahaya lupa yang kemudian kerap terjadi, serta memantik sesiapa saja untuk terus bersetia berbagi perspektif atau sudut pandang. Karena itu, menulis adalah bentuk lain dari tindakan komunikasi, sehingga sebuah tulisan dikatakan bagus bukan karena semata bangunan teori, data dan argumentasi, melainkan juga enak dibaca dan dimengerti.

Sayangnya, kita hari ini hidup di era yang bergerak terlampau cepat. Bre Redana, jurnalis senior Kompas cum sastrawan, mencermati fenomena era post-truth ini dengan penuh keheranan. Segala sesuatu mendadak menjadi penting dan genting; semua orang merasa harus menyampaikan sesuatu sesegera mungkin dengan prinsip "pikir belakangan". Dulu, sebuah karya lahir dari proses panjang yang mengendap melalui bacaan buku, ruang diskusi, dan keahlian yang dihargai. Kini, kita seolah tiba di era runtuhnya kepakaran (the end of expertise). Semua hal tumpah ruah di ruang digital: fakta, fiksi, cemoohan, mood, hingga luapan perasaan serba cepat yang tumpah atas nama kritik.

Bahkan, dalam urusan sederhana seperti berkirim pesan, melimpahnya emoji dan stiker di aplikasi perpesanan membuat banyak orang pelan-pelan kehilangan kemampuan merangkai kalimat panjang dan runtun, apalagi dituntut membaca buku berhalaman tebal. Nyatanya, respons atas sebuah gagasan yang dilempar ke pelbagai kanal media sosial maupun bilik perpesanan digital kerap dipangkas sebatas stiker yang dinilai sejiwa. Dalam konteks platform media soal, kehadiran sticker atau emoji tentu bukan hantu yang harus ditakuti, ia berguna untuk mengendurkan urat saraf di tengah kerumunan (noise) alam virtual. Namun, kerja penalaran tidak boleh berhenti di sana.

Fenomena ini kian terasa ketika kita membaca buku-buku tentang perjalanan. Saat berhadapan dengan buku-buku perjalanan seperti karya Eric Weiner, Agustinus Wibowo, hingga para penjelajah klasik seperti Ibnu Batutah, Ibnu Jubair, dan Ibnu Khaldun, saya kerap dibuat termenung. Betapa stamina dan kedalaman mereka berhasil merekam space dan place melintasi jaman. Ironisnya, di zaman sekarang, ketika teknologi mempermudah perpindahan fisik manusia dari satu tempat ke tempat lain, kepekaan kita memaknai realitas justru makin dangkal. Perjalanan yang kaya makna sering kali berakhir sebatas swafoto untuk diunggah di insta-story.

Saat yang sama, di tengah serbuan teknologi digital dan kemunculan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang memudahkan orang menulis serba cepat namun rentan rapuh, usaha merawat tradisi membaca dan menulis tidak boleh surut. Kita perlu bertanya kembali: di mana posisi kita di tengah airbah informasi saat ini?

Untuk menjaga tradisi itu, kita harus memulainya dari membaca, lalu menulis. Penulis yang bagus adalah juga pembaca yang tekun. Membaca bukanlah sekadar kerja kognisi, melainkan sebuah peristiwa yang multisisi. Begitu juga jangan mempertentangkan karya fiksi dan non-fiksi, sebab keduanya sama-sama penting, untuk menyebut saling melengkapi. Non-fiksi memperkuat pemahaman atas substansi topik, sedangkan fiksi melatih gaya bertutur yang renyah, gurih (tetap logik), dan menyentuh ranah kognisi-afeksi sebagai perisai memaknai gejolak di balik peristiwa dengan segala kompleksitasnya. Aktivitas membaca dan menulis akan menjadi pengetahuan yang tidak akan pernah lenyap dalam pikiran, karena ia tersimpan di dalam memori dan akan hadir kembali saat kita membutuhkan pasokan ide.

Dalam proses kreatif, mengelola ide membutuhkan kepiawaian tersendiri—seturut dengan jam terbang di dunia kepenulisan. Ketika ide-ide segar bergemuruh datang, maka tuliskan seluruh gagasan itu, lalu endapkan. Mengendapkan ide memberi waktu bagi pikiran untuk lebih tenang, menghindarkan kita dari sikap tergesa-gesa, dan memberi ruang bagi kreativitas menghasilkan kejutan baru baik, terutama mengajukan perspektif atau sudut pandang maupun.

Sekali lagi, sebuah artikel atau tulisan yang baik tidak semata bersandar pada kelengkapan data, sudut pandang, dan argumentasi yang kokoh, tetapi juga pada bagaimana ia diracik. Kemampuan ini mensyaratkan jam terbang membaca yang luas, keterlibatan aktif dalam diskusi (baik daring maupun luring) untuk menemukan perspektif unik, serta penguasaan teknis kepenulisan yang apik. Jangan biarkan pembaca terganggu oleh ketidakpahaman kita terhadap tata bahasa dan kausa teknis dasar. Ringkasnya adalah tulisan yang enak dibaca adalah gabungan dari ketepatan diksi, keefektifan kalimat, serta keberhasilan menghadirkan kritik dan refleksi (argumentatif) yang membuat orang betah membaca dari sejak kalimat pembuka hingga penutup.

Pada akhirnya, sebaik-baiknya tulisan adalah tulisan yang selesai dibuat: ia menyuguhkan hal baru, bernas, dan enak dibaca. Karena itu, ojo keakehan teori. Teruslah mengembara bersama ide dan imajinasi tanpa tepi. Segera ambil buku, buka laptop, dan menulislah dengan riang gembira!


*Kota Jambi, 29 Oktober 2026. Tulisan ini berangkat dari pengalaman penulis pribadi selama menekuni dunia kepenulisan, sesuatu yang terus menerus perlu diasah.

Posting Komentar

0 Komentar