| Masjid Gedhe Mataram, Kotagede Yogyakarta |
Jumat pagi langit Yogyakarta berawan cerah (12 Juni 2026). Guratan warna biru berpadu mesra dengan sisa hawa dingin yang menggelayut di pucuk-pucuk pepohonan yang masih tersisa di sepanjang jalan Kota Jogja menuju jalan Mandorakan, Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede. Alam seolah sengaja menciptakan atmosfer yang teduh untuk menyusuri gang-gang sempit Kotagede.
Dengan sepeda motor sewaan yang saya siapkan sehari
sebelumnya, saya membelah jalanan Yogyakarta. Kendaraan roda dua ini sengaja
saya pilih demi memudahkan mobilitas di kota pendidikan ini, sekaligus agar
bisa merasakan langsung sapuan angin pagi sembari mengenang masa-masa saat studi di Yogyakarta dua dekade lalu.
Bagi saya, melangkah ke kawasan ini bukanlah sekadar tamasya
visual untuk mengagumi arsitektur lawas yang masih tersisa. Ini adalah sebuah
ritus kultural-spiritual—sebuah perjalanan ngangsu kawruh (menimba kearifan)
langsung dari jantung sejarah tanah Jawa: Kompleks Pusaka Mataram Islam. Ada
semacam keheningan yang langsung menyergap begitu saya memasuki kawasan yang
menjadi cikal bakal dinasti besar ini. Riuh rendah klakson kendaraan dan
modernitas kota mendadak luruh, digantikan oleh sunyi yang intim.
Gapura Paduraksa
Usai melewati area parkir, langkah saya terhenti sejenak di
halaman depan kompleks Masjid Gedhe dan Makam Raja-Raja Mataram Islam. Di
hadapan saya, berdiri kokoh sebuah gapura megah berbentuk paduraksa (gerbang
beratap) berbahan bata merah yang disusun rapat tanpa semen. Menyentuh
permukaannya yang kasar dan hangat oleh sapuan matahari pagi bagaikan menyentuh
lembaran waktu berabad-abad silam.
Arsitekturnya yang kental dengan nuansa
Hindu-Buddha—mengingatkan pada kemegahan candi-candi di Jawa Timur—berbicara
lantang tanpa kata tentang sebuah masa lalu yang indah.
| Penulis di depan gerbang Paduraksa |
Di sinilah, di bawah naungan sejarah masa lalu, toleransi dan akulturasi budaya bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan jalan hidup yang mewujud nyata dalam bangunan. Mereka tidak meruntuhkan yang lama untuk mendirikan yang baru; mereka merawatnya dalam harmoni.
Setelah membaca papan informasi di sekitar kompleks, ingatan
saya seolah ditarik kembali ke tahun 1587. Di masa itulah, Panembahan Senopati
meletakkan batu pertama pembangunan masjid ini. Sulit dibayangkan bahwa pada
fase awalnya, bangunan ini begitu kecil dan sederhana hingga warga sekitar
hanya menyebutnya sebagai sebuah langgar (mushola).
Begitu melangkah ke dalam serambi, aroma kayu jati kuno yang
khas langsung menyapa indra penciuman—sebuah aroma menenangkan yang tipikal
dari bangunan-bangunan spiritual masa lalu. Di pelataran depan, sebuah parit
atau kolam kecil mengalir mengelilingi tempat salat. Dahulu, di sinilah para
jemaah membasuh kaki, meluruhkan debu duniawi sebelum bersujud menghadap Sang
Pencipta. Berdiri di tepian kolam itu, mendengarkan gemercik air yang berpadu
ritmis dengan semilir angin, ada rasa damai yang menjalar pelan ke dalam dada.
Sebuah jeda yang amat berharga di tengah hidup yang kerap bergerak terlalu
cepat.
Menatap sekeliling bangunan, saya menyadari bahwa tempat ini
adalah saksi bisu dari sebuah proses panjang melalui berbagai fase renovasi
mulai dari masa Sultan Agung (1640-an) yaitu berupa perluasan ruang utama dan
penegasan arsitektur megah, lalu fase Kasunanan Surakarta (Abad ke-18 - 20)
berupa sentuhan estetik dari Solo, termasuk perluasan serambi dan fase
pemulihan pasca-gempa dan kebakaran, hingga pelestarian cagar budaya modern
saat ini.
