Langit Kembali Biru



Oleh: Jumardi Putra

Langit di sekitar Bandara Soekarno-Hatta berawan cerah pada Jumat, 6 November 2026. Di antara lalu-lalang langkah kaki dan riuh percakapan calon penumpang tujuan Jakarta–Jambi yang menanti panggilan boarding, ada keheningan tersendiri yang perlahan mengendap dalam dada. Di selang waktu menunggu di gate 15 itu, saya membuka lembaran buku Jalan Terjal Partisipasi Interest Migas Provinsi Jawa Barat. Buku ini merekam perjuangan panjang Pemerintah Provinsi Jawa Barat—pada era Gubernur Ridwan Kamil yang juga Ketua Umum Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan (ADPMET)—bersama BUMD daerah yang merayap dari titik nol hingga berhasil merengkuh kesepakatan dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) demi mengelola Participating Interest (PI) 10% migas yang menjadi hak daerah.

Data dan informasi—lengkap dengan berbagai kendala serta tantangan dari buku tersebut—menjadi salah satu bekal berharga bagi saya dalam membersamai kerja Panitia Khusus (Pansus) Migas DPRD Provinsi Jambi. Pelajaran praktis (best practices) yang termaktub di dalam buku setebal 105 halaman ini berguna untuk mendorong percepatan pengelolaan PI di wilayah-wilayah kerja migas Jambi, terutama dalam mengawal proses "bisnis to bisnis" (B2B) antara BUMD daerah dengan WK Jabung (PetroChina) dan WK Lemang (Jadestone Energy) yang kini tengah berjalan. Membaca lembar demi lembar buku itu menyadarkan kita bahwa ikhtiar bisnis ini menuntut kerja cerdas dan ekstra dari para pemangku kepentingan, tidak terkecuali komitmen kepala daerah penghasil migas yang dibantu oleh tim percepatan maupun konsultan independen. Tujuannya jelas: memastikan hak daerah dalam mengelola PI dapat terwujud sebagai salah satu alternatif untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui BUMD, tentu dengan tetap berpijak serta selaras pada perundang-undangan yang berlaku.

PT Migas Hulu Jabar—yang kini bernama Migas Utama Jabar (MUJ)—adalah BUMD pertama yang berhasil meraih Participating Interest 10 persen di wilayah kerja minyak dan gas bumi. Pengalihan ini diakui tidak dicapai dengan mudah. Ada banyak rintangan yang menghadang sekaligus kejutan tak terduga sepanjang proses pengalihan hak partisipasi tersebut. Butuh waktu hingga lima tahun sampai MUJ benar-benar berhasil merengkuh hak partisipasi di Wilayah Kerja Offshore North West Java (ONWJ). Begitu ringkasnya.

***

Mendengar panggilan bagi penumpang untuk memasuki pesawat, saya bergegas menyusuri garbarata, melangkah masuk ke kabin, lalu menempati kursi 37K—tepat di sebelah jendela kanan dengan pemandangan sayap pesawat yang membentang. Saya selalu menyukai kursi di sebelah jendela karena menawarkan keleluasaan untuk memandang luasnya langit dan gugusan awan di ketinggian jelajah sekitar 35.000 kaki di atas permukaan laut. Selain membaca, terkadang jika memungkinkan, saya membuka laptop untuk menulis sepanjang penerbangan.

Jarum jam bergerak tepat ke angka 09.35 WIB. “Bismillahi majreha wa mursaha, inna rabbi la ghaffurur rahim”—dengan menyebut nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya, sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Doa itu berayun lembut dalam hati saat burung besi Garuda Indonesia bernomor penerbangan GA126 mulai melintasi landasan, melepas tumpuan bumi, dan akhirnya membumbung tinggi menembus bentangan langit Jakarta yang biru.

Namun, begitu mencapai ketinggian jelajah, cerahnya angkasa perlahan melebur ke dalam gulungan awan tebal yang bergumul pekat. Musim sepertinya sedang bergeser; hujan yang belakangan mulai sering membasahi bumi Sumatra seolah membawa napas kesejukan. Ancaman kebakaran hutan dan lahan yang sempat menyelimuti hari-hari dalam dua bulan terakhir, terutama di Provinsi Jambi dan Sumatra Selatan, memang jauh berkurang. Meski begitu, fakta di lapangan masih menunjukkan adanya titik-titik api di beberapa lokasi sehingga pemerintah daerah tak boleh abai—terlebih di Provinsi Jambi saja, luasan karhutla telah menembus angka 5.300 hektare lebih sepanjang tahun ini. Bara yang mengendap jauh di celah-celah kedalaman lahan gambut menyisipkan pesan yang teramat jelas: pemulihan butuh ketelitian yang terintegrasi, dan kewaspadaan tak boleh padam. Lebih lanjut baca di sini: Terbang Malam di Tengah Karhutla.


Di balik jendela kabin yang dingin, di atas bentangan Selat Sunda yang anggun diselimuti awan berarak, saya beralih melanjutkan bacaan buku best-seller bertajuk Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring karya dr. Andreas Kurniawan, seorang psikiater yang mulai saya baca sejak penerbangan Jambi–Jakarta sebelumnya (3 November 2026). Di tengah atmosfer angkasa yang sunyi, narasi reflektif sang psikiater meresap begitu dalam. Buku itu bukan diktat psikologi yang berjarak dari realitas, melainkan sebuah rekaman emosional yang amat telanjang dari seorang anak yang mendadak kehilangan sang ayah, dirangkai bersama pelbagai kisah lainnya yang menggugah.

