Oleh: Jumardi Putra
Jambi pernah memiliki seorang pemuda yang bertungkus-lumus
di lapangan kebudayaan melalui sastra, teater, dan jurnalisme. Dialah Ary Setya
Ardhi. Pria kelahiran Jakarta, 31 Mei 1967, ini sejak tahun 1990 menambatkan
cinta dan perjuangannya di Tanah Pilih
Pusako Betuah, Kota Jambi, hingga takdir menutup usia produktifnya di Rumah
Sakit Asia Medika Jambi pada 19 Februari 2006 akibat penyumbatan pembuluh darah
otak. Kepergiannya di usia 39 tahun sontak mengejutkan banyak pihak kala itu, terutama dari
kalangan jurnalis dan seniman Jambi.
Penyair dan esais Afrizal Malna kala itu menyebutnya sebagai penyair
paling berbakat yang lahir dari rahim kota (Jambi) yang belum memiliki tradisi
kepenyairan mapan. Rekam jejak kepenyairan Ary terbentang lewat antologi
tunggal seperti Kelabu I–II (1986–1987), Sajak Matahari (1991), Etude
(1993), Opus (1996), Metro (1998), naskah drama/puisi Tembang
Antar Benua (1998), serta keterlibatannya dalam berbagai antologi nasional antara lain Dari Negeri
Poci 3 (1996), Mimbar
Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Zamrud
Khatulistiwa (1997), dan Teriakan Kota Bisikan Kata (2004).
Menariknya, perhatian Ary melampaui batas bilik kesusastraan dan
jurnalisme. Melalui kolom opininya di Harian Jambi Independent sepanjang
Mei hingga Juli 1998—tempat ia juga bekerja sebagai redaktur budaya—terkuak
dimensi intelektual publiknya yang tajam, yang selama ini jarang dipercakapkan.
Di tengah gelombang reformasi 1998, kolom-kolom Ary boleh dikata memancarkan
keberanian membaca transisi politik dalam bingkai kebudayaan. Meskipun di era
tersebut sejumlah penulis dan aktivis Jambi seperti Iip Ranupane, Maizar Karim,
Fauzi Syam, A. Somad, dan Musri Nauli turut bersuara melalui opini, intensitas
dan konsistensi ulasan Ary menempatkan posisinya sebagai salah satu pemikir
kebudayaan yang paling menonjol.
Merujuk pada arsip belasan opini yang saya temukan di ruang Deposit Arsip
Perpustakaan Provinsi Jambi, bangunan gagasan besar Ary bergerak secara runtut
dari kritik struktural makro (politik nasional dan feodalisme), reformasi
institusi seni lokal, hingga estetika sastra dan teater.
Arus Reformasi
Ketika krisis multidimensi melanda Indonesia, puncaknya pada Mei 1998, Ary menolak
mengambil posisi apolitis di dalam "menara gading" seni. Dalam
tulisan bertajuk "Fenomena Reformasi, Dilema Krisis Demokrasi"
(21 Mei 1998), ia membedah transisi politik nasional—termasuk perpindahan kekuasaan
ke B.J. Habibie dan wacana reshuffle—dengan peringatan keras bahwa
reformasi prosedural hampa tanpa pembersihan dari dominasi militerisme dan
nepotisme.
Kritik sosiologis ini diperdalam dalam "Nepotisme, Produk
'Tradition-Culture' Norma Ketimuran" (11 Juni 1998). Ary membongkar
bagaimana selubung "norma ketimuran" kerap disalahgunakan untuk
melanggengkan praktik Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) serta membungkam
nalar kritis masyarakat. Bagi Ary, budaya ketimuran yang sejati berakar pada
keluhuran moral, bukan tameng untuk mengawetkan status quo penguasa feodal.
Pandangan Ary yang menempatkan "norma ketimuran" sebagai akar
feodalisme berisiko terjebak pada esensialisasi dikotomi Timur versus Barat (orientalisme
ala Edward Said). Praktik KKN Orde Baru sejatinya lebih tepat dibaca sebagai
produk dari kapitalisme kroni (crony capitalism—Richard Robison; Jeffrey
Winters) alih-alih sekadar cacat kultural nilai tradisional. Selain itu, kritik
Ary terhadap dinamika gerakan mahasiswa 1998 yang dianggap kurang matang sering
kali mengabaikan sifat transisi pasca-otoritarian yang cair dan terfragmentasi,
di mana kalkulasi taktis jangka pendek kerap lebih mendesak ketimbang cetak
biru konstitusional yang ideal (Sidney Tarrow).
