Oleh: Jumardi Putra
Membersamai peringatan Sumpah Pemuda hari ini, Rabu 28
Oktober 2026, saya mengajak kita membuka kembali lembaran Semangat Muda—risalah tajam yang
digoreskan Tan Malaka pada Januari 1926 dalam masa pengasingan di Tokyo, Jepang—bukan
untuk meromantisasi masa lalu, tetapi untuk memastikan langkah republik ini agar
konsisten di jalan menuju janji kemerdekaan. Di tengah karut-marut politik,
ekonomi, dan hukum hari ini, ikhtiar tersebut mungkin tampak klise. Namun, ia
tetap menjadi kompas agar kita tidak tersesat dari cita-cita panjang para
pendiri bangsa (founding fathers).
Masa-masa dekade 1920-an menjadi salah satu fase paling produktif bagi
Tan Malaka dalam menghasilkan karya intelektual. Selain Parlemen atau Soviet dan risalah penting lainnya, Semangat Muda merekam bagaimana Tan
Malaka membedah realitas sosial zamannya. Sebagaimana dikaji oleh sejarawan
Harry A. Poeze dalam dua jilid bukunya berjudul Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik periode 1897-1925 dan 1925-1945 (Pustaka Utama Grafiti:1999/2000), karya-karya Tan Malaka pada
masa tersebut berfungsi sebagai panduan strategis bagi kaum tertindas (murba) untuk membangun kesadaran
politik yang otonom.
Kendati situasi Indonesia
hari ini telah jauh berubah dibandang zaman Tan Malaka, prinsip dasar
perlawanan terhadap imperialisme, kolonialisme, dan ketimpangan
struktural—sebagaimana dicita-citakan oleh para founding fathers—tetap
menemukan relevansinya. Buku karya pria kelahiran Pandam Gadang, Sumatera
Barat, 2 Juni 1897 ini memuat gagasan pokok tentang bagaimana menjalankan
organisasi revolusioner yang berpijak pada kondisi nyata masyarakat:
menggabungkan perjuangan politik nasional dengan pembebasan ekonomi kelas,
serta menyatukan kaum buruh, tani, dan borjuis kecil dalam satu barisan
perjuangan kemerdekaan.
Jika kita menarik garis lurus dari masa lalu ke era modern, lanskap
perjuangan pemuda Indonesia telah mengalami metamorfosis yang drastis. Jika
para pemuda di masa lalu mengangkat senjata untuk meruntuhkan kolonialisme
fisik, maka pemuda hari ini dihadapkan pada bentuk penjajahan modern yang jauh
lebih senyap namun mematikan, salah satunya yang relevan sekarang, yaitu krisis
ekologis yang mengancam ruang hidup, ketimpangan ekonomi global, serta
ketidakpastian masa depan di tengah disrupsi zaman.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah berlangsung di beberapa
daerah di Indonesia, misalnya, bukan sekadar bencana ekologis biasa. Ia boleh
dikata manifestasi dari kerakusan oligarki (pemilik modal di balik dunia
korporasi di sektor kehutanan) yang tidak hanya menghancurkan paru-paru bumi
Indonesia, tetapi juga merampas hak hidup generasi muda atas udara yang bersih
dan masa depan bumi yang layak huni. Dengan kata lain, penjajahan hari ini
mengancam bumi pertiwi kita dari dalam, merusak ruang-ruang hidup yang
semestinya diwariskan dengan lestari.
Paradoks
Bonus Demografi
Pergulatan multidimensional ini berlangsung di tengah momentum demografi
yang sangat krusial bagi bangsa Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik
(BPS), populasi pemuda di Indonesia tahun 2026—yang berada pada rentang usia 16
hingga 30 tahun—saat ini tercatat mencapai sekitar 66,83 juta jiwa, atau
mencakup 23,5 persen dari total keseluruhan penduduk nusantara.
Kehadiran hampir seperempat penduduk negeri dalam usia produktif ini
merupakan fondasi dari gelombang besar bonus demografi. Secara teoretis,
puluhan juta anak muda ini adalah energi pendorong utama yang dapat membawa
Indonesia menjadi bangsa yang maju, adil, dan berdaya saing global tepat pada
momentum satu abad kemerdekaannya (1945-2045).
![]() |
| Karya Tan Malaka |
Namun, angka optimistis tersebut menyimpan sebuah paradoks yang sepatutnya membuat kita terjaga dan memikirannya secara serius. Bonus demografi bukanlah sebuah berkah otomatis, melainkan sebuah pertaruhan besar. Di satu sisi, pemuda hari ini dibekali keunggulan komparatif yang luar biasa: literasi digital yang tinggi, akses informasi tanpa batas, serta jaringan global. Akan tetapi, di sisi lain, jutaan pemuda masih harus bergelut dengan pengangguran struktural, kualitas pendidikan yang timpang, keterasingan dari ruang produksi riil, hingga ancaman apatisme politik akibat sempitnya ruang partisipasi bermakna.