Lewat alur dan tuturan yang mengalir, dr. Andreas menelanjangi tabiat masyarakat modern yang kerap memaksa mereka yang sedang terluka untuk "cepat pulih", "tetap kuat", dan secepat mungkin kembali produktif. Toxic positivity semacam itu justru menyumbat rongga dada orang yang sedang berduka. Bagi penulis, duka bukanlah penyakit yang mesti diburu obatnya atau dirasionalkan dengan kalkulasi logika instan, melainkan sebuah pengalaman manusiawi yang utuh dan harus dihidupi. Lewat metafora yang sederhana namun menghunjam, penulis buku ini menyamakan duka dengan tumpukan piring kotor: tak seorang pun menikmati proses mencucinya, tetapi untuk terus melanjutkan hidup, kita harus rela duduk di depan bak cuci, membasuh dan meletakkannya satu per satu. Menariknya lagi, kelulusan akademisnya sebagai psikiater nyatanya tak memberi imunitas dari perihnya kehilangan; duka tidak hadir untuk dianalisis, melainkan untuk dirasakan dan dipeluk dengan penuh kesabaran.

Substansi dalam buku setebal 208 ini, hemat saya, sangat relevan dengan deru zaman hari ini. Di era ketika kecepatan, performa, dan pencapaian material diagungkan, kita sering kali abai bahwa ruang privat jiwa membutuhkan jeda untuk merawat kerapuhannya sendiri. Menghadapi duka, tekanan hidup, maupun kelelahan kolektif menuntut keberanian yang persis sama seperti mencuci tumpukan piring kotor: dilakukan secara bertahap, sunyi, tanpa sorak-sorai tepuk tangan, tetapi menjadi fondasi esensial agar batin kita kembali bersih dan mampu bernapas lega.

***
Suara halus pengumuman dari kabin memecah lamunan, menandakan pesawat mulai menurunkan ketinggian dan menyibak tirai awan saat memasuki ruang udara Provinsi Jambi. Ada kelegaan yang membuncah ketika menatap ke luar: langit Jambi kini bersih, tak lagi pekat diselimuti kabut asap seperti tiga minggu lalu. Dari balik jendela, alur raksasa Sungai Batanghari membias kuning keemasan disiram cahaya matahari yang menerobos celah cloudscape.

Sungai bersejarah—terpanjang di Sumatra—itu kembali mengalirkan nadinya setelah dua bulan belakangan menyusut di pelbagai titik akibat kemarau panjang. Pemandangan indah tersebut membawa rasa syukur, namun sekaligus membisikkan peringatan: bahwa air yang memulihkan kehidupan (terutama saat hujan deras dengan intensitas yang tinggi) juga membawa potensi ancaman bencana banjir dan longsor di daerah hulu, menuntut kesiapsiagaan ekstra dari pemerintah daerah dan segenap warganya.

Melihat aliran Sungai Batanghari yang kembali beriak di bawah sana, pikiran saya tertaut pada perenungan sepanjang penerbangan hampir satu jam ini. Betapa erat kaitan antara gerak alam, perjuangan menegakkan hak daerah (PI Migas), dan kedalaman batin manusia. Sebagaimana lahan gambut yang kerap menyimpan bara tersembunyi, begitu pula proses panjang mengawal hak-hak daerah atas kekayaan migas yang penuh jalan berliku. Seperti sungai yang merindukan turunnya hujan setelah kemarau panjang, jiwa kita pun kerap melintasi masa-masa gersang dan lorong-lorong kesedihan yang pekat.

Hujan yang membasahi bumi, upaya memadamkan sisa api, ketekunan merajut aturan, hingga jemari yang sabar membasuh piring kotor satu demi satu—semuanya adalah lambang pemulihan. Bahwa setiap bentuk penyembuhan dan keberhasilan tidak pernah bisa dicapai dengan tergesa-gesa; ia menuntut kesabaran, ketulusan, dan waktu untuk merawatnya hingga tuntas.

***

Roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu dengan lembut, menandai pendaratan sempurna di Bandara Sultan Thaha Saifuddin sekira pukul 10.29 WIB. Langkah saya resmi berpijak di Kota Jambi—Tanah Pilih Pusako Betuah—sebuah julukan penuh marwah dan berkah. Penerbangan dari Jakarta menuju kota bersejarah ini tidak sekadar memindahkan raga melintasi bentangan jarak, melainkan telah menjadi sebuah perjalanan meditatif di atas angkasa: mengajarkan bahwa duka, kemarau, perjuangan, dan ketidakpastian adalah ritme alamiah hidup yang perlu dirangkul dengan penerimaan (pemahaman) dan kesabaran, hingga pada akhirnya, langit batin dan tanah pengabdian kita menemukan birunya kembali.

 

*Kota Jambi, 7 November 2026.

*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) Malam di Jakarta Tidak Pernah Benar-benar Gelap

2) Taluo Barendo di Jalan Sabang

3) Di Jantung Malam Jalan Sabang

4) Satu Setengah Jam di Kobam Menteng

5) Di Puncak Menara Syahbandar Sunda Kelapa

6) Sepulang dari Museum Bank Indonesia

7) Apa Ada Ingin di Jakarta, Seperti dilepas Desa Melati

8) 3,5 Jam di Daniel S. Lev Law Library

9) Satu Jam di Ruang Ketiga Jalma

10) Tak Perlu Ke Puncak Mahameru Menemui Gie

11) Sepulang dari Museum Kebangkitan Nasional

12) Pallubasa Serigala

13) Ngadem di Goethe Institut

14) Suatu Siang di Erasmus Huis

15) Merajut Asa di Ruang Belajar Prof H.A.R. Tilaar

16) Ngadem di Freedom Institute Library

17) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi 

Posting Komentar

0 Komentar