Tata Kelola Kelembagaan Seni
Sikap kritis Ary tidak berhenti pada tataran wacana nasional, melainkan
langsung diterjemahkan ke dalam kancah lokal melalui tata kelola kelembagaan
seni. Sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jambi (DKJ) sekaligus pemimpin
Teater Bohemian, ia melancarkan kritik tajam terhadap kebekuan institusi seni
melalui dua seri opini: "Mendesak Totalisme Reformasi Dewan Kesenian
Jambi" (4–5 Juni 1998). Ia membongkar kemandekan birokratisasi seni,
pengelolaan dana Inpres yang tidak transparan, serta konflik kepentingan akibat
rangkap jabatan pengurus birokrasi.
Gagasan ini berlanjut dalam "Status Quo Mereformasi Nasib
Seniman" (11 Juli 1998) serta "Reformasi Mentora, Pembangunan
Pembaharuan Aliansi" (2 Juni 1998) dan "Aksi Reformasi
Mentora, Yang Terabaikan, Reformasi Kesenian" (13 Juni 1998). Ary mendesak agar wadah kesenian bertransformasi menjadi jembatan pembebasan, di
mana kualitas karya dan kemandirian seniman jauh lebih utama daripada sekadar
popularitas sesaat atau kooptasi kekuasaan.
![]() |
| Ary Setya Ardhi. Sumber: Wikipedia.org |
Desakan Ary agar institusi seni melepaskan diri dari cengkeraman birokrasi negara patut diapresiasi demi menjaga indenpendensi seniman. Namun, merujuk pada sosiologi budaya Pierre Bourdieu (The Field of Cultural Production), medan kultural senantiasa berkelindan dengan medan kekuasaan ekonomi dan politik. Di daerah dengan pasar seni (art market) dan filantropi mandiri yang belum matang, ketergantungan pada patronase anggaran negara (seperti dana APBD/Inpres) kerap menjadi satu-satunya jaminan material agar roda organisasi seni tetap hidup. Pemutusan total hubungan dengan negara tanpa kesiapan instrumen pendanaan alternatif justru berisiko menjerumuskan seniman ke dalam kerentanan ekonomi yang lebih parah.
Sastra, Kritik Teater, dan Kebijakan Publik
Pada lapis paling mendasar, seluruh gagasan politik dan kelembagaan
tersebut bermuara pada estetika. Sebagai seniman berdedikasi tinggi, Ary meyakini bahwa kerja kreatif menuntut keseimbangan antara nurani dan disiplin
bentuk.
Dalam esai "Karya Sastra di Antara Keseimbangan Kritik"
(31 Mei 1998), ia menekankan pentingnya resepsi sastra yang sehat antara
kreator, penikmat, dan kritikus agar sastra Jambi tidak terjebak pada tema-tema
artifisial yang membingungkan. Refleksi ini diuji secara langsung ketika ia
membedah pementasan Teater Klik membawakan naskah Molière lewat "Kegagapan
Mengusung Keutuhan Alur Cerita dan Pesan Moral" (19 Mei 1998), serta
mengulas dilema teater tradisi dan kritik yang mandul dalam "Mempertimbangkan
Tradisi dan Kritik Teater" (17 Juli 1998). Ketajaman analisis ini
turut diarahkan pada kritik atas kebijakan populis pemerintah yang parsial
dalam opini "Populis vs Dangdutis" (28 Juni 1998).
