Sok Pintar: Mengapa Masih Canggung Membaca Buku di Ruang Publik?

 



Oleh: Jumardi Putra


Any book that helps a child to form a habit of reading, to make reading one of his deep and continuing needs, is good for him


Membawa dan membaca buku di ruang-ruang publik hari ini rupanya masih menuntut keberanian ekstra. Di tengah riuh masyarakat kita yang masih tertatih membangun budaya literasi, sebuah aktivitas yang sejatinya bersahaja ini kerap kali ditangkap oleh khalayak luas di sekeliling dengan kerutan dahi. Membaca—yang seharusnya merayakan keheningan berpikir di tengah keramaian—justru dianggap aneh, mengasingkan diri, atau yang paling menyayat hati: dinilai sekadar pamer dan "sok pintar".

Ada rasa canggung yang mendadak menyeruak tatkala jemari kita menyibak lembaran demi lembaran di atas kursi transportasi umum, di dinginnya ruang tunggu stasiun, atau di bawah naungan pohon taman kota. Saya sendiri tak jarang dihampiri desir canggung yang sama selama bertahun-tahun. Namun, perlahan saya memilih tidak menyerah. Saya melatih diri untuk bertahan, menghalau lirikan heran itu, hingga akhirnya membaca di ruang publik menjadi ruang yang nyaman bagi pikiran saya—baik saat menunggu panggilan penerbangan, menanti ketukan rel kereta, duduk menanti dimulainya rapat kantor, hingga saat berada di ketinggian ribuan kaki di dalam pesawat.

Bahkan, setiap kali mata saya berpapasan dengan orang-orang yang juga memilih mendekap buku di tengah riuhnya fasilitas publik, ada rasa haru. Tak jarang, secara diam-diam saya mengabadikan momen-momen sunyi nan indah itu lewat lensa kamera—sebuah perayaan kecil atas keberanian mereka melintasi batas canggung yang kadung menjadi stigma yang tidak tepat.

Problematika “euh pekeuh” atau perasaan tidak nyaman saat membaca di ruang publik ini berakar mendalam dari stigma sosial dan betapa keringnya tradisi membaca di ruang terbuka negeri ini. Ketika mayoritas jemari sibuk menari tanpa henti di atas layar gawai dan keramaian diisi oleh deru percakapan yang berlalu cepat, hadirnya sebuah buku fisik justru terasa seperti sebuah pementasan asing yang janggal. Si pembaca tidak disapa dengan simpati, melainkan ditatap seolah ia adalah sosok yang "keluar dari irama" hidup sekitarnya.

Dampak dari tatapan asing itu sangat nyata. Begitu banyak penikmat buku yang akhirnya ciut nyali, memilih melipat niatnya, dan memenjarakan aktivitas membacanya rapat-rapat di dalam bilik kamar yang sunyi. Minat baca itu ada, namun ia teraniaya oleh rasa malu untuk tampil di hadapan publik.

Padahal, untuk menyemai masyarakat yang benar-benar literat, membaca tak boleh terus-menerus dikurung dalam kesunyian yang dingin atau diasingkan di balik dinding-dinding kaku perpustakaan kampus, kantor, maupun rak pribadi di rumah. Buku harus menghirup udara yang sama dengan lalu lintas kota. Membaca harus menjelma menjadi bagian dari pemandangan harian yang lumrah, akrab, dan bernapas.

Saya sependapat dengan penulis asal Amerika Serikat, Maya Angelou, yang mengatakan begini:

“Any book that helps a child to form a habit of reading, to make reading one of his deep and continuing needs, is good for him.” (Buku apa pun yang membantu seseorang membentuk kebiasaan membaca, hingga menjadikan membaca sebagai kebutuhan yang dalam dan terus-menerus, adalah berkah baginya.)

Agar membaca di ruang terbuka tak lagi "dicibir" melainkan dirayakan sebagai sebuah kenormalan yang indah, kita membutuhkan ketukan langkah kolektif dari berbagai arah.