Keberagaman masa lalu, salah satunya, mewujud nyata di depan
mata saya berupa kontras antara tiang penyangga (soko guru) di bagian dalam
masjid berbahan kayu jati kokoh warisan Sultan Agung, sementara tiang penyangga
di serambi luar berbahan besi warisan Sunan Pakubuwono X dari Surakarta. Sebuah
harmonisasi arsitektur yang tidak saling meniadakan, melainkan saling
menggenapi.
Jumatan di Masjid Gedhe
Jarum jam merayap mendekati pukul dua belas siang. Matahari
tepat berada di puncak kepala ketika bedug bertalu, disusul oleh gema azan
pertama yang mengalun khidmat dari menara masjid. Suasana di sekitar Masjid
Gedhe Mataram mendadak berubah takzim. Jalanan batu yang tadinya sepi, kini
mulai dipenuhi langkah kaki para jemaah yang datang menjemput panggilan ibadah
shalat Jumat.
Di bagian terdalam Masjid Gedhe yang sarat sejarah, di bawah
payung soko guru yang sakral dan tepat di hadapan Mimbar Masjid Gedhe yang merupakan pemberian tokoh Sinuhun Datuk Palembang, saya duduk
bersila bersama jemaah lainnya. Mendengarkan untaian khotbah Jumat yang
mengalun tenang, hati ini rasanya melunak. Di sinilah ruang di mana ego
keduniawian runtuh, menyisakan manusia-manusia yang bersimpuh pasrah di hadapan
Sang Khalik.
Usai shalat Jumat, saya melangkahkan kaki ke arah selatan
masjid, menuju gerbang Makam Raja-Raja Mataram Islam. Di balik dinding-dinding
batu itulah, para pendiri dinasti bersemayam dalam keabadian, seperti Ki Ageng
Pemanahan (Pendiri desa Mataram), Panembahan Senopati (Raja pertama Mataram
Islam), Panembahan Hanyakrawati / Prabu Hanyokrowati (Raja kedua) dan Sultan
Hadiwijaya / Joko Tingkir (Raja Pajang, yang merupakan garis keturunan penting
sebelum Mataram berdiri).
![]() |
| Mimbar Khutbah di Masjid Gedhe tahun 1935. (KITLV) |
| Penulis di depan gerbang utama Makam Raja-raja Mataram |
Makam Kotagede merupakan tempat pemakaman bagi para perintis
dan penguasa awal dinasti Mataram Islam ketika pusat pemerintahannya masih
berada di Kotagede (akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17). Sedangkan Makam
Imogiri dibangun oleh Sultan Agung pada tahun 1632 masehi ketika pusat kerajaan
sudah berpindah ke Kerta (Pleret). Imogiri menjadi makam resmi bagi Sultan
Agung sendiri dan seluruh raja keturunannya hingga saat ini.
Ziarah siang Jumat ini terasa kian istimewa karena saya
tidak sendirian. Saya ditemani oleh Pak Danang beserta istri dan putranya serta
Musnaini, sahabat sesama dari Jambi. Berkat penuturan Pak
Danang, lembar-lembar sejarah Mataram Islam di kawasan ini terbuka lebar,
mengalir menjadi cerita yang memantik keingintahuan saya.
Dari Sendang Seliran Ke Hasta Renggo
Setelah bercakap-cakap dengan petugas Keraton (Abdi Dalem)
di hadapan gerbang utama makam Panembahan Senopati, kami meneruskan langkah
menuju Sendang Seliran, sebuah kompleks pemandian suci yang terletak di sebelah
selatan makam. Konon, sendang ini digali langsung oleh jemari Ki Ageng
Pemanahan dan Panembahan Senopati.
Tempat ini terbagi menjadi dua ruang yang sarat
kesederhanaan: Sendang Putri dan Sendang Kakung. Airnya begitu jernih,
mengalirkan kesegaran alami yang murni. Di dasarnya, tampak ikan-ikan kecil
berenang bebas, termasuk ikan lele putih yang dikeramatkan warga lokal dengan
sebutan Kyai Tombak.
Saya sempat menyendok air sendang yang dingin itu dengan
kedua telapak tangan, lalu membasuhkannya ke wajah.
Mak nyes... Rasa dinginnya seketika mengusir lelah,
mengalirkan kesegaran yang menembus hingga ke relung jiwa. Basuhan air itu menjadi pelengkap bagi perjalanan kultural-spiritual hari
ini—sebuah pembasuh dahaga jiwa yang lelah oleh penatnya dunia.
