Oleh: Jumardi Putra
Belum lama ini, saya dan istri mengunjungi Museum Sriwijaya Dharmakirti
di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarojambi—kompleks cagar budaya
terluas di Asia Tenggara yang menyimpan simpul-simpul ingatan peradaban masa
lampau. Berdasarkan temuan arkeologis mutakhir, denyut peradaban di kawasan ini
bahkan diidentifikasi telah bermula sekitar abad ke-5 Masehi, jauh melampaui
estimasi kronologis konvensional sebelumnya kisaran abad ke-7 hingga ke-13 Masehi.
Kendati telah berkali-kali mengunjungi KCBN Muarojambi, jalan-jalan berdua akhir pekan kali ini memberikan pengalaman yang berbeda (Sabtu, 24 Oktober 2026). Untuk pertama kalinya, kami menjelajahi ruang kuratorial yang menampung rekaman sejarah kawasan ini dalam sebuah museum nan megah dengan luas 10 hektar. Kualitas museum ini boleh dikata tidak kalah dari Museum Tsunami di Aceh, Museum Negeri Sonobudoyo di Yogyakarta, maupun Museum Manusia Purba Sangiran di Sragen, Jawa Tengah—untuk menyebut tiga contoh dari puluhan museum di tanah air yang pernah saya kunjungi dalam dasawarsa terakhir. Namun, menurut hemat saya, koleksi museum ini masih perlu ditambahkan, sejauh sejalan dengan storyline KCBN Muarojambi.
Sebagai pembaca yang akrab dengan literatur tentang KCBN Muarojambi, penyematan nama Dharmakirti (dalam ejaan Sanskerta yang lebih spesifik dinamakan DharmakÄ«rtiÅ›rÄ«) —yang bersanding dengan nama Sriwijaya—pada museum ini memantik perenungan mendalam. Pemakaian nama tersebut tentu bukan sekadar formalitas administratif, melainkan berpijak pada rekam jejak historis kawasan yang telah berdenyut sejak abad-abad awal pertumbuhan maritim Nusantara.
Pusat Ilmu Pengetahuan
Dalam historiografi Suvarnadvipa (sebutan kuno untuk Pulau Sumatera), nama Dharmakirti diabadikan sebagai simbol kemegahan intelektual Kadatuan Sriwijaya. Berdasarkan riset epigrafi dan catatan sejarah—terutama merujuk pada perjalanan pandita agung Atisha Dipamkara (982–1054 M) yang berlayar dari India pada sekitar 1011–1012 M menuju Suvarnadvipa untuk mendalami ajaran bodhicitta dan berguru kepada mahaguru Dharmakirti selama kurang lebih 12 tahun (± 1012–1025 M)—Muarojambi terbukti bukan sekadar pusat keagamaan. Lebih dari itu, kawasan ini adalah sebuah kosmopolis pengetahuan, pusat pendidikan tinggi internasional, sekaligus laboratorium epistemologi maritim pada masanya. Lebih lanjut dapat dibaca di link ini: Menemukan Peradaban Yang Hilang di Muarojambi dan KCBN Muarojambi: Cangkang Kecendiakaan.
![]() | ||
|
Pada tahun 2013, saya menuangkan kekaguman atas kegemilangan masa lampau
tersebut ke dalam sebuah puisi bertajuk "Atisha Berguru di Svarnadvipa" dalam buku Ziarah Batanghari (Ayyana, Yogyakarta):
“Sejengkal kebaikan hati,
Kedamaian batin dan hati yang mengabdi.”
Angin muson datang lebih dini,
Atisha segera berkayuh
Menjauh dari Nalanda
menuju Svarnadvipa
Memerahu hempasan badai.
Pada pelayaran sejauh itu
Kajanglako menceritakan generasi datang dan pergi
Merasai sejuk tanah pilih pusako betuah
Tibalah di lembah Batanghari
Berair kecoklatan berarak ringan
Dipayungi sutra merata
Mengikis lumut yang mengerak
Di ranting-ranting waktu
Menemui Dharmakirti
Berpayung bukit sengalo
Teduh memuara
Secara filosofis, sosok Dharmakirti menyimbolkan pilar-pilar peradaban
intelektual yang kokoh. Ia mengajarkan ketajaman logika dan kebenaran untuk
menguji realitas secara kritis, objektif, serta terbebas dari dogmatisme.