Pertama, kesadaran visual adalah kunci utama. Semakin sering mata publik membentur pemandangan orang-orang yang santai membaca di atas bus, di dalam gerbong kereta, atau di sudut kafe, semakin cepat rasa canggung itu lebur. Komunitas literasi dapat menyulut api ini melalui aksi-aksi simpatik seperti gerakan "Membaca Bersama di KRL" atau menggagas Silent Book Club di taman-taman kota secara berkala.

Kedua, pemerintah daerah dan pengelola fasilitas publik tidak boleh alpa. Kehadiran rak buku mini (micro-library) yang terawat di halte, stasiun, hingga ruang tunggu bandara akan mengirimkan pesan implisit bahwa ruang publik kita menghargai pikiran. Meski saat ini rak-rak bacaan sudah mulai terlihat di beberapa tempat seperti stasiun dan bandara, jumlahnya masih sangat terbatas.

Ketiga, kita perlu meredefinisi perpustakaan tidak lagi sebagai "candi kesunyian" yang dingin dan menakutkan, melainkan sebagai ruang sosial yang hangat, bernapas, dan cozy, lengkap dengan bentangan agenda literasi kekinian. Inovasi seperti Pop-up Library di tengah ajang Car Free Day, pasar kaget, hingga festival budaya adalah langkah tepat untuk menyodorkan buku langsung ke pelukan keramaian.

Selanjutnya, para influencer, akademisi, tokoh pemerintahan, hingga penggerak sosial memiliki panggung untuk mengubah persepsi zaman. Lewat unggahan sederhana di media sosial masing-masing, mereka dapat menularkan narasi baru: bahwa duduk membawa buku di tengah kesibukan adalah aktivitas yang keren, rileks, penuh daya tahan, dan sangat relevan dengan keseharian kita.

Pada akhirnya, merengkuh buku di ruang publik bukanlah sebuah panggung eksklusivitas, apalagi ajang untuk menyombongkan isi kepala (kerap distigma sok pintar). Ini salah satu upaya paling tepat dari cara seseorang meluaskan horizon pengetahuan sekaligus mengayakan perspektif atas pelbagai simbol-simbol modernitas yang membentuk peradaban sekarang dengan segala ekses yang ditimbulkannya.


*Kota Jambi, 30 Agustus 2026. Ilustrasi tulisan ini bersumber dari:  instagram/@gwrf.id.

*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:

1) Festival Literasi: Dari Militansi ke Retrospeksi

2) Kartini, Ibu Bumi dan Api Literasi

3) Surat Cinta untuk Pegiat Literasi Jambi

4)  Menyoal Duta Baca Provinsi Jambi, Kerja Apa?

5) Hottong: Toko Buku Tua di Kota Jambi

6) Pengelana Buku Itu Tidak Pernah Pergi, Obituari Nirwan Arsuka

7) Dari Palasari Ke Pasar Kenari: Kisah Berburu Buku

8) Satu Jam di Ruang Ketiga Jalma

9) Menepi di Tebet

10) Generasi Nol Buku

11) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta

12) Rapor Merah Literasi Jambi

13) Komunitas Epistemik dan Kosongnya Kampus Kita

14) Ngadem di Goethe Institut

15) Suatu Siang di Erasmus Huis

16) Merajut Asa di Ruang Belajar Prof H.A.R. Tilaar

17) Ngadem di Freedom Institute Library

18) Arsip Daerah Jambi di ANRI

19) Kerja Arsip Berdekatan dengan Kesepian

20) Pers Jambi (Tanpa) Pusat Dokumentasi

21) Ada Sesuatu di (dalam) Jogja

22) Berburu Buku Lawas di Palembang

23) Selalu Ada yang Tersisa dari Jogja: Dari Sorowajan ke Mantijeron

24) Asa di Jalan Kaliurang Km 12 Jogja

25) Prabowo, sang Bibliofil

26) Sore Bersama Delegasi KITLV Jakarta-Leiden

Posting Komentar

0 Komentar