| Penulis di depan karya Christopher Lehmpfuhl |
Oleh: Jumardi Putra
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta dan gemuruh geopolitik dunia
yang kian riuh oleh pelbagai ketegangan, ruang galeri seni selalu menawarkan
jeda. Di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, jeda itu mewujud secara
utuh melalui sebuah pameran seni rupa bertajuk Art for Peace and Be to Be
Better, dimulai 18 sampai 30 Agustus 2026.
Melangkah memasuki ruang galeri Osman Efendi di TIM, suasana
khidmat dan kontemplatif langsung menyergap saya (21/8). Tajuk pameran yang
tampak klise ini, nyatanya bukan sekadar kalimat manis yang terpatri di dinding
ruang pamer, melainkan seruan visual yang relevan dari para perupa di tengah
dunia yang makin rentan oleh konflik dan ketidakpastian. Ruang pameran tertata
dengan apik, memadukan rupa-rupa corak—mulai dari eksperimentasi abstrak,
ketelitian realisme, hingga letupan ekspresionisme. Kendati awam di ranah
senirupa, saya melihat langsung setiap sudut ruangan galeri menyajikan narasi
beragam tentang bagaimana seni bekerja: merawat ingatan, menyerukan perdamaian,
dan memantik dorongan batin untuk menjadi manusia yang manusiawi.
Pameran ini menghadirkan perjumpaan estetik dari 27 seniman Indonesia, perupa tersohor asal Jerman Christopher Lehmpfuhl, serta Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kehadiran ragam latar belakang ini melahirkan dialektika visual sarat makna.
Karya lukis SBY mengangkat bentang alam dan lanskap penuh kedamaian, goresan kuasnya menghadirkan ritme alam yang teduh: bentangan langit luas, pemandangan laut yang tenang, dan pegunungan yang mengayomi. Kehadiran lukisan ini terasa sebagai refleksi personal seorang mantan pemimpin negara yang kini menyuarakan diplomasi budaya. Di atas kanvas, bahasa kekuasaan bertransformasi menjadi bahasa seni yang menenangkan, menyampaikan pesan perdamaian (peace) secara halus namun mendalam.
![]() |
Keragaman teknik dan latar belakang dari 27 perupa Indonesia makin mengukuhkan kedalaman pameran ini. Sebagian perupa menyuarakan dorongan perbaikan diri (be to be better) secara personal dan spiritual melalui eksplorasi simbolik. Sementara sebagian lainnya secara lugas merespons isu kemanusiaan, kritik sosial, serta kerinduan kolektif akan keharmonisan antarmanusia.
Pameran Art for Peace and Be to Be Better sebagai medan perenungan menghadirkan ruang mendalam bagi para pengunjung, setidaknya bagi saya sebagai penikmat senirupa.
Pertama, kanvas, garis, tekstur, dan warna dari seluruh
perupa mampu melintasi berbagai sekat rigid—baik politik, latar belakang
budaya, maupun kebangsaan. Di dalam galeri, perbedaan pandangan luruh oleh
kerinduan yang sama akan kedamaian.
Kedua, pesan di balik pameran ini mengingatkan kita bahwa
peace (perdamaian) bukan sebatas penghentian konflik atau ketiadaan perang
fisik. Perdamaian adalah proses batiniah yang berkelanjutan (be to be
better)—sebuah ikhtiar tanpa henti untuk terus membenahi diri, baik sebagai
individu maupun sebagai bagian dari komunitas global.
Ketiga, Taman Ismail Marzuki memiliki peran yang vital
sebagai ruang perjumpaan ide, perdebatan gagasan, dan ekspresi estetik yang
bernilai tinggi—meluaskan horizon pengetahuan sekaligus memperkaya tafsir atas
pelbagai simbol-simbol kebudayaan--bagi publik.
Pada akhirnya, pameran kali ini bagi saya pribadi tidak
hanya memanjakan mata, tetapi juga mengajak tiap pengunjung yang melangkah
keluar galeri untuk membawa pulang satu pertanyaan reflektif: sudahkah kita
mengambil peran untuk merawat perdamaian?
*Jakarta, 22 Agustus 2026. Foto dalam tulisan adalah perupa Christopher Lehmpfuhl asal Jerman dan suasana Pameran di TIM.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Malam di Jakarta Tidak Pernah Benar-benar Gelap
2) Rendang dan Taluo Barendo di Jalan Sabang
3) Di Jantung Malam Jalan Sabang
5) Di Puncak Menara Syahbandar Sunda Kelapa
6) Sepulang dari Museum Bank Indonesia
7) Apa Ada Ingin di Jakarta, Seperti dilepas Desa Melati
8) 3,5 Jam di Daniel S. Lev Law Library
9) Satu Jam di Ruang Ketiga Jalma
10) Tak Perlu Ke Puncak Mahameru Menemui Gie
11) Sepulang dari Museum Kebangkitan Nasional
14) Suatu Siang di Erasmus Huis
15) Merajut Asa di Ruang Belajar Prof H.A.R. Tilaar
16) Ngadem di Freedom Institute Library
17) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi


0 Komentar