Kau Mempertanyakan Setiap Hal Sepanjang Waktu, Kecuali Satu Hal Ketika Kau Memilih Pemerintahmu

ilustrasi

Oleh: Jumardi Putra*

Gegara Pilpres 2024, nama aktor film Bollywood, Shah Rukh Khan, ramai dipercakapkan nitizen di tanah air. Secara pria kelahiran 2 November 1965 itu tinggal di India, maka mengkaitkannya dengan situasi politik nasional kiwari boleh dikata tidak masuk akal, kalau bukan gegabah.

Namun, usut punya usut, suami dari Gauri Khan itu kerap dicatut namanya oleh warganet belakangan ini lantaran potongan scene film yang dibintangi Shah Rukh Khan berjudul Jawan dikait-kaitkan dengan Pemilu 2024. Bahkan portal berita online mulai dari media mainstream sampai media sosial ramai dilintasi video berdurasi 2 menit 30 detik itu. Begitulah realitas politik di era virtual, segala hal bisa saja digunakan sejauh menunjang kepentingan. Apa pun bentuk dan jenisnya, asal bisa viral. 

Adegan Shah Rukh Khan dalam film Jawan

Saya bukan termasuk penggila film-film Bollywood, tapi urusan satu ini membuat saya ingin tahu lebih jauh isi pesan yang termuat di dalam penggalan film bergenre action dan thriller itu. Mungkin saja berguna sebagai bahan refleksi kita bersama, sekalipun sulit menyangkal bahwa situasi politik India jelas berbeda dengan Indonesia.

Berikut isi dari penggalan video Shah Rukh Khan dalam film Jawan yang sudah tayang sejak 7 September 2023:

Kau mempertanyakan setiap hal sepanjang waktu, kecuali satu hal

Ketika kau memilih pemerintahmu.

Lima jam! Kau banyak bertanya tentang obat nyamuk yang tahan selama lima jam.

Apakah asapnya terlalu banyak, atau baunya tidak enak, apakah akan membunuh nyamuk?

Tapi ketika kau memilih pemerintahan untuk lima tahun, kau tidak bertanya, tidak bertanya sama sekali.

Dan itulah mengapa, permintaanku adalah mempertanyakan pilihanmu.

 

Jangan memilih karena ketakutan, imbalan, atau kasta, agama atau komunitas.

Pertanyakan orang-orang yang mencari suaramu.

Tanyakan apa yang akan mereka lakukan dalam lima tahun ke depan.

Bagaimana dengan pendidikan anakku?

Bagaimana mereka membantuku dalam mendapatkan pekerjaan?

Jika aku jatuh sakit, apa yang terjadi pada keluargaku?

Bagaimana mereka akan memajukan negara kita dalam lima tahun ke depan?

Tanyakan, sebelum kau memilih.

Jari yang kau gunakan untuk memilih, arahkan pada mereka dan ajukan pertanyaan.

Jika kau melakukan itu, sistem kesehatan kita akan membaik.

Untuk membantu petani miskin, kau tidak memerlukan Vikram Rathore atau Azad.

Karena suaramu sudah cukup.

Kau memiliki kekuatan di ujung jarimu.

Tahu siapa yang akan mendapatkan kebebasan jika kau memenuhi permintaanku?

Kau, kau, kau, kalian semua.

Bebas dari kemiskinan, bebas dari ketidakadilan, bebas dari korupsi.

Lain Shah Rukh Khan di film Jawan, lain pula si “Burung Merak” penyair W.S. Rendra melalui ketangkasannya meracik kata-kata sekaligus telah mewakafkan seluruh hidupnya di lapangan kebudayaan. Saya teringat puisinya berjudul Sajak Pertemuan Mahasiswa, yang ditulis di jaman Orde Baru, Jakarta 1 Desember 1977, sebuah puisi yang secara tegas mengingatkan siapa saja, terutama orang-orang yang berada di tampuk kekuasaan, yang kerapkali mengatakan  “kami adalah maksud baik”. Maka, dengan lantang  W.S Rendra bertanya balik (kalau bukan menggugat), maksud baik Anda untuk siapa?

Berikut saya sertakan puisi Sajak Pertemuan Mahasiswa di sini:

Matahari terbit pagi ini
Mencium bau kencing orok di kaki langit
Melihat kaki coklat menjalar ke lautan
Dan mendengar dengung lebah di dalam hutan,

Lalu kini ia dua penggalah tingginya
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini memeriksa keadaan
Kita bertanya:
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga

Orang berkata “Kami adalah maksud baik”
Dan kita bertanya: ”Maksud baik untuk siapa?”

Ya! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka
Ada yang duduk, ada yang diduduki
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras

Dan kita di sini bertanya:
“Maksud baik saudara untuk siapa?”
“Saudara berdiri di pihak yang mana?”
Kenapa maksud baik dilakukan
Tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota
Perkebunan yang luas
Hanya menguntungkan segolongan kecil saja

Alat-alat kemajuan yang diimpor
Tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya
Tentu kita bertanya: “Lantas maksud baik saudara untuk siapa?”

Sekarang matahari, semakin tinggi
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya:
Kita ini dididik untuk memihak yang mana?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
Akan menjadi alat pembebasan
Ataukah alat penindasan?

Sebentar lagi matahari akan tenggelam
Malam akan tiba. Cicak-cicak berbunyi di tembok
Dan rembulan akan berlayar
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
Akan hidup di dalam bermimpi
Akan tumbuh di kebon belakang

Dan esok hari matahari akan terbit kembali
Sementara hari baru menjelma
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan
Atau masuk ke sungai menjadi ombak di samodra

Di bawah matahari ini kita bertanya:
Ada yang menangis, ada yang mendera
Ada yang habis, ada yang mengikis
Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana!

*Kota Jambi, 19 Desember 2023.

Tulisan saya lainnya berikut ini:

1) Di Balik Politik "Wani Piro"

2) Berpolitik Secukupnya, Berkawan Selamanya

3) Pilpres 2024: Maklumat Kebudayaan

4) Suatu Pagi Setelah 25 Tahun Reformasi

5) Sihir Rocky Gerung dan Paradoks Masyarakat Digital

6) Senyum Caleg Kegembiraan Kita Semua

7) Pohon-Pohon di Balik Pesta Demokrasi

8) Politik Identitas dan Sampah Politik

9) NU Jambi, Politik Kekuasaan dan Kemaslahatan Umat

10) May Day, Unjuk Rasa dan Protes Dengan Humor

11) Negeri Ini Tidak Kekurangan Calon Presiden, Tapi

12) Lisanul Hal, Kisah Teladan Kepemimpinan

13) Demokrasi Bukan Dekorasi

14) Demokrasi dan Krisis Kepemimpinan

15) Caleg Gila, Potret Buram Demokrasi

0 Komentar