Oleh: Jumardi Putra*
Kemuliaan seseorang bukan diukur dari seberapa tinggi jabatan yang dimilikinya, melainkan dari seberapa tulus ia berjuang dan menjaga kehormatan keluarganya seraya menolak tunduk pada keadaan.
Langit Telanaipura begitu terik, menyengat hingga menembus jendela kaca Mushalla
DPRD Provinsi Jambi. Di hadapan mimbar khotib, seorang pria paruh baya berbaju
kaos dan celana panjang levis terbaring pasrah bersama tas kecil yang
tergeletak di atas dadanya. Tatapannya kosong menerawang langit-langit langgar,
seolah berupaya meluruhkan sisa-sisa penat yang meremukkan sekujur tulangnya
sepanjang pagi.
Selepas menunaikan shalat zuhur, saya mendekatinya (18/8/26). Tidak banyak lagi
jamaah, hanya satu-dua pegawai yang juga memilih rebahan sejenak. Di kalangan
pegawai Sekretariat DPRD Provinsi Jambi, ia bukanlah sosok asing. Namanya Jazmizal,
tapi lebih akrab disapa Bang Ijal. Lelaki kelahiran Pariaman, Sumatera Barat,
Agustus 1972 ini pertama kali menginjakkan kaki di Kota Jambi pada tahun 1982
bersama kedua orang tuanya.
Jauh sebelum dikenal sebagai penjual jajanan kue tradisional, lulusan
STM Kota Jambi tahun 1992 ini sempat meniti karir di sebuah lembaga konsultan
di Tanah Pilih Pusako Betuah—Kota
Jambi. Namun, jalan itu tak berumur panjang. Ia memilih mundur ketika nuraninya
mulai berontak—menolak mengerjakan proyek pembangunan sebuah gedung dengan menghalalkan segala
cara demi pundi-pundi kekayaan.
"Tak tenang hati dan pikiran saya. Biarlah dapur saya mengepul
lewat jalan yang sempit, asal harga diri dan kejujuran tetap utuh tak
ternoda."
Sejak 2013, hari-harinya ia lakoni sebagai penjual kue tradisional di
beberapa sekolah dan kantor pemerintahan di Kota Jambi. Ia membuka lapak sederhana tepat di
hadapan ruang Tata Usaha, berdampingan dengan ruang Humas Sekretariat DPRD
Provinsi Jambi. Di atas meja kayu, berderet rapi nagasari, klepon, dan aneka
jajanan pasar lainnya. Kasubag Humas dan Protokol SETWAN DPRD Provinsi Jambi, Ahmad Darmadi, membenarkan ketekunan sosok di balik meja sederhana tersebut.
Diakui Bang Ijal, tempat ia berjualan di Kantor DPRD Provinsi Jambi kerap
disebut sebagai "kantin kejujuran". Apa sebab? Sering kali ia harus meninggalkan
lapaknya begitu saja, karena harus berjualan di tempat lain di waktu bersamaan.
“Sampai sekarang berlangsung aman. Para pegawai leluasa mengambil kue
dan membayar sendiri baik tunai maupun melalui aplikasi Qiris. Bahkan, terkadang ada yang berhutang lebih dulu untuk dibayar
kemudian,” ujarnya tersenyum.
“Apakah kue-kue dan makanan yang dijual diolah sendiri,” tanya saya.
"Saya hanya menjualkan kue milik orang lain dengan sistem bagi
hasil. Pilihan itu saya lakukan karena selain tidak memiliki modal, juga waktu
saya pribadi tidak cukup untuk mengolahnya," ungkapnya lirih.
Bagi pria berusia 54 tahun ini, fajar bukanlah sekadar penanda pagi, melainkan garis start dalam peperangannya melawan
kemiskinan. Rutinitas hariannya adalah sebuah orkestra ketekunan yang menguras
tenaga, mulai dari pukul 06.00 – 08.00 WIB: menjajakan kue di lingkungan
sekolah Al-Falah, tepat di sebelah Masjid Jami’ Al-Falah. Selanjutnya pukul
08.00 – 12.00 WIB ia mulai bergeser ke lingkungan Kantor DPRD Provinsi Jambi, lalu
berkeliling menyambangi lorong-lorong di kompleks Kantor Gubernur Jambi yang
berjarak sepelembaran batu dari Gedung Wakil Rakyat. Sesekali ia ditemani
anak lelakinya untuk bergantian menjaga lapak jualan.