Selain itu, ia merawat keterbukaan intelektual dan keberanian membangun ruang
dialog lintas batas budaya tanpa sekat kedaerahan yang sempit. Lebih jauh lagi,
Dharmakirti membawa etika kebajikan (dharma) sebagai prinsip mutlak:
bahwa segala pengetahuan dan pencapaian nalar harus diabdikan bagi kemaslahatan
makhluk hidup serta keberlanjutan tatanan ekologis.
Ketika nama besar itu kini diabadikan menjadi sebuah museum di KCBN Muarojambi, ia memikul imperatif moral yang tidak ringan. Museum ini seharusnya tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan batu bata berumur tua, fragmen arca, keramik asing, dan manik-manik kuno, melainkan bertransformasi menjadi pusat pembelajaran kritis atas dinamika zaman yang bergerak kencang dengan segala problematikanya.
Kejayaan Masa Lalu dan Krisis Ekologis
Berdasarkan temuan arkeologis dan kajian ekologi historis, kompleks situs
Muarojambi dapat hidup dan berkembang karena keterikatan yang harmonis antara
manusia, jaringan kanal air kuno, dan ekosistem Sungai
Batanghari. Namun, ketika spirit Dharmakirti digunakan sebagai sudut pandang
reflektif-autokritik, terbentang jurang pemisah yang mengiris hati antara
kejayaan peradaban masa lalu dan problematika kontemporer Jambi.
Jambi dewasa ini dihadapkan pada krisis ekologis yang kian
mengkhawatirkan serta rusaknya urat nadi Sungai Batanghari—sungai yang dulu
menjadi saksi kebesaran peradaban maritim Melayu Kuno dan Sriwijaya. Muarojambi
tumbuh karena menghormati keseimbangan alam, mengajarkan esensi etika
keterhubungan (interdependence) antarsesama makhluk dan ekosistem
sungai.
![]() |
| Suasana dan koleksi Museum Sriwijaya Dharmakirti |
Ironisnya, kenyataan hari ini menunjukkan hal yang berkebalikan. Sungai Batanghari dan kawasan penyangganya mengalami degradasi parah akibat pencemaran limbah, pendangkalan, maraknya Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI), serta konversi lahan hutan dan gambut yang masif. Menghadirkan narasi besar Dharmakirti di dalam museum terasa begitu paradoksal ketika kita gagal merawat sungai yang dulu menghidupkan peradaban sekaligus genah sang mahaguru dikunjungi para penimba ilmu dari segala penjuru.
Pengamatan terhadap lanskap sosial-ekonomi kontemporer memperlihatkan adanya pergeseran orientasi yang telak: dari peradaban pengetahuan menuju cengkeraman ekonomi ekstraktif yang masif.
Peradaban Melayu Kuno dan Sriwijaya di Muarojambi mencapai puncak kejayaannya karena menempatkan ilmu pengetahuan, pemikiran, filsafat, dan jaringan perdagangan budaya sebagai nilai tawar utama di panggung global. Sebaliknya, orientasi pembangunan Jambi hari ini masih terjebak dalam ketergantungan pada sektor ekstraktif pasif, seperti batu bara, perkebunan monokultur skala besar, serta minyak dan gas (migas).
Ketergantungan ekonomi ini kerap melahirkan karut-marut konflik agraria,
kerusakan infrastruktur jalan publik akibat angkutan tambang, hingga
marjinalisasi masyarakat sekitar. Singkat kata, Jambi sedang mengalami
kemerosotan paradigma yang serius: turun kelas dari peradaban pemikiran menuju
peradaban pengerukan atau eksploitasi atas sumber daya alam.
Kerentanan struktural ini kian diperparah oleh ancaman komodifikasi
kebudayaan yang kerap mengabaikan kedalaman intelektual dan substansi warisan
sejarah. Nama Dharmakirti berisiko tereduksi sekadar menjadi merek pariwisata
atau stempel administratif dalam proyek revitalisasi cagar budaya nasional.
Ketika KCBN Muarojambi dipugar dan ditata ulang secara besar-besaran,
tantangan terbesarnya adalah memastikan agar nilai-nilai kebajikan, budaya
riset, dan tradisi berpikir kritis sang mahaguru tidak tenggelam di balik
keriuhan pariwisata massal. Tanpa penumbuhan ekosistem riset yang
berkelanjutan, penguatan literasi sejarah lokal, dan pelibatan ruang berpikir
kritis masyarakat, revitalisasi ini hanya akan berputar pada kulit luar fisik
bangunan tanpa menyentuh esensi peradabannya.