Langkah kami kemudian berlanjut menuju Kompleks Makam Hasta
Renggo (Hastorenggo), berjarak sekira 50 sampai 100 meter dari komplek Masjid
Gedhe. Meskipun lokasinya berada di area yang sama dengan kompleks makam utama,
Hasta Renggo memiliki garis waktu dan peruntukan yang berbeda.
| Pak Danang dan istri, Musnaini dan penulis di Gerbang Hastarenggo |
Secara etimologi, Hasta berarti tangan atau tempat, dan Renggo berarti dihias atau asri. Secara harfiah, nama ini bermakna "Tempat yang Diperindah." Secara historis, tanah tempat berdirinya Hasta Renggo ini teramat sakral. Dahulu kala, di sinilah tapak jenggala Dalem Ageng tegak berdiri—istana sekaligus kediaman pribadi Panembahan Senopati. Ketika pusat pemerintahan berpindah, area bekas keraton ini dirawat hingga akhirnya pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII (awal abad ke-20), lahan ini dialihfungsikan menjadi pemakaman khusus.
Berbeda dengan makam utama yang berisi para perintis
dinasti, Makam Hasta Renggo diperuntukkan bagi keluarga dekat, putra-putri, dan
kerabat (Sentana Dalem) dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, terutama
keturunan dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII dan VIII. Beberapa putra mahkota
dan pangeran yang mewarnai sejarah modern Yogyakarta bersemayam di sini.
Ziarah di Hasta Renggo mendadak berubah menjadi momen yang
sangat menyentuh emosi ketika kami berjalan di antara nisan-nisan pendahulu Kesultanan Mataram. Di
sinilah, ayahanda dari Pak Danang—sahabat perjalanan saya hari ini—dikebumikan.
Beliau adalah KPH H. Mangunkusuma BA, MBA, seorang tokoh Keraton Yogyakarta
kelahiran 16 Januari 1936. Sosok bersahaja yang dikenal luas sebagai Ketua
Pembina Yayasan Pembangunan Catur Sakti (yang menaungi STKIP Catur Sakti di
Bantul) ini wafat dan dimakamkan di sini pada 22 Februari 2025.
Berdiri di dekat pusara beliau, di antara desau angin kuno
Hasta Renggo, ada rasa haru yang mengambang. Sejarah di tempat ini bukan lagi
sekadar teks usang di buku sekolah, melainkan jalinan kasih, darah, dan rindu
seorang anak kepada ayahnya, serta pengabdian nyata sebuah keluarga pada tanah
kelahirannya.
Perjalanan hari itu kami pungkasi dengan mengunjungi Situs
Watu Guling—batu yang diyakini sebagai singgasana atau tempat pertapaan
Panembahan Senopati—yang letaknya hanya sepelemparan batu dari Hasta Renggo.
Mengamati batu yang bisu itu, lingkaran perjalanan saya hari ini lengkap, penuh
cerita dan hikmah.
Meniti waktu di Kotagede meninggalkan sebuah refleksi mendalam
yang mengetuk kesadaran paling dalam. Tempat ini mengingatkan saya, dan kita
semua, bahwa kebesaran sebuah bangsa sama sekali tidak diukur dari seberapa
megah gedung-gedung pencakar langit yang mereka bangun hari ini, melainkan
seberapa setia generasi berikutnya merawat ingatan, menjahit kembali
robekan-robekan masa lalu, dan dengan penuh takzim menghormati akar sejarah
yang membentuk jati diri mereka.
*Yogyakarta-Jambi, 17 Juni 2026.
*Tulisan-tulisan berikut ini merupakan catatan perjalanan saya di Jogja:
(2) Ada Sesuatu di (dalam) Jogja
(3) Setengah Abad Arena: Perjalanan yang Tidak Mudah
(4) Selalu Ada yang Tersisa dari Jogja: Dari Sorowajan ke Mantijeron
(5) Yang Hilang dari Malioboro
(6) Asa di Jalan Kaliurang Km 12 Jogja
(7) Jogja yang Dirindukan, Jambi Tempat Berpulang
(8) Jogja Terbuat dari Rindu, Pulang dan Angkringan
(9) Cerita dari Desa Tirnonirmolo, Bantul
10) Jejak Bung Karno di Hotel Phoenix Jogja 1946
11) Membaca "Mata Hati" Soekarno
11) Suatu Siang di Rumah Jenderal Soedirman


0 Komentar