Berulah selepas Zuhur, ia kembali menjajakan dagangannya menuju
RSUD Raden Mattaher, menawarkan kepada para pembesuk dan
tenaga medis di lingkungan rumah sakit plat merah tersebut.
Menembus lorong birokrasi dan melangkah dari satu instansi ke instansi
lain tentu bukan hal mudah. Ada rasa letih yang harus ia bunuh setiap hari.
"Dulu saya sempat ingin berhenti bekerja," kenang Ijal sambil
tersenyum tipis. "Tapi hidup menuntut saya untuk tidak menyerah pada
keadaan. Anak-anak butuh makan, dan dapur rumah harus tetap mengepul."
Di balik senyum ramahnya, tersimpan badai perjuangan yang berat. Ia
adalah seorang duda yang harus menghidupi enam buah hatinya: tiga laki-laki dan
tiga perempuan. Empat anaknya telah tamat SMA, sementara dua lainnya masih
duduk di bangku sekolah dasar dan SMP.
Di tengah himpitan ekonomi yang kian keras, hasil penjualannya sering
kali pas-pasan. Apalagi sekarang pencairan TPP pegawai kerap tersendat, sehingga turut mempengerahi dagangannya.
Saat ditanya tentang apa yang terbesit dalam hati dan pikirannya
sekarang setelah cukup lama melakoni profesi sebagai penjaja kue tradisional,
matanya menerawang jauh. Seketika retinanya berkaca-kaca.
"Capek itu pasti. Setiap rehat malam terbesit keinginan berhenti
bekerja seperti ini. Tapi, begitu saya sampai di rumah, melihat anak-anak...
wah, semua lelah itu luntur seketika," ucapnya dengan binar mata yang
menggenangkan haru.
Berkat tetesan keringat dari jualan kue ini pula, anak sulungnya kini
telah menginjakkan kaki di bangku kuliah semester pertama di sebuah kampus di
Kota Jambi, sementara si bungsu merawat mimpi tinggi untuk menjadi seorang guru
kelak.
Mengingat penggalan kisah perjalanan hidupnya, saya teringat sebuah refleksi indah dari mendiang
penyair Joko Pinurbo (7/4/2024), berikut ini:
"Saya sangat suka dengan citra burung; burung itu rezekinya tidak jelas, tetapi ia tetap berlari ke sana kemari dan menyanyi dengan gembira. Ada satu ayat dalam kitab suci: lihatlah burung-burung di udara, yang tidak menanam dan tidak pula menuai, tetapi dipelihara oleh Tuhan di surga."
Kendati pendapatannya tak menentu, rasa syukurnya jauh lebih
besar dari apa pun di dunia ini. Dari penggalan kisah perjalanan hidupnya, barangkali masing-masing kita perlu belajar tentang kehormatan seorang ayah (dimaknai orangtua: bapak-ibu) yang menolak tunduk pada keadaan demi orang-orang yang dicintainya.
*Kota Jambi, 23 Agustus 2026. Foto di atas adalah sosok Jazmizal.
*Tulisan-tulisan saya lainnya dapat dibaca di link berikut ini:
1) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana
2) Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya
3) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang
7) Besak Ota
8) Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau
9) Tambah Berisi, Tunduk Ke Bawah
10) Surat Terakhir untuk Mama: Luka di Pelosok Negeri
11) Kehidupan Ini Tak Bisa Kita Biarkan Penuh dengan Ratapan
12) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta
13) Menapak Senja di Ujung Jabung
14) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi
15) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling
16) Langkah Kaki Haruki Murakami
19) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik
20) Gundah Bersama Seorang Guru Besar
23) Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari
24) Hasta Siempre, Viejo Querido: Belajar dari Jose Mujica

0 Komentar