Lebih dari sekadar gedung museum beserta koleksi benda cagar budaya (tangible)
di dalamnya, keberadaan masyarakat sekitar dan kawasan KCBN Muarojambi dengan luas kawasan 3.981 hektar atau 31 kali lebih luas dari
pada Percandian Borobudur di Jawa Tengah merupakan living museum dalam arti yang
sesungguhnya. Oleh karena itu, penting bagi siapa saja yang ingin memahami
secara mendalam makna dan nilai luhur yang terkandung di dalam kawasan
bersejarah ini.
Menyematkan nama Dharmakirti pada museum ini—yang berarti menghormati warisan intelektual sang mahaguru—menuntut kesediaan kita untuk merawat ekosistem kawasan bersejarah yang terhubung dengan Batanghari beserta seluruh jejaring kehidupannya. Ini menuntut kita untuk menghentikan keserakahan ekstraktif yang merusak ruang hidup bersama, serta menempatkan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan kembali sebagai panglima utama dalam menata pembangunan daerah Jambi saat ini hingga jauh ke depan.
Jika iktikad menemukan kembali spirit sang mahaguru itu diabaikan, nama Dharmakirti berukuran besar di ambang pintu museum
selamanya hanya menjadi ironi yang sunyi: sebuah monumen pengingat betapa
jauhnya kita telah melangkah tersesat dari kearifan para leluhur sendiri.
*Kota Jambi, 7 November 2026.
Referensi pendukung, antara lain:
- Agus Widiatmoko (2015); disertasi berjudul
Situs Muarajambi sebagai Mahavihara Abad ke-7–12 Masehi (Departemen
Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia).
- Coedès, George, The Indianized States of
Southeast Asia. University of Hawaii Press. Edited by Walter F Vella
and Translated by Susan Brown Cowing, Australian National University
(1975).
- Elisabeth D Inandiak, https://studybuddhism.com/id/kajian-tingkat-lanjut/sejarah-dan-budaya/agama-buddha-di-asia-tenggara/muara-jambi-tempat-belajar-atisha-di-indonesia
- Slamet Muljana (2006). Sriwijaya.
Yogyakarta: LKiS.
- Serlingpa: The Great Buddhist Master From Sumatra,
Tathagata
Namthar Foundation (2012).
- Wolters, O.W. (1979). Early Indonesian Commerce: A Study of the Origins of Sriwijaya. Cornell University Press.
*Tulisan-tulisan saya lainnya tentang kebudayaan:
1) Menemukan Peradaban Yang Hilang di Muarajambi
2) Mimpi-mimpi Pulau Emas: Cangkang Bagi Budi dan Kecendekiaan
3) Dari Madilog Tan Malaka Sampai Mimpi-Mimpi Pulau Emas
4) Candi Muarojambi Gagal Menjadi Warisan Dunia
5) Merebut Hati dengan Petisi: Selamatkan Candi Muaro Jambi
9) Menyingkap Tabir Sejarah Sabak
10) Urgensi Dewan Kebudayaan Melayu Jambi
12) Pilkada Jambi dan Nyanyian Sunyi Sepanjang Oktober
13) Polemik di Balik Gelar Adat Melayu Jambi
14) Quo Vadis Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi
15) LAM Jambi dan Polemik Plagiasi
16) Apa dan Kenapa MWCF Jambi?
17) Batu Bara sebagai Persoalan Kebudayaan: Sebuah Autokritik
18) Festival Literasi Jambi, Dari Militansi ke Retrospeksi
19) Di Balik Layar Beranda Budaya TVRI Jambi
20) Di Balik Panggung Pemilihan Bujang-Gadis Jambi
21) Mengenal Dr. Fiona Kerlogue dan Batik Jambi
22) Profesor Bill Watson dan Kerinci
23) Quo Vadis Dewan Kesenian Jambi
24) Maryam dan Anugerah Maestro Seni Tradisi
25) Menyoal Warisan Budaya Tak Benda Prov Jambi
26) Quo Vadis Taman Budaya Jambi
27) Jambi TUNTAS Defisit Kebudayaan
28) Melampaui Kekisruhan FIB Universitas Jambi
29) Pilgub Jambi: Pariwisata Tunabudaya
30) Malam Keagungan Melayu Jambi dan Hal-Hal Yang Belum Selesai
31) Jambi EMAS Minus Kebudayaan
32) Urgensi Konferensi Studi Jambi



0 Komentar