Pendekatan estetika Ary yang menuntut "keutuhan alur" dan
kesetiaan pada "pesan moral naskah" mencerminkan konvensi teater
dramatis klasik. Dalam pembacaan teater kontemporer, utamanya gagasan teater
postdramatis Hans-Thies Lehmann, pemecahan narasi, dekonstruksi alur, dan
improvisasi radikal justru dipandang sebagai bentuk valid kebebasan ekspresi
melawan otoritas teks tunggal. Demikian pula dalam memandang kebijakan populis,
kendati kritik Ary terhadap pencitraan permukaan sah secara politis, teori
populisme Ernesto Laclau menunjukkan bahwa instrumen subsidi atau kebijakan
instan masa krisis berfungsi vital sebagai peredam kejut sosial guna melindungi
masyarakat bawah dari kebinasaan ekonomi absolut.
Membaca kembali rekam jejak intelektual Ary Setya Ardhi di lembar Jambi
Independent menegaskan bahwa seorang seniman sejati tidak pernah memilih jalan
steril di tengah guncangan sejarah zamannya. Melalui bait-bait puisi maupun deretan opini kritisnya di surat kabar, Ary telah menunjukkan bahwa
kata-kata memiliki daya gugah moral untuk merawat akal sehat, menggugat
kebekuan struktur, dan menuntun kebudayaan lokal menuju horizon peradaban yang dinamis dan berkemajuan.
*Rabu, 4 November 2026. Foto di awal tulisan merupakan kreasi AI yang bersumber dari foto hitam putih Ary Setya Ardhi dalam tulisan ini. Penulis membuka diri terhadap asupan informasi maupun data lanjutan dari siapapun untuk menghimpun tulisan-tulisan Ary Setya Ardhi (opini dan esai) yang sangat mungkin masih terserak di banyak sumber media cetak/koran semasa ia hidup.
*Berikut tulisan-tulisan saya lainnya:
1) Mengenang Maestro Tom Ibnur (1952-2026)
2) Si "Bulldozer" Masjchun Sofwan (Mengenal Gubernur Jambi 1979-1989)
3) Srie Soedewi, Sosok Cemerlang di Balik Gubernur Jambi Maschun Sofwan
4) Jambi Yang Menanti Jamahan, Buah Pikiran Djamaludin Tambunan
5) Hanafie, Gubernur Jambi Terpilih (Gagal) Dilantik
6) Haji Hasan, Orang Gedang dari Empelu
7) A. Mukty Nasruddin, Penulis Sejarah Jambi Yang Dilupakan
8) Annabel Teh Gallop, Jambi dan Filologi di Zaman Gawai
9) Mengenal (Penjabat) Gubernur Jambi 1957-2024
10) Emi Nopisah, Dari Ajudan Gubernur sampai Sekretaris DPRD Provinsi Jambi
11) 65 Pemikiran Tokoh untuk 65 Tahun Provinsi Jambi
12) Jambi Tempo Dulu, Catatan Sepulang dari Pameran HUT Provinsi Jambi
13) Kisah Mayloedin ADN dan Buku-bukunya
14) Sosok dan Pemikiran Junaidi T. Noor
15) Mengenang Sakti Alam Watir
16) Selamat jalan, Bung Nurul Fahmy
17) Firman Lie dan Karya Seni di Ruang Publik
18) Kamal Firdaus: Ia Yang Masih Merisaukan Penegakan Hukum di Republik Ini
19) Langkah Sunyi Bung Firdaus
20) Djang Aisjah Muttalib, Penulis Sejarah Sarikat Abang di Jambi 1916
21) Jejak H. A. Thaib Hanafiah, Pejuang Jambi
22) Syamsul Watir dan Pers Jambi (Tanpa) Pusat Dokumentasi
23) Napak Tilas Sejarah Jambi, Warisan Usman Meng
24) Obituari Sulaiman Hasan, Datuk Bandar Paduko Betuah
25) Setelah Fakhrudin Saudagar Tak Ada Lagi
26) Jalan Seni Pelukis Fauzi Z
28) Peninggalan Abdurrahaman Sayoeti Tidak Terawat dan Kisah Yanti Mustafa Menjaganya
29) Sisi Lain Lily Sjarif, Istri Gubernur Jambi Abdurrahman Sayoeti
30) Kisah Putri Gubernur Jambi Djamaludin Tambunan Bersama Bung Karno
31) In Memoriam: M. Ali Surakhman (1974-2026)
32) Prematur: Catatan Atas Buku Biografi Haji Abdurrahman Sayoeti


0 Komentar