Jika energi besar dari puluhan juta pemuda ini gagal dikelola dengan
visi keadilan sosial dan kesadaran ekologis, bonus demografi dikhawatirkan akan
berubah menjadi bencana demografi—di mana generasi muda hanya menjadi penonton
pasif atas eksploitasi alam dan marginalisasi ekonomi di negeri sendiri.
Relevansi Semangat Muda
Membaca kembali buku Semangat
Muda karya Tan Malaka di tengah realitas Indonesia modern tentu
memperlihatkan jarak historis yang membentang jauh (terbit 1926). Betapapun
universal nilai idealisme yang diusungnya, karya tersebut memiliki keterbatasan
apabila diaplikasikan secara mentah (an
sich) terhadap problem anak muda hari ini, setidaknya dilihat dalam
beberapa hal berikut ini:
Pertama, Tan Malaka menghadapi kolonialisme klasik yang
kasat mata (pemerintah kolonial dan feodalisme birokrat). Sebaliknya, musuh
pemuda hari ini bersifat desentralisasi dan kompleks—mulai dari oligarki
terselubung, krisis iklim, hingga algoritma media sosial dan tekanan kesehatan
mental di tengah dunia kerja yang tidak menjamin kesejahteraan secara layak.
Risalah karya Tan Mala tentu belum menyediakan instrumen teknis untuk
menghadapi krisis digital atau transisi energi hijau.
Kedua, fokus pengorganisasian dalam pemikiran klasik
sezaman Tan Malaka tertuju pada kaum buruh (proletar) dan tani (marhaen)
di sektor produksi tradisional. Sedangkan saat ini, mayoritas pemuda berada di
sektor ekonomi gig (pekerja serabutan digital), pekerja kreatif, kelas menengah
urban yang rentan (precariat),
atau kaum terdidik yang teralienasi dari ruang agraria. Penerapan konsep lama
secara kaku berisiko gagal merangkul realitas sosiologis anak muda kontemporer.
Ketiga, diksi perjuangan revolusioner dari dekade 1920-an
sering kali terasa berat, doktriner, atau asing bagi generasi digital yang
akrab dengan pragmatisme ekonomi, budaya instan, dan gerakan sosial berbasis
isu spesifik (single-issue movements
seperti lingkungan atau kesetaraan).
Keempat, Tan Malaka menekankan rapat umum, kaderisasi
fisik, dan selebaran massa. Hari ini, arena perjuangan meluas ke ruang siber,
yang di satu sisi memudahkan mobilisasi, namun di sisi lain rentan memunculkan slacktivism (aktivisme jempol),
hoaks, serta polarisasi algoritma tanpa daya pukul nyata di dunia fisik.
Keterbatasan-keterbatasan di atas bukanlah alasan untuk meninggalkan
warisan pemikiran masa lalu Tan Malaka, melainkan panggilan bagi pemuda hari
ini untuk menerjemahkan semangatnya ke dalam strategi yang taktis, kontekstual,
dan berkelanjutan.
Di sinilah relevansi dari Semangat
Muda Tan Malaka menemukan urgensinya kembali. Semangat muda menuntut
transformasi dari sekadar potensi demografi menjadi aksi kolektif yang
terorganisir. Pemuda hari ini tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah
atau sekadar menjadi komoditas di ruang-ruang maya. Tantangan zaman—mulai dari
krisis iklim, karhutla (bagian dari bencana hidrometereologi), hingga ketimpangan
sosial—menuntut lahirnya kembali nalar kritis, empati ekologis, dan keberanian
moral kaum muda.
Sebagaimana Sumpah Pemuda 1928 berhasil menyatukan
tekad untuk mendirikan sebuah bangsa yang berdaulat, sumpah kaum muda hari
ini—yang bergemuruh dari dada 66,83 juta jiwa pemuda Indonesia—harus disatukan
untuk melindungi tanah, air, dan udara pertiwi dari segala bentuk kerusakan.
*Kota Jambi, 28 Oktober 2026. Ilustrasi di awal tulisan bersumber dari kanal medcom.id
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Menggugat Ingatan Politik: Refleksi 28 Tahun Reformasi
2) Membaca Ulang Kritik Karl Marx
5) Naoka Nemoto: Madam Soekarno
9) Sutan Sjahrir: Hidup Yang Tak Dipertaruhkan, Tak Layak Dimenangkan
13) Gusdur: Santri, Politisi dan Pemikir
14) Menimbang Ekonom Mar'ie Muhammad
15) Membaca Ekonom Kwik Kian Gie
16) Ekonom Bersuara Lantang Itu Pergi. Selamat Jalan, Faisal Basri
17) Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Ma'arif
18) Warisan Pemikiran Prof. Azyumardi Azra
19) Palu Godam Hakim Artidjo Alkostar
21) Dedikasi Cendekiawan Ignas Kleden dan Abdul Hadi WM
24) Budayawan Mbeling Prie GS dan Keindonesiaan
25) Mengenal Demografer Riwanto Tirtosudarmo
26) Meriyati dan Jenderal Hoegeng


0 Komentar