![]() |
| ilustrasi. sumber: kompas.id/heryunanto |
Oleh: Jumardi Putra
Ketika kemewahan dipertontonkan di tengah krisis, maka ia bukan lagi sekadar urusan pribadi, melainkan pengkhianatan terhadap nilai pengabdian itu sendiri.
Beluma lama ini, media sosial kita riuh dengan sorotan tajam
terhadap gaya hidup para pejabat di lingkaran inti Presiden Prabowo Subianto.
Salah satu yang paling memicu perhatian publik adalah perayaan ulang tahun
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang berlangsung di sebuah hotel
mewah di Paris. Kritik ini bukan sekadar urusan personal, melainkan manifestasi
dari kegelisahan kolektif masyarakat terhadap semakin lebarnya jurang antara
kehidupan elite dan rakyat di akar rumput. Sebenarnya, sebelum sosok Teddy, tidak
sedikit perilaku personal pejabat di negeri ini yang bermewah-mewahan—terlebih
lagi menggunakan fasilitas negara--yang membuat kita miris.
Dalam diskursus politik, perilaku pejabat publik tidak
pernah berada di ruang hampa. Sosiolog dan ekonom Thorstein Veblen dalam teorinya mengenai
Conspicuous Consumption (konsumsi mencolok) menjelaskan bahwa penggunaan barang
atau layanan mewah sering kali dilakukan bukan karena kegunaan fungsionalnya,
melainkan sebagai alat untuk menunjukkan status sosial dan kekuasaan. Di tengah
kondisi ekonomi warga di akar rumput yang masih tertatih akibat fluktuasi harga
kebutuhan pokok serta lapangan kerja sulit, pamer kemewahan di luar
negeri—meski dalam rangka tugas negara—menjadi simbol yang melukai rasa
keadilan sosial.
Saya bisa memahami kemunculan kritik terhadap elit di
republik ini, karena adanya kontras yang tajam. Di satu sisi, Presiden Prabowo
dalam berbagai pidatonya konsisten menyerukan agar para pembantunya memiliki
sense of crisis dan hidup sederhana. Begitu juga seruannya agar melakukan
efisiensi menyusul defisit sumber penerimaan negara di tengah kondisi
geopolitik yang tak menentu. Namun, di sisi lain, simbol-simbol kemewahan yang
ditampilkan oleh orang terdekatnya justru mengirimkan pesan sebaliknya.
Secara teoritis, ini erat kaitannya dengan konsep Integritas
Publik. Menurut ahli etika publik Dennis F. Thompson, pejabat negara memiliki
"kewajiban etis untuk tampil pantas" (the appearance of impropriety).
Maksudnya, seorang pejabat tidak hanya harus bersih dari korupsi secara hukum,
tetapi juga harus menjaga agar perilakunya tidak menimbulkan persepsi negatif
atau ketidakpercayaan publik (distrust). Perayaan di hotel bintang lima di
jantung Eropa, dipublis di kanal media sosial pula--bagaimanapun alasannya---secara
visual sulit untuk dijustifikasi sebagai bentuk kesederhanaan.
Ketimpangan ini semakin sensitif ketika data LHKPN pejabat
tersebut dibuka ke publik. Kekayaan yang mencapai angka puluhan miliar rupiah
sah-sah saja dimiliki, namun gaya hidup yang "dipamerkan" melalui
media sosial di tengah masa krisis adalah blunder komunikasi politik yang
fatal. Pejabat publik seharusnya menjadi role model dalam solidaritas sosial,
bukan justru menjadi pemicu kecemburuan sosial yang bisa berakibat fatal dalam
rangka menjaga stabilitas nasional.
Kritik masif yang dialami Seskab Teddy dan lingkaran istana
harus dimaknai sebagai alarm bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Publik saat ini memiliki alat kontrol yang sangat kuat melalui media sosial.
Sulit menyangkal bahwa pejabat publik kini berada di bawah pengawasan 24 jam
oleh mata rakyat yang tak kasatmata.
Belajar pada yang sudah-sudah, ke depan pemerintah perlu
menetapkan standar etika yang lebih ketat bagi perilaku personal pejabat yang
melekat pada simbol negara. Tanpa adanya sinkronisasi antara retorika
kesederhanaan dan realitas gaya hidup, kepercayaan publik (public trust) akan
terus tergerus. Pejabat publik harus menyadari bahwa di pundak mereka tidak
hanya ada tugas administratif, tetapi juga beban moral untuk tetap membumi di
tengah rakyat yang mereka layani. Barangkali pesan tokoh Mahatma Gandhi berikut ini
relevan kita renungi bersama bahwa "Kesederhanaan adalah ornamen paling
indah bagi seorang penguasa.".
*Kota Jambi, 19 April 2026.
*Tulisan-tulisan saya lainnya di link berikut ini:
1) Hidup Sederhana yang Tidak Sederhana
3) Yang Pandai Cari Muka Yang Jadi Pemenang
7) Besak Ota
8) Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau
9) Tambah Berisi, Tunduk Ke Bawah
10) Surat Terakhir untuk Mama: Luka di Pelosok Negeri
11) Kehidupan Ini Tak Bisa Kita Biarkan Penuh dengan Ratapan
12) Melipat Waktu di Antara Langit dan Rel Kereta
13) Menapak Senja di Ujung Jabung
14) Sepotong Hati di Restoran Hotel Suatu Pagi
15) Belajar dari Kegagalan J.K. Rowling
16) Langkah Kaki Haruki Murakami
19) Rektor dan Kepemimpinan Intelektual: Sebuah Autokritik
20) Gundah Bersama Seorang Guru Besar
23) Guru Posting Berdiri, Murid Update Berlari


0